Saturday, October 18, 2008

Sejarah Bromo dan Asal-usul Suku Tengger

Selain melihat keindahan alam Gunung Bromo, cobalah jalan-jalan di desa-desa sekitarnya, perhatikan ciri fisik penduduknya. Mereka umumnya berwajah relatif flat dengan mata yang agak sipit dan berkulit coklat. Mereka itulah Suku Tengger. Penduduk asli Bromo.

Pekerjaan mereka umumnya adalah bercocok tanam sayuran dan palawija. Lihatlah di lereng-lereng Bromo. Dengan rajinnya mereka mengolah tanahnya. Hawa dingin tak membuat mereka bermalas-malas untuk tidur. 

Ada banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dikaitkan dengan adat dan kepercayaan, arti tengger adalah tengering budi luhur. Artinya tanda bahwa warganya memiliki budi luhur. Makna lainnya adalah: daerah pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Ada pula pengaitan tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger.

Sejarah umum menyatakan orang Tengger sesungguhnya adalah pelarian dari Majapahit sewaktu Sultan Agung menguasai Mataram. Mereka memeluk agama perpaduan dari Hindu Budha, namun mereka mengidentifikasikan agama mereka sebagai agama Hindu. Hindu mereka berbeda dengan Hindu Bali karena mereka tidak menganut sistem kasta.  

Orang Tengger mengenal upacara ritual Kesada yang berlangsung pada hari ke-15 bulan terakhir (bulan kedua belas) menurut kalender tahunan Tengger. Pada tengah malam sampai dini hari ribuan orang Tengger berdoa di Pura Poten di lautan pasir di kaki Gunung Bromo.

Kalau kita datang saat Kesada, kita lihat 28 dukun duduk berdampingan di dasar gunung untuk berdoa pada penguasa gunung. Mereka mempersembahkan sesaji berupa hasil bumi, nasi, daging maupun uang. Mereka meriwayatkan kisah Joko Seger dan Rara Anteng yang diyakini sebagai nenek moyang. Selanjutnya warga Tengger naik ke bagian utara dari puncak gunung bromo ke arah kawah. Mereka melemparkan persembahan ke kawah.  

Hikayat Rara Anteng dan Jaka Seger

Menurut e-Book Alpha Savitri, yang bersumber juga dari Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa, penulis buku Masyarakat Tengger, Latar Belakang Daerah Taman Nasional Bromo, Suku Tengger yang beragama Hindu hidup di wilayah Gunung Bromo, Jawa Timur. Ada banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dikaitkan dengan adat dan kepercayaan, arti tengger adalah tengering budi luhur. Artinya tanda bahwa warganya memiliki budi luhur. Makna lainnya adalah: daerah pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Ada pula pengaitan tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger.

Alkisah, pada zaman dahulu, ada seorang putri Raja Brawijaya dengan Permaisuri Kerajaan Majapahit. Namanya Rara Anteng. Karena situasi kerajaan memburuk, Rara Anteng mencari tempat hidup yang lebih aman. Ia dan para punggawanya pergi ke Pegunungan Tengger. Di Desa Krajan, ia singgah satu windu, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pananjakan. Ia menetap di Pananjakan dan mulai bercocok tanam. Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Bromo.

Sementara itu, Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit. Joko Seger, putra seorang brahmana, mengasingkan diri ke Desa Kedawung sambil mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo. Di desa ini, Joko Seger mendapatkan informasi adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai Pananjakan.

Joko Seger tersesat dan bertemu Rara Anteng yang segera mengajaknya ke kediamannya. Sesampai di kediamannya, Rara Anteng dituduh telah berbuat serong dengan Joko Seger oleh para pinisepuhnya. Joko Seger membela Rara Anteng dan menyatakan hal itu tidak benar, kemudian melamar gadis itu. Lamaran diterima. Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka.

Sewindu sudah perkawinan itu namun tak juga mereka dikaruniai anak. Mereka bertapa 6 tahun dan setiap tahun berganti arah. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Rara Anteng dan Joko Seger. Ada pawisik mereka akan dikaruniai anak, namun anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo.

Pasangan ini dikarunia 25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat sedikit. Putra terakhir bernama R Kusuma.

Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Suami istri itu tak rela mengorbankan anak bungsu mereka. R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. R Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara R Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi. Cerita lain menunjukkan saudara-saudara R Kusuma menjadi penjaga tempat-tempat lain.

Kini upacara itu terkenal dengan nama Kesada. Pada upacara Kesada, dukun selalu meriwayatkan kisah Joko Seger – Rara Anteng. 


No comments: