Wednesday, June 15, 2011

Asal-usul Orang Tanah Lamaholot, NTT

KALIKE AI MATAN. Bukan saja pantainya berbatu-batu. Wilayah daratan sekitar pantai itu juga dipenuhi batu. Hampir setiap ruas lahan yang ada dijejali batu. Karena itu, sesungguhnya Kalike Ai Matan bukanlah tempat ideal untuk hidup bertani. Maka, setelah resmi menjadi suami isteri, Kopong Lanang Kideng dan Inawae Watorita memilih berdiam di kawasan pegunungan. Di sanalah mereka hidup bercocok tanam dan berburu. Di sana pulalah lahir anak-anak mereka. Tujuh anak laki-laki lahir dari pasangan ini dan beberapa anak perempuan. Mereka bertumbuh dan besar di kawasan pegunungan itu hingga membentuk keluarga masing-masing.

Sebagaimana tradisi Lamaholot purba yang jejaknya masih dijumpai di sejumlah perkampungan adat, sebuah keluarga membentuk riang-wetak (perkampungan kecil) masing-masing. Anak-anak yang menikah, membangun rumah tinggal di sekitar rumah kedua orangtua mereka. Mereka terikat dalam satu kebersamaan nan liat dalam segala hal. Demikian pun keluarga Kopong Lanang Kideng-Inawae Watorita. Pada suatu ketika mereka menggelar upacara adat rekang wuung (makan bersama hasil kebun yang baru dipanen). Pada upacara itu, para isteri dari ke-7 anak lelaki Kopong Lanang Kideng dan Inawae Watorita tidak sehati. Mereka saling berbantah dan akhirnya menimbulkan bentrokan di antara para suami. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai, kakang sidak arin peak. Maka berpisahlah ke-7 anak laki-laki Kopong Lanang Kideng ke berbagai tempat.

Anak sulung bersama seorang saudaranya tetap tinggal di Lamagohang menjaga kampung induk (ri’e puken, aran inan). Lima lainnya menyebar ke Pamakayo, Ongalereng, Karawatung, Lewotanaole, dan bungsu ke Lewokung (Mokantarak). Anak bungsu inilah yang pergi dengan membawa serta pisau ayahnya (mer’e) yang dulu dipakai untuk mencukur bulu-bulu badan ibu mereka. Dia juga membawa bulu-bulu badan dan kuku ibu mereka. Menurut tetua adat Lamaherin di Lewokung antara lain, Suban Koten, Lado Kelen dan Roi Kelen, peninggalan leluhur itu sudah hangus terbakar bersamaan dengan kasus kebakaran besar yang melanda kampung lama Lewokung puluhan tahun silam.

Persebaran anak-anak Kopong Lanang Kideng lebih banyak ke arah utara bisa dimaklumi dari sisi geografis. Tempat tinggal mereka di sekitar puncak gunung Pati Arakian-Wege Peniama (Ile Lamagohang) memang berbatasan langsung dengan Ile Pamakayo dan Ile Ongalereng. Dari puncak gunung tersebut mereka bisa melihat pulau Adonara dan Flores di utara. Sedangkan pandangan ke arah selatan hanya berbenturan dengan Laut Sawu yang membentang luas di sana.

Anak keturunan dua bersaudara di Lamagohang kini menyebar di Lewolo (Kalike Ai Matan), Lemanu dan Kenere. Leluhur di Pamakayo melahirkan juga suku Lamaherin di desa Kalelu, Solor Barat. Leluhur Ongalereng melahirkan suku Lamaherin di Desa Bama (Demon Pagong) dan beberapa desa di kawasan Wotan Ulumado seperti Basarani dan Kewuko (Desa Nayubaya) dan Oyangbarang. Sementara leluhur di Karawatung juga melahirkan keturunan hingga ke sejumlah desa di wilayah Wotanulumado seperti di desa Bliko, Wailebe dan Oyangbarang.

Saya lahir dan besar dalam keluarga Lamaherin Pamakayo. Menurut tetua adat Lamaherin Pamakayo, Antonius Ramatama Herin, yang juga paman kandung saya, suku Lamaherin di Pamakayo dilahirkan oleh putra Kopong Lanang Kideng-Inawae Watorita bernama Salangkati Peniama. Dia kemudian melahirkan keturunan sampai ke Lakanduli dan turun ke Lamaurin. Lamaurin menikahi dua perempuan. Isteri pertama Olaina Kolin, tidak memberikannya keturunan. Dia lalu menikah lagi dengan Leina Kein (Kabelen Kelen).

Dari isteri kedua inilah lahir putra tunggal, Subaraya Wolowutun. Subaraya menikah dengan Bota Kein (Ama Koten) melahirkan dua anak laki-laki. Sulung bernama Lamaurin, meninggal pada usia muda saat wabah kolera tahun 1918, dan si bungsu, Soda. Mereka memiliki beberapa saudari. Mukosina Herin menikah dengan Bolo Lewar, Gersia Herin menikah dengan orang Kotawutun Larantuka dan tidak punya keturunan. Leina Herin menikah dengan Buang Lewar, dan Beto Herin menikah dengan Padu Lewar.

Soda Herin yang menikah dengan Roma Kein (Ama Koten) melahirkan empat anak laki-laki yakni Subaraya (menikah dengan Welin Meman dari Kalelu), Meo Herin (menikah dengan Jedo Kein), Lebe Herin (menikah dengan Ipa Kein) dan Atoni Herin (menikah dengan Romatina Kein). Ada dua anak perempuan juga lahir dari pasangan Soda-Roma. Yakni Bota Herin (menikah dengan Siu Lewar Maran) dan Gelu Herin (menikah dengan Belelen Lewar Hurit). Perkawinan Lebe Herin dan Ipa Kein inilah yang kemudian menurunkan saya dan enam saudara lain. Entah sudah berapa garis generasi yang sudah tercipta sampai ke generasi kami.

Kembali ke cerita tentang Salangkati Peniama. Mula-mula Salangkati Peniama dan keluarganya menetap di atas puncak gunung –tempat yang kemudian dikenal dengan nama wuto (gunung) Lamaherin. Hanya ada dua wuto di Pamakayo, yang satu milik suku Lamaherin dan yang satu lagi milik suku Lamalewa ile jadi. Setelah beberapa lama di tinggal di wuto Lamaherin, mereka kemudian pindah dan membuat kampung di kawasan lembah, Naraebang. Di sini mereka mengolah lahan, berkebun, berburu dan beranak-pinak.

Leluhur Lamaherin Pamakayo, Lakanduli, kemungkinan lahir di tempat ini. Nama Lakanduli, secara harafiah bisa berarti menguasai kawasan lembah. Lakan: tidak mau memberi. Duli, artinya lembah. Dugaan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa di kawasan lembah (duli) Pamakayo, hanya ada perkampungan (nuba nara) suku Lamaherin. Perkampungan suku Lamalewa sebagai suku ile jadi, berada di bagian atas gunung (wolo).

Entah berapa generasi mereka mendiami perkampungan di Naraebang ini. Tidak ada tutur sejarah yang jelas. Setelah dari tempat ini, mereka berpindah ke arah wolo, ke sebuah tempat yang kini dikenal dengan nama Bao Lamaherin. Di sini mereka membuat perkampungan dan menanam nuba nara. Bao Lamaherin, kini menjadi salah satu duang gelaran (hutan keramat), selain nome (duang gelaran milik suku Lamalewa). Dari Bao`Lamaherin inilah, leluhur suku Lamaherin perlahan turun ke arah pantai dan mendiami kampung Pamakayo (lewo pama lama diken, tana lewa lama dopen) hingga saat ini.

Ada satu peristiwa sejarah penting yang terjadi saat Salangkati Peniama mulai mendiami wilayah Pamakayo. Peristiwa ini harus dicatat di sini untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang sejarah lewotanah Pamakayo. Konon suatu hari Salangkati Peniama dan anak-anaknya pergi berburu. Mereka berjalan cukup jauh sampai ke sekitar Ile Wato Emi. Ketika tiba di sebuah rumpun bambu, salah seekor anjingnya mengonggong tiada henti mengelilingi rumpun bambu tersebut. Dia heran karena tidak melihat seekor binatang buruan pun. Salangkati Peniama yang penasaran menghunus pedangnya hendak menebas bambu tersebut. Saat itu terdengarlah suara dari dalam bambu, “Belo bo lali doang, dekang bo teti lela. Ake me teka goe.” (Potonglah jauh ke bawah, tebaslah jauh ke atas. Jangan sampai mengenai saya).

Salangkati Peniama pun menaati permintaan tersebut. Ia memotong bambu dari mana terdengar suara tersebut agak ke bawah, dan menebas jauh di atas. Ketika bambu telah terpotong, keluarlah seorang manusia. Kepada Salangkati Peniama ”manusia bambu” itu memperkenalkan diri sebagai Kopong Nepa Dawanama, Uhe Lapo Gowingnama. Manusia bambu ini, setelah menikahi salah seorang gadis Lamaherin, kemudian melahirkan anak keturunan suku Lamalewa (Lewar Maran). Merekalah manusia ile jadi dan tuan tanah Pamakayo –yang dalam perjalanan sejarah posisi tuan tanah kemudian berpindah ke Lamakei Ama Koten.

Ada juga cerita lain tentang Inawae Watorita. Ketika menikah di Lamagohang, suku Wokal sudah meminta belisnya. Karena menurut mereka, Inawae Watorita adalah anak Pati Arakian-Wege Peniama. Karena itu Kopong Lanang Kideng membayar belis kepada suku Wokal. Tapi ketika anak pasangan ini, Salangkati Peniama, datang dan menetap di wilayah desa Pamakayo, datang lagi gugatan adat dari suku lain. Kabelen (pembesar) kampung Lewonama waktu itu, Raya Kuda Belang-Tuang Blawa Burak mengaku bahwa Inawae Watorita-Watorita Welenaru adalah saudari mereka. Karena itu dia berhak meminta belis dari anak keturunan Kopong Lanang Kideng dan Inawae Watorita.
Kabelen Lewonama ini pun meminta belis berupa gading yang harus disusun dari rumah suku
Lamaherin ke kediaman sang pembesar yang kini harus dihadapi sebagai ina ama- baelake. Kendati berstatus sebagai pendatang sekaligus ana-opu, suku Lamaherin pun meminta balasan belis (ohe) berupa ketipa (kain tenun sutera) yang harus disusun dari rumah kabelen Lewonama menuju rumah suku Lamaherin. Setelah kedua belah pihak sepakat (koda geto), maka upacara penyerahan belis pun dilakukan. Pihak ana-opu membayar belis sesuai tuntutan, tetapi ohe yang diterima tidak sesuai. Kabelen Lewonama dari Suku Lion ini lalu membayar kekurangan tersebut dengan menyerahkan tanah satu etang (hamparan seluas kira-kira satu sisi gunung) nun jauh di atas pegunungan. ”Dia bilang begini: Go soron tana metang, ekan punang. Gong heke lau kelu lau mai, menung sadik lau kung lango latan.” Sayang sekali, anak keturunan Lamaherin di Pamakayo saat ini tidak ada yang tahu di mana etang itu berada, di mana pula batas-batasnya.

Dengan demikian, Inawae Watorita dibelis dua kali. Kopong Lanang Kideng membayar belis kepada suku Wokal di Lamagohang. Sedangkan anaknya Salangkati Peniama, harus membayar belis mamanya kepada suku Lamalio di Lewonama. Entahlah, apakah Inawae Watorita itu suku Wokal atau Suku Lion, bukan masalah bagi anak-anak suku Lamaherin Pamakayo. Bagi mereka, yang lebih penting adalah belis bagi mama yang telah melahirkan mereka semua itu telah lunas terbayar oleh leluhur mereka.

Demikianlah! Suku Lamaherin yang kini tersebar di sejumlah desa di tanah Lamaholot sesungguhnya berasal dari satu ayah dan ibu, Kopong Lanang Kideng dan Inawae Watorita. Mereka berpisah dan memilih kampung masing-masing karena peristiwa kakang sidak, aring peak saat upacara rekan wuung di gunung Ile Pati Arakian-Woka Wege Peniama! (dari blog yoseph lagadoni herin)

Asal-usul Keluarga Lagadoni di NTT

Salah satu garis keluarga di NTT dikenal dengan sebutan Lagadoni. Bagaimana asal-usulnya? Berikut ini artikelnya.

PATER PAUL ARDNT SVD dalam buku ‘Demon dan Paji’ mencatat penuturan sejarah tanah ekan (dunia) dan lewotanah (kampung halaman) sejumlah wilayah adat Lamaholot. Satu hal yang dicatat adalah tentang Lagadoni. Sebagian wilayah adat Lamaholot mengaitkan nama itu dengan Lera Wulan (matahari-bulan: Tuhan di langit).

Lagadoni adalah nama lain dari Lera Wulan itu sendiri. Karena itu, Hasan Lewotan, salah seorang petutur sejarah yang mengaku keturunan Lagadoni dari Ile Napo Solor, mengatakan, kehadiran Lagadoni mendahului tanah ekan. Dia datang sebelum bumi ini ada.

Hasan Lewotan mengaku mendapat penuturan itu dari nuren-nedang (mimpi). Saat tanah tawa ekan gere (dunia menjadi) yang terjadi bersamaan dengan buta mete-walang mara (air bah mengering), Lagadoni hadir dan bermukim di Ile Napo. Kepercayaan ini dikuatkan dengan ungkapan: Raya Lagadoni Tuan Doni Dua Dayong, tobo rae Napo ebang, pae rae Napo baring. Di sanalah dia memperisteri perempuan ile jadi, Ema Peni Utan Lolon, Lolon Lepan Wuan Ehan.
Lagadoni seorang petualang. Dia berburu dan berdagang keliling ke semua wilayah Lamaholot. Menurut Hasan Lewotan, ke manapun dia pergi dan menyinggahi sebuah wilayah, maka dia pasti mananam nuba-nara-nya (nuba raya lagadoni, nara au nara bala). Karena itu, dia juga pasti meninggalkan sejarah di tempat itu. Tidaklah heran kalau nama Lagadoni kemudian dikenal luas di wilayah berkultur Lamaholot. Hasan Lewotan meyakinkan cerita ini dengan ungkapan: nae jadi naan wekan lewo, nae balik naan dewa tana (dia beranak pinak untuk dibagi ke semua kampung).
Cukup banyak suku atau kelompok masyarakat memiliki kenangan tersendiri tentang nama ini. Ada yang mengaitkan nama ini dengan kisah-kisah mistis yang berhubungan asal mula kehidupan di tanah Lamaholot, ada pula yang menyimpan kisah Lagadoni dalam kaitannya dengan ceritera kepahlawanan. Atau tentang seorang kabelen raya (penguasa) yang bijak bestari.
Lalu, siapa dan dari manakah nama Lagadoni yang kini melekat dalam diriku? Bagi suku Lamakei (Kabelen Kelen) di Pamakayo, kisah tentang Lagadoni justru merupakan kisah utama dalam cerita asal-usul (tutu maring usu-asa). Hal ini lantaran tokoh legendaris yang biasa disapa Raya Lagadoni—Tuan Doni Dua Dayong ini adalah leluhur pertama mereka. Menurut Aloysius Tome Kein—om kandung saya—Lagadoni adalah pendatang dari negeri seberang.
Ia mengisahkan, Lagadoni datang dari suatu tempat yang disebut Timu Matan Lera Gere. Secara harafiah, dapat diterjemahkan sebagai suatu negeri nun jauh di wilayah timur tempat terbitnya matahari. Lagadoni pergi meninggalkan kampung halamannya di Timu Matan Lera Gere karena ada peristiwa besar. Negeri di timur itu dilanda banjir bandang atau air bah yang dahsyat. Dalam ungkapan Tome Kein, ada peristiwa mae hae, belebo-lebo. Lagadoni datang bersama seorang saudaranya Pati Lanang. Dalam perjalanan itu, tempat pertama yang mereka singgahi adalah Ile Napo. Mereka tinggal sekitar wilayah yang sekarang dikenal dengan kampung lama Apelame.
Entah, berapa lama mereka mendiami kawasan Ile Napo. Setelah menanam nuba-nara, mereka lalu bergerak ke arah barat dan sampai di Nuhalolon (sekarang desa Nusadani) di tempat yang disebut Hu Lema Mayang—Mayang Lama Nole. Di sini mereka bertemu dengan Beang Korosani dan Me’ang Mata Laka. Pati Lanang memutuskan untuk menetap di tempat itu, sementara Lagadoni merasa belum saatnya untuk menetap. Dia kemudian melanjutkan pengembaraannya ke sejumlah daerah. Di antaranya ke wilayah Adonara, Ile Labalekan di Lembata, Tanjung Bunga, Demon Pagong, Ile Mandiri dan lain-lain.
”Waktu itu, di Larantuka, Pati Golo Arakiang sudah menjadi raja. Lagadoni pun berkunjung ke Larantuka dan bertemu dengan Raja Pati Golo Arakiang. Dia tinggal cukup lama di Larantuka. Bahkan sempat mendapat kepercayaan raja untuk menjalankan beberapa tugas penting,” tutur Tome Kein.
Salah satu tugas penting yang pernah dipercayakan pihak istana Raja Larantuka kepada Lagadoni adalah mendamaikan peperangan antara Igo dan Enga. Tugas itu dirasa sangat berat, karena itu Lagadoni kembali ke Pamakayo untuk mencari bala bantuan dari seorang pendekar yang disegani dari Suku Lewar, Senoda Waione. Senoda Waione bersedia pergi, tapi tidak bisa mendayung perahu. Lagadoni pun mencari orang yang tangkas mendayung perahu. Dia menemukan Koli Atadore dari suku Lamakoli yang sanggup menjalankan tugas tersebut.
Setelah berunding, Senoda Waione dan Koli Atadore merasa tugas tersebut terlalu berat bagi mereka berdua. Mereka ragu-ragu untuk berangkat. Tetapi Lagadoni memberi jaminan bahwa mereka tidak sendirian. Dia akan berangkat lebih dahulu dan menggunakan kemampuannya untuk membuat orang-orang yang sedang berperang menjadi bodoh.
Maka berangkatlah Lagadoni ke Larantuka untuk menjalankan misinya membuat para pihak yang sedang berperang menjadi bodoh. Kemudian Senoda Waione dan Koli Atadore pun menyusul. Ketika tiba di Larantuka, Senoda Waione masih sempat menggunakan kesaktiannya untuk menaklukan pihak-pihak yang sedang berperang.
Setelah perang usai, Senoda Waione dan Koli Atadore pun pamit pulang ke Pamakayo. Sebagai tanda terima kasih, Raja Larantuka memberi sebuah nuba. Keduanya pulang ke Pamakayo dan menyerahkan nuba itu kepada Lagadoni. Nuba itu ditanam di Wai Ainuba—sebelah timur Pamakayo. Tetapi nuba itu hilang ketika pemerintah membangun Rumah Sakit pertama di Pamakayo. Konon, yang memindahkan nuba itu dari tempatnya semula adalah kakek Lagadoni –nama yang kemudian turun ke dalam diri saya.
Lagadoni kemudian pergi ke Nuhalolong, di Hu Lema Mayang untuk menengok saudaranya Pati Lanang. Ternyata Pati Lanang dan anak cucunya sudah diusir oleh Bela (pembesar) Abong. Perlakuan Bela Abong membuat Lagadoni marah. Lagadoni kembali ke Pamakayo dan mengusir Kabelen Kelen Pamakayo, Raja Masanbali dan seluruh keluarganya.
Anton Lagadoni Kein, sepupu kandung saya, pernah menceritakan semboyan Lagadoni dalam berkelana menaklukan wilayah-wilayah: “goe Lagadoni, laga kiwan-laga watan, laga Demon-laga Paji. Doen goe beliwan, dahe goe atadiken. Tubak elen, bom betu.” (Saya Lagadoni, bertempur di gunung dan di pantai, di daerah Demon maupun di daerah Paji. Jauh saya musuh, dekat saya kawan dan saudara. Saya kebal terhadap senjata tajam maupun bom).
Setelah Raja Masanbali diusir, penguasa Pamakayo, Kabelen Bisu, meminta Lagadoni menjadi Kabelen Kelen di kampung tersebut. Dia bersedia tetapi dengan syarat merangkap sebagai Kabelen Kelen di Nuhalolong-Hu Lema Mayang, karena Pati Lanang dan anak-cucunya sudah diusir. Kabelen Bisu setuju dan mereka sepakat mengutus Beang dan Bala menjadi wakil Lagadoni sebagai Kabelen Kelen di Nuhalolong.
Belum lama menjadi Kabelen Kelen Pamakayo, Lagadoni memutuskan pergi bertapa di Ile Atadei. Dalam masa pertapaan, Raja Lagadoni Tuan Doni Dua Dayong bertemu dengan Raja Todoboli-Tuan Boli Buang Raya yang baru tiba dari Lio, Ende. Keduanya menjalin persahabatan dan keakraban sebagai saudara. Menurut cerita keturunan langsung Raja Todoboli, Sanga Kein di Nuhalolon, bahwa Raja Lagadoni bahkan menyerahkan beberapa pusaka (senjata andalan) kepada Raja Todoboli. Dengan senjata sakti itulah Raja Todoboli berhasil mengatasi musuh-musuh dalam sejumlah pertempuran yang dilaluinya.
Dalam pertapaannya, Raja Lagadoni juga sempat bertarung dengan Raja Balahari. Dalam perang tanding yang berlangsung selama satu bulan ini, Lagadoni dibantu tujuh ekor anjingnya, Hogoribu, Manuk Ani, Tuketana, Gerewolo, Miantake, Noongmian, dan Geringgo. Sebagai tanda takluk, Raja Balahari menyerahkan tanah seluas kurang lebih 500 hektare dan pusaka berupa kebe (benda yang mampu membuat pemiliknya kebal, tidak mempan terhadap berbagai jenis senjata) dan lodang (rantai emas yang menyerupai ular).
Lagadoni membawa kedua pusaka ini ke Pamakayo untuk di simpan anak-cucunya hingga kini –di rumah Bapak Tome Kein. Dia kembali lagi ke Atadei meneruskan tapanya yang sempat terhenti. Dia meninggal di Atadei. Setelah meninggal dia menjelma menjadi nuba-nara (tawa ne nuba-gere ne nara) yang muncul di pinggiran kampung lama (lewo oking) Pamakayo.
Kedatangan Raja Lagadoni ke Pamakayo dalam wujud nuba-nara ini, kata Bapak Tome, diketahui melalui mimpi seorang tetua adat suku Hayon Pamakayo, Lado Belolong. Dalam mimpi itu, Lagadoni minta agar wujud batunya dipindahkan ke dalam kampung. Seluruh warga beramai-ramai datang untuk memindahkan batu tersebut tetapi tidak berhasil. Karena tidak berhasil, warga Pamakayo pun menunggu petunjuk lagi. Akhirnya, petunjuk itu datang berupa mimpi. Lagadoni mengatakan, nuba itu hanya bisa diangkat jika pusaka berupa lodang dan kebe—pemberian Raja Balahari—dikalungkan di lehernya. Setelah lodang dan kebe dikalungkan, maka batu itu dengan sangat mudah dipindahkan ke tengah namang di kampung lama.
Bapak Tome mengatakan, dia dan saudara-saudaranya (Kein Kelen) adalah anak keturunan Lagadoni. ”Entah sudah berapa keturunan sampai ke Bapak saya Yoseph Lagadoni Kein. Saya tidak tahu pasti. Yang pasti, bapak kami Yoseph Lagadoni Kein dari isteri keduanya, Elisabeth Bare Lewar, melahirkan lima anak. Dua laki-laki dan tiga perempuan. Salah satunya, Agnes Ipa Kein, ibu kandung No Yosni,” tuturnya mengakhiri kisah Lagadoni.
Dari garis keturunan ini pula lah darah itu mengalir dalam diriku…. (penulis yoseph lagadoni herin)

Tuesday, May 31, 2011

Bung Karno Lahir di Surabaya

Menyangkut Presiden pertama RI, Soekarno alias Bung Karno, terdapat kesesatan sejarah pada buku masa Orde Baru. Diterangkan Bung Karno lahir di Blitar pada 6 Juni 1901. Padahal proklamator Indonesia itu lahir di Surabaya, di Jalan Pandean IV/40.

Menurut Ketua Umum Soekarno Institute, Peter A. Rohi, menyatakan, untuk meluruskan sejarah, warga Surabaya akan memasang prasasti di rumah tersebut pada 6 Juni 2011 mendatang, bertepatan dengan hari ulang tahun Soekarno.

Prasasi itu dipasang sebagai tanda bahwa Soekarno benar-benar dilahirkan di Surabaya, bukan di Blitar seperti yang selama ini ditulis dan disebarluaskan ke masyarakat. “Kami akan memasangnya di rumah kelahiran Sang Proklamator dan juga Presiden Pertama Soekarno,” kata Peter, Selasa, 31 Mei 2011.

Peter menjelaskan, nantinya, prasasti akan dibuka dan diresmikan langsung oleh Prof. Ir. Hariono Sigit, putra dari Utari atau istri pertama Ir. Soekarno. Dalam prasasti tertera gambar Soekarno dan tulisan berisi penegasan rumah kelahirannya.

Dijelaskan Peter, Bung Karno lahir di sebuah rumah kontrakan di Jalan Lawang Seketeng, Surabaya, yang sekarang berubah nama menjadi Jalan Pandean IV. Ayahnya bernama Raden Soekemi seorang guru Sekolah Rakyat dan ibunya bangsawan Bali bernama Ida Ayu Nyoman Rai. “Jalan Lawang merupakan tempat berkumpulnya ‘Laskar Pemuda Revolusi’ pimpinan Soekarno di zaman penjajahan dulu. Di kampung tersebut juga ada rumah Mayjen Soengkono, Bung Tomo, serta Gubernur Suryo,” terangnya.

Mengomentari kelahiran Sang Proklamator yang disebut lahir di Blitar, Peter sangat menyayangkan sikap pemerintah. Padahal, lanjutnya, berbagai buku-buku sejarah dan arsip nasional mencatat Soekarno dilahirkan di Surabaya. “Saya heran kenapa sejarah diputarbalikkan begitu?”

Bahkan, tegas Peter, mantan Kepala Perpustakaan Blitar sudah mengakui hal itu.

Untuk menguatkan dalilnya, lelaki tersebut menunjukkan puluhan koleksi buku sejarah yang menuliskan Soekarno lahir di Surabaya. Di antaranya, buku berjudul ‘Soekarno Bapak Indonesia Merdeka’ karya Bob Hering, ‘Ayah Bunda Bung Karno’ karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto tahun 2002, ‘Kamus Politik’ karangan Adinda dan Usman Burhan tahun 1950, ‘Ensiklopedia Indonesia’ tahun 1955, ‘Ensiklopedia Indonesia’ tahun 1985, dan ‘Im Yang Tjoe’ tahun 1933 yang ditulis kembali oleh Peter A. Rohi dengan judul ‘Soekarno Sebagai Manoesia’ pada tahun 2008.

Peter berharap bangsa Indonesia mengetahui dan menyadari kekeliruan ini.  “Harus disadari, bahwa selama ini keliru, Soekarno bukan dilahirkan di Blitar tetapi di Surabaya,” katanya bersemangat.
Ia menceritakan, pasca tragedi G30S/PKI, semua buku sejarah ditarik dan diganti di Pusat Sejarah ABRI pimpinan Nugroho Notosusanto. “Tapi saya heran, kenapa ada pergantian kota kelahiran Soekarno?” (dirangkum dari vivanews.com)

Saturday, December 25, 2010

Sejarah Natal Tanggal 25 Desember


Kapan Yesus Lahir? Benarkah Tanggal 25 Desember yang kini diperingati seluruh dunia sebagai hari Natal? Ternyata tidak. Bagaimana sejarah Natal jatuh pada 25 Desember? 

Menurut penjelasan di dalam Catholic Encyclopedia edisi 1911, yang berjudul “Christmas”, ditemukan kata-kata yang berbunyi sebagai berikut :

“Christmas was not among the earliest festivals of church, the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan custom centering around the January calends gravitated to christmas. “

“Natal bukanlah upacara gereja yang pertama, Ia berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh kaum pagan di sekitar bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”

Jadi Yesus tidak lahir tanggal 25 Desember. Tanggal tersebut musim dingin padahal Yesus tidak lahir di musim dingin.

Kapan Yesus dilahirkan sebagai seorang bayi di Betlehem? Sebagaimana saya kutip dari tulisan Pnt Mariano M, menurut Alkitab ada pada Lukas 2 : 8, di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Gembala-gembala dalam ayat ini mendapat anugrah yang luar biasa, karena menurut Lukas, mereka mendapat pesan khusus dari seorang malaikat, menyaksikan sejumlah besar bala tentara sorga memuji Allah dan pengujung pertama dari kelahiran Yesus Kristus dalam palungan di Betlehem.
Dalam Lukas 2:8 dikatakan bahwa mereka menjaga kawanan ternak pada waktu malam. Inilah petunjuk penting
tersebut, yaitu :
1. ‘pada waktu malam’, dari potongan kalimat ini kita tahu bahwa Yesus dilahirkan malam
hari.
 2. ‘gembala-gembala tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam’, dari potongan kalimat yang sedikit lebih panjang ini (perhatikan kata yang digaris bawah) kita tahu bahwa Yesus lahir sebagai manusia bukan pada bulan Desember di musim salju, tetapi pada musim panas, yaitu pada bulan 15 Maret sampai 15 Oktober, paling lambat tanggal 15 November (ini musim yang ada di Israel), yaitu waktu di mana para Gembala biasanya menggembalakan ternak di waktu malam di padang.

Lalu sebenarnya bulan apa? Kita hanya bisa memberikan rentang waktu dari pertengahan Maret sampai pertengahan Oktober, dan lahir pada waktu malam hari. 

Mulai Peringatan Natal
Menurut  wikipedia,  catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi  pada kalender Romawi Kuno  yaitu pada 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan  makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal.

Pada akhir tahun 300-an Masehi, Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.
Pada tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di  Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, gerakan keagamaan di tahun 1500-an yang melahirkan agama Protestan.

Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya kafir karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula.

Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal  dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi.

Tuesday, December 21, 2010

Legenda Asal-usul Gunung Semeru

foto: koleksi wartakota
Gunung Semeru atau biasa disebut Gunung Mahameru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Legenda asal-usul Gunung Semeru mengaitkan kehendak dewa untuk memindahkan Gunung Meru dari India ke Pulau Jawa. Bagaimana kisahnya?

Mungkin Anda sering mendengar kisah-kisah mistik dari Gunung Semeru. (Salah satu kisah, lihat di sini). Kenapa Semeru menyimpan banyak kisah unik? Karena Gunung ini boleh dikata sangat penting posisinya. Inilah tempat bersemayam para dewa.

Menurut Kitab Tantu Pagelaran (abad ke-15), Pulau Jawa dalam keadaan terayun-ayun di samudra luas. Para dewa ingin agar Pulau Jawa terselamatkan. Lantas mereka pun punya siasat memaku saja pulau Jawa tersebut. Pakunya, tak lain adalah Gunung Meru di India. Dewa pun memindahkan Gunung Meru ke tlatah Jawa. Dewa Brahma dan Dewa Wisnu bergotong royong. Dewa Brahma jadi ular panjang dan membelitkan tubuhnya pada Gunung Meru, sedangkan Dewa Wisnu menjadi kura-kura untuk menggotong Gunung Meru di punggungnya.

Dewa-dewa tersebut tiba di bagian barat Pulau Jawa, lantas meletakkan Gunung Meru di bagian barat Pulau Jawa. Gunung Meru sangat berat sehingga Pulau Jawa menjadi oleng dan doyong ke sebelah barat. Jawa bagian timur malahan terangkat. Lantas gunung meru diboyong ke sebelah timur Pulau Jawa. Tapi ini juga belum membuat Pulau Jawa imbang alias tetap miring. 

Para dewa akhirnya memutuskan untuk memotong sebagian kecil dari Gunung Meru dan menempatkan di tempat yang menurut mereka bisa menyeimbangkan Pulau Jawa, yakni di Barat Laut.

Potongan ini membentuk gunung baru, yakni Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan. Sedangkan bagian utama dari Gunung Meru kini dikenal dengan Gunung Semeru. Dewa Shiwa bersemayan di Gunung Semeru ini. Saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau Jawa, dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa. Dalam Hindu, Gunung Meru dianggap sebagai ayah dari Gunung Agung di Bali. Gunung Meru merupakan graha dewa alias rumah para dewa dan sebagai jembatan penghubung bumi (manusia) dan Kayangan.