Uang dari Ngeklik

Selasa, Desember 21, 2010

Legenda Asal-usul Gunung Semeru

foto: koleksi wartakota
Gunung Semeru atau biasa disebut Gunung Mahameru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Legenda asal-usul Gunung Semeru mengaitkan kehendak dewa untuk memindahkan Gunung Meru dari India ke Pulau Jawa. Bagaimana kisahnya?

Mungkin Anda sering mendengar kisah-kisah mistik dari Gunung Semeru. (Salah satu kisah, lihat di sini). Kenapa Semeru menyimpan banyak kisah unik? Karena Gunung ini boleh dikata sangat penting posisinya. Inilah tempat bersemayam para dewa.

Menurut Kitab Tantu Pagelaran (abad ke-15), Pulau Jawa dalam keadaan terayun-ayun di samudra luas. Para dewa ingin agar Pulau Jawa terselamatkan. Lantas mereka pun punya siasat memaku saja pulau Jawa tersebut. Pakunya, tak lain adalah Gunung Meru di India. Dewa pun memindahkan Gunung Meru ke tlatah Jawa. Dewa Brahma dan Dewa Wisnu bergotong royong. Dewa Brahma jadi ular panjang dan membelitkan tubuhnya pada Gunung Meru, sedangkan Dewa Wisnu menjadi kura-kura untuk menggotong Gunung Meru di punggungnya.

Dewa-dewa tersebut tiba di bagian barat Pulau Jawa, lantas meletakkan Gunung Meru di bagian barat Pulau Jawa. Gunung Meru sangat berat sehingga Pulau Jawa menjadi oleng dan doyong ke sebelah barat. Jawa bagian timur malahan terangkat. Lantas gunung meru diboyong ke sebelah timur Pulau Jawa. Tapi ini juga belum membuat Pulau Jawa imbang alias tetap miring. 

Para dewa akhirnya memutuskan untuk memotong sebagian kecil dari Gunung Meru dan menempatkan di tempat yang menurut mereka bisa menyeimbangkan Pulau Jawa, yakni di Barat Laut.

Potongan ini membentuk gunung baru, yakni Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan. Sedangkan bagian utama dari Gunung Meru kini dikenal dengan Gunung Semeru. Dewa Shiwa bersemayan di Gunung Semeru ini. Saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau Jawa, dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa. Dalam Hindu, Gunung Meru dianggap sebagai ayah dari Gunung Agung di Bali. Gunung Meru merupakan graha dewa alias rumah para dewa dan sebagai jembatan penghubung bumi (manusia) dan Kayangan.

Tidak ada komentar: