Monday, December 19, 2016

HUBUNGAN UMA DAN MERAPU ( TRADISI SUMBA)

Rumah tradisional Sumba (Uma) harus berukuran besar dengan atap tinggi menantang langit. Mengapa? 



Karena Uma tidak sekadar tempat tinggal manusia. Uma juga jadi tempat bersemayamnya Merapu (arwah yang disembah dalam kepercayaan tradisional Sumba), sekaligus tempat hewan piaraan berlindung dari panas dan dingin setiap hari. 

Salah satu keunikan yang dimiliki Sumba adalah rumah tradisionalnya. Kalau Kabupaten Tana Toraja di Sulawesi Selatan punya Tongkonan, Sumba punya Uma. Ada kemiripan antara dua rumah tradisional ini. Kedua-duanya berukuran besar, dengan atap menjulang tinggi. Juga setiap bangunan terdiri dari tingkat meski fungsinya berbeda. Kesamaan lainnya, tongkonan dan Uma selalu terdiri dari beberapa rumah, membentuk sebuah perkampungan. Ada rumah induk yang diapit atau dikitari beberapa rumah pendamping. Di sanalah keluarga besar menjalani hari-hari kehidupannya. Termasuk menjalani ritual yang sarat simbol sosial, magis, dan religius. Yang membedakan keduanya, Tongkonan sudah dikenal luas di manca negara, sedangkan Uma masih terbatas. 

"Kesamaan" Uma dan Tongkonan ini konon karena leluhur suku Toraja dan Sumba sama-sama berasal dari daratan Cina. Menurut cerita yang berkembang, setelah sampai di Selat Malaka, rombongan migran itu menyebar ke Sumatra (beberapa suku terasing di Riau dan Jambi), Kalimantan (suku Dayak), Jawa, Bali, Lombok (suku Sasak dan Bima), Sumba, Manggarai, Ende. Jika rumah adat dijadikan acuan, mungkin cerita ini bisa dibenarkan. 

Uma dibangun memakai bahan-bahan alam (tidak mengandung unsur besi) dengan 24 tiang. Tapi tiang utamanya hanya 4 batang kayu yang diberi ukiran. Keempat tiang utama ini lebih tinggi dari 20 tiang lain, tapi langsung membentuk atap yang meninggi.

Atap uma menggunakan bahan rumput alang-alang, sedangkan dindingnya dari anyaman daun enau, papan, atau kulit hewan semisal u, sapi atau kuda yang sudah dikeringkan. Uma terdiri dari tiga tingkat. Di bagian atap yang lebih menonjol semacam menara merupakan tingkat tertinggi yang disebut kewuku. Kewuku terbagi menjadi 2 loteng. Loteng paling atas adalah Hindi Meringu, tempat merapu ditahtakan. 

Setiap Uma memiliki Merapu masing-masing serta berbeda satu sama lain. Ada Merapu berupa mata pancing, buaya, tajiku, batu, kilat, tikus, dan lain-lain. "Tergantung kharisma leluhur yang mereka sembah," ujar Yakobus Ng Bili, tokoh masyarakat di sana. 

Di bawah tahta Merapu disimpan berbagai barang pusaka peninggalan nenek moyang semisal keramik serta harta kekayaan lain. Loteng ini dinamakan Hindi Mbokul yang artinya gudang.

Bagian kedua dari tubuh rumah disebut lundung. Tubuh rumah ini pun punya anatomi khusus sesuai fungsi sosial, religius, dan magisnya. Ruang di antara keempat tiang utama tadi disebut Kambaniru Lundung yang merupakan tempat sembahyang atau disebut juga Kambaniru Urat. Karenanya ruang ini dianggap suci. Jadi, meski sebuah Uma dihuni banyak orang (terdiri dari beberapa kepala keluarga), ruang Kambaniru Urat ini tidak boleh ditinggali orang. Manusia hanya bisa tinggal di ruang Kambaniru Wihiwei, yakni kawasan di luar arena yang suci dalam Uma tersebut. 

Sedangkan tingkat paling bawah adalah Mbomang yakni kolong rumah sebagai tempat mengikat ternak piaraan semacam babi, kambing, kuda, sapi, kerbau. 

Setiap Uma dilengkapi katuada dan kuburan batu (megalitik). Katuada merupakan sebuah batu yang diletakkan di samping kanan rumah. Kepada batu inilah setiap tahun, pada November, setiap penghuni rumah mengaku dosa yang telah dibuat selama setahun. Bersamaan dengan itu dilakukan upacara penyucian semua perabot rumah tangga sebelum dimulai musim tanam. "Katuada itu semacam batu loh yang diturunkan Yahwe Allah kepada Nabi Musa yang berisi 10 perintah Tuhan atau 10 hukum Taurat," kata Jakobus Bili. 

Jenazah penghuni Uma selalu dikubur di samping rumah yang dbikin kuburan batu. Hal ini berkait dengan kepercayaan bahwa jenazah tersebut setelah hancur membentuk tanah berubah menjadi zat yang bisa menguap ke udara dan akan turun ke bumi berupa air hujan. Zat ini dipercaya membawa kesuburan. Kuburan batu ini harus menghadap ke muara sungai atau laut. 

"Pemberian nama bagi penghuni Uma juga harus mengikuti nama leluhur dan dilakukan pada saat pemotongan tali pusar," ujar Jakobus Bili. 

Itulah Uma yang melengkapi keunikan Suku Sumba, NTT.

(Laporan perjalanan dari kawan saya Yoseph Lagadoni Herin, yang pernah dimuat di Merpati Inflight Magazine).

Friday, December 09, 2016

Sejarah dan Asal-usul Kopi Luwak

blog-sejarah.blogspot.com
binatang luwak senang mencari kopi yang matangnya sempurna
Kopi Luwak sedang ngetren di dunia. Seduhan kopinya memakai biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak atau musang. Sesungguhnya sudah lama kopi jenis ini menjadi perbincangan di dunia, khususnya Asia Tenggara. Namun baru termasyur luas setelah publikasi tahun 1980-an. Dan Kopi Luwak harganya sangat mahal. Mencapai 450 dollar Amerika per 450 gram. Apa yang membuat kopi luwak mahal? Tentu saja proses dan cara mendapatkannya yang terbilang unik dan langkalah yang menyebabkankopi luwak mahal dan berkelas.

Wilayah penghasil kopi luwak di Indonesia antara lain Gayo Aceh, Sidikalang, Desa Janji Maria Kec. Barumun Tengah Kabupaten Padang Lawas, Kota Pagalaram, Semende di Muara Enim, Liwa di Lampung Barat, Kotabumi di Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur. 

Sejarah ditemukannya kopi Luwak erat kaitannya dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia awal abad ke-18 saat Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di Jawa dan Sumatra. Perkebunan tersebut mendatangkan bibit kopi arabica, salah satunya dari Yaman. 

Saat tanam paksa atau Cultuurstelsel (1830-1870) Belanda melarang pribumi memetik kopi untuk keperluan pribadi. Namun penduduk ingin mencoba kopi yang katanya enak tersebut. 

Buruh-buruh di kebun-kebun kopi akhirnya menemukan bahwa sejenis musang suka memakan buah kopi namun hanya daging buahnya yang tercerna. Kulit ari dan biji kopinya masih utuh tidak tercerna. 

Biji kopi dalam kotoran luak inilah yang kemudian diambil, dicuci, disangrai dan ditumbuk. Inilah yang kemudian disebut kopi luwak. 

Belanda mendengar kabar ini langsung membuktikan. Sejak itu pula kopi luwak menjadi gaya hidup orang kaya Belanda. Harga Kopi Luwak pun mahal sejak zaman tersebut. 

BACA JUGA SEJARAH KOPI INDONESIA DI LINK INI

Sejarah dan Asal-usul Kopi di Indonesia

sejarah kopi Indonesia dimulai dari masa penjajahan Belanda
Indonesia masuk dalam jajaran negara pemasok kopi dunia kenamaan. Memang, perkebunan kopi sangat lazim ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, tersebar dari Sabang sampai merauke. Bagaimana asal-usul dan sejarah kopi di Indonesia? 
Ternyata, tanaman kopi yang ada di berbagai perkebunan kopi di Indonesia sesungguhnya bibitnya tidak berasal dari Indonesia. Upaya Belanda menjadi pemasok nomor satu kopi dunia cukup berhasil dengan menjadikan lahan-lahan di Indonesia sebagai perkebunan kopi
Tahun 1696, Belanda mulai membawa kopi jenis Arabika dari Malabar India ke Jawa, mengingat perdagangan kopi demikian fantastis hasilnya dan Indonesia dirasa beriklim cocok untuk tanaman kopi. Kopi ini masuk melalui Batavia (sekarang Jakarta) yang dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar - India, yang kemudian ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi -Jakarta Timur, dengan menggunakan tanah partikelir Kedaung. Hanya saja waktu itu tanaman kopi di sini rusak karena gempa bumi dan banjir. 
Tak putus sampai di situ, 3 tahun kemudian Belanda mendatangkan stek tanaman kopi dari malabar. Kopi menjadi komoditas dagang yang sangat diandalkan oleh VOC..Tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari tanaman stek tersebut dikirim ke Belanda untuk diteliti. Karena kualitasnya sangat bagus, tanaman ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan di Indonesia. Mulai terjadi perluasan area budidaya kopi meliputi Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali, Timor, dan lain-lain. Tahun 1714 hasil penelitian tersebut oleh Belanda diperkenalkan dan ditanam di Jardin des Plantes oleh Raja Louis XIV.

Ekspor kopi Indonesia pertama kami dilakukan pada tahun 1711 oleh VOC, dan dalam kurun waktu 10 tahun meningkat sampai 60 ton / tahun. Hindia Belanda saat itu menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia, yang menjadikan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 – 1780. Kopi Jawa saat itu sangat tekenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan “ secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad ke 19 Kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia.

Produksi  kopi  di Jawa mengalami peningkatan yang cukup siginificant, tahun 1830 – 1834 produksi kopi Arabika mencapai 26.600 ton, dan 30 tahun kemudian meningkat menjadi 79.600 ton dan puncaknya tahun 1880 -1884 mencapai 94.400 ton.

Tahun 1720 Belanda menggeser posisi Yaman sebagai pemasok kopi nomor satu dunia. Produk Belanda  didapatkan dari perkebunan-perkebunan kopi di Jawa dan pulau-pulau sekitarnya. Masa tersebut Indonesia jadi produsen kopi terbesar di dunia. 

Tahun 1878, tanaman kopi di hampir seluruh wilayah di Indonesia terserang hama karat. Semenjak itu Belanda mendatangkan spesies kopi liberika yang mungkin lebih tahan atas karat daun. Kopi Liberika harganya juga setinggi kopi arabika. Sayangnya, lagi-lagi kopi spesies ini juga terkena karat daun. 
Tahun  1907 Belanda mendatangkan kopi dengan spesies Robusta. Perkebunan kopi di berbagai dataran rendah juga bisa bertahan dengan spesies robusta ini.

Setelah kemerdekaan tahun 1945, seluruh perkebunan kopi Belanda di Indonesia dinasionalisasi. Perkebunan rakyat terus tumbuh dan berkembang, sedangkan perkebunan swasta hanya bertahan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di Sumatera; dan perkebunan negara (PTPN) hanya tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Tuesday, December 06, 2016

Sejarah Islam di Lombok

blog-sejarah


Penduduk Lombok sebagiannya, terutama Suku Sasak menganut agama Islam. Agama terbesar kedua di Lombok adalah Hindu yang dianut 15 persen penduduk.

Perjalanan agama Islam masuk di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat berawal dari abad ke-16. Penyebar agama Islam di Lombok antara lain Sunan Prapen, Putra Sunan Giri, Al Fadlal, Sangupati.

Sunan Giri memiliki 3 murid yakni Lembu Mangkurat (mengislamkan Banjarmasin), Datuk Bandan (Mengislamkan Makassar, Seram, Tidore, Selayar), dan Sunan Prapen (mengislamkan Bali, Lombok, dan Sumbawa.

Sunan Prapen datang ke Pulau Lombok bersama Patih Mataram, Arya Kertasura, Jaya Lengkara, Adipati Semarang, Tumenggung Surabaya, Tumenggung Sedayu, Tumenggung Anom Sandi, Ratu Madura, Ratu Sumenep.

Tentu saja Sunan Prapen dalam membawa Islam ke masyarakat harus menyesuaikan situasi dan kondisi masyarakat saat itu. Mereka mengajarkan ketauhidan lewat adat dan kesenian. Penyebaran Islam di Lombokboleh dikata merata kecuali Pejarakan, Ganjar, Pengantap, Tebango, Karang Panasan. Penyebar Islam paling terkenal adalah Pangeran Sangupati, Putra Selaparang. Sangupati merupakan penggagas pergelaran wayang pertama kali di Lombok.

Menurut versi lain, Islam di Lombok juga masuk lewat utara atas perintah Pangeran Pengging dari Jawa Tengah. Sunan Kalijaga banyak disebut mengajarkan ajaran sufi di sini yakni sinkretisme antara Hindu dan Islam. Golongan ini lantas dinamakan waktu telu. Islam waktu telu umumnya dianut oleh mereka yang berusia lanjut di daerah Bayan, Lombok Utara. Di Bayan masih ditemukan masjid yang biasa dipakai pengabut Islam wektu telu. Juga terdapat tempat berdoa untuk berbagai agama yakni Kemaliq. Artinya tabu suci dan sakral. Letaknya di Desa Lingsar, Kabupaten Lombok Barat yang setiap tahun mengadakan upacara Pujawali dan Perang Topat sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME atas karunia hujan yang diberikan.

BACA JUGA: 
ASAL-USUL  PULAU LOMBOK DAN SASAK

LEGENDA DAN ASAL-USUL GUNUNG RINJANI

Asal-usul Pulau Lombok dan Sasak

Nama Lombok tercantum dalam lontar. Lombok itu sebutan untuk pulau di Nusa Tenggara Barat sedangkan sasak adalah suku bangsa yang mendiami pulau Lombok. Kata "Lombok" berasal dari Bahasa Sasak yakni Lomboq yang berarti Lurus. Sasak sendiri asal katanya Sak Sak, berarti Perahu Bercadik. Sebutan lain untuk Pulau Lombok adalah Pulau Meneng (sepi), Gumi Selaparang.

Sejak zaman Majapahit Pulau Lombok sudah terkenal. Disebut dalam kitab Negarakertagama yang dikarang Empu Prapanca. Alkisah, Kerajaan Mataran Lama di Jawa Tengah punya oemimpin perempuan yakni Pramudawardhani, ahli pemerintahan yang menikah dengan Rakai Pikatan, ahli perang. Kekuasaannya membentang dari Pulau Sumatra hingga Pulau Flores. Pelayaran yang dilakukan kala itu banyak dilakukan dari Jawa memakai perahu bercadik  Motif pelayaran tidak jelas apakah untuk memperluas wilayah ataukan menghindari kerja keras membangun Borobudur, Prambanan, dan Kalasan.

Mereka terus berlayar lurus ke Timur dan tiba di pelabuhan yang dinamakan Lomboq (lurus). Demikianlah sejak menghuni perkampungan tersebut, pulaunya disebut Lombok. Orang yang datang tersebut dinamai orang Sak Sak yang artinya datang menggunakan perahu (bercadik). Mereka berbaur dengan penduduk asli dari kerajaan Kedarao (Sembalun dan Sambelia).

Mereka mendirikan kerajaan Lombok yang lantas menjadi besar dalam lima abad. Pelabuhan di Kerajaan Lombok banyak dikunjungi para pedagang dari Makassar, Banyuwangi, Tuban, Hingga Ternate dan Malakan Hasil utama Lombok aadalah beras, tarum dan kayu sepang.

Kerajaan Lombok dikalahkan Mahapahit, raja dan permaisurinya lari dan mendirikan kerajaan Watuparang yang dikenal dengan Selaparang.

Versi Wikipedia

Menurut Babad Lombok, kerajaan tertua di pulau ini namanya Kerajaan Laeq yang artinya Waktu Lampau. Namun Babad Suwung menyatakan kerajaan tertua di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dipimpin Batara Indra. Kerajaan Suwung ini kemudian digantikan kerajaan Lombok.

Abad ke-9 hingga 11 berdirilah Kerajaaan Sasak yang lantas dikalahkan salah satu Kerajaan di Bali. Beberapa jeraan di Pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton dan Selaparang.

Kerajaan Selaparang muncul dua periode: abad ke-13 dan abad ke 16. Kerajaan pertama bercorak Hindu. Kekuasaannya berakhir semenjak kedatangan Majapahit tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam dan kekuasaannya berakhir pada tahun 1744 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem Bal dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang.

Pendudukan Bali memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat di sisi barat Lombok, seperti pada tarian serta peninggalan bangunan, misalnya Istana Cakranegara di Ampenan.

Tahun 1894 Lombok bebas dari pengaruh Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda). Pemberontakan orang Sasak mengundang mereka masuk. Namun Lombok lantas dibawah kekuasaan Hindia Belanda secara langsung.Tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang masuk karena pemberontakan orang Sasak mengundang mereka datang. Namun, Lombok kemudian berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda secara langsung. Masuknya Jepang membuat Lombok di bawah kendali Jepang. Tahun 1950 bergabung dengan Indonesia.



Friday, December 02, 2016

Legenda dan Asal-usul Gunung Rinjani

blog-sejarah.blogspot.com
menurut mitos, Gunung Rinjani merupakan pusat jin dan makhluk halus

Ternyata, menurut Legenda, Rinjani (atau disebut pula Anjani) merupakan putri raja yang mengiringi ayahnya untuk bertapa di Gunung. Oleh para jin dan makhluk halus, Rinjani dijadikan Ratu. Itu sebabnya Gunung di Pulau Lombok dinamai Gunung Rinjani.

Ada berbagai versi cerita rakyat yang ada kaitannya dengan Gunung Rinjani. Salah satu di antaranya berkaitan dengan seorang raja yang bernama Datu Tuan. Kerajaan Datu Tuan tidak jauh dari pelabuhan Lembar, yang kini dikenal dengan julukan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sang Raja sangat bijaksana. Permaisurinya cantik dan baik hati. Namanya Dewi Mas.

Kerajaan sangat aman, tenteram dan makmur. Sayang sang raja belum juga dikaruniai anak. Hingga beliau meminta izin Dewi Mas, sang permaisuri untuk mendapatkan istri baru. Permaisuri Dewi Mas mengizinkan. Maka dipinanglah gadis cantik bernama Sunggar Tutul, putri Patih Aur.

Semenjak itu raja lebih sering tinggal bersama istri baru. Namun permaisuri tetap sabar. Hingga akhirnya Dewi Mas mengandung.

Sunggar Tutul istri barunya merasa keberadaannya terancam, dibuatlah intrik. Raja dihasut dengan kata-katanya bahwa kehamilan Dewi Mas karena Dewi Mas serong dengan seseorang bernama Lok Deos. Raja percaya kata-kata Sunggar Tutul dan membuang Dewi Mas ke salah satu gili (pulau). Dewi Mas dengan sabar taat akan perintah Baginda. Ia pergi diiringi para pengiring.

Suatu hari sebuah perahu besar lewat dan nahkoda melihat putri bersinar-sinar cantik jelita. Kemudian sang nahkoda mampir. Dewi Mas mengisahkan semua kejadian. Nahkoda Kapal membawanya ke Pulau Bali. Akhirnya Dewi Mas dan pengiringnya tinggal di Pulau Bali.

Tak berapa lama, lahirlah anak kembar lelaki dan perempuan. Yang lelaki kelahirannya disertai sebilah keris sedang yang perempuan lahir dengan anak panah. Bayi lelaki dinamai Raden Nuna Putra Janjak dan yang perempuan Dewi Rinjani.

Tumbuh semakin besar mereka mulai menanyakan ayahnya. Sang ibu tak kuasa berbohong dan menceritakan pengalamannya. Raden Putra Janjak memohon kepada ibunya agar dipertemukan ayahnya. Ia pamit ke Pulau Lombok disertai para pengawal.

Putra Janjak hendak masuk istana ayahnya dan dihalangi oleh para penjaga. Para penjaga dikalahkan oleh Putra Janjak hingga sang raja mendengar kehebohan tersebut.Baginda Datu Taun dan anaknya saling adu kekuatan namun keduanya tak bisa saling melukai. Hingga terdengar bunyi gaib dari angkasa yang menyetakan Putra Janjak adalah anak dari baginda. Dipeluknya Raden Nuna Putra Janjak.

Setelah mendengar cerita dari Raden Nuna Putra Janjak , maka Baginda Datu Tuan segera menjemput permaisuri ke Bali.

Baginda Datu Taun sudah semakin tua dan akhirnya menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya. Datu Taun kemudian menyepi di gunung diiringi putrinya Dewi Rinjani. Di puncak gunung itulah baginda dan puterinya bertapa bersemedi memuja Yang Maha Kuasa. Di puncak gunung ini Dewi Rinjani diangkat oleh para Jin dan mahluk halus menjadi Ratu.


Sejarah Carok dan Clurit di Madura


Orang-orang Madura mengenal istilah Carok dan Clurit. Bagaimana asal-usul atau Sejarah Carok dan Clurit? 

Carok berasal dari bahasa Kawi artinya perkelahian. Perkelahian umumnya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar, umumnya di Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. Persoalannya adalah Kedudukan, perselingkuhan, rebutan harta, dendam turun-temurun.

Secara harfiah, Carok itu Ecacca Erok Erok yakni dibantai atau dimutilasi. D. Zawawi Imron, Budayawan dari Madura yang dijuluki Clurit Emas dari Sumenep menyatakan Carok itu pembauran budaya yang tidak sepenuhnya dari Madura. Carok merupakan putusan akhir bila masalah tidak bisa diselesaikan. Di dalamnya terkandung makna harga diri.

Sejatinya, carok mulai muncul sejak zaman penjajahan Belanda pada abad ke-18 masehi saat kemunculan legenda Pak Sakera. Siapa Pak Sakera? Mandor tebu di Pasuruan yang tak pernah meninggalkan celurit kalau dia pergi ke kebun. Celurit dijadikan simbol perlawanan bagi rakyat.

Sebelum era tersebut , abad ke-12 saat Madura dipimpin Cakraningrat dan abad ke-14 saat Madura dipimpin Joko Tole, belum ada istilah Carok. Masa Panembahan Semolo, putra Bindoro Saud, Putra Sunan Kudus anad ke-17 juga belum ada Carok. Mereka hanya mengenal senjata tombak, pedang, keris dan panah sebagaimana umumnya prajurit-prajurit kerajaan. Hingga permulaan berdirinya Majapahit yang didukung oleh kerajaan Sumenep, maupun sebelumnya pada masa Tumapel hingga Singasari yang jatuh oleh kerajaan Gelang-Gelang Kediri yang dibantu pasukan Madura, senjata Clurit masih belum ada. Bahkan pada masa penyerbuan ke Batavia oleh Fatahillah yang dibantu pasukan Madura, juga mereka masih bersenjatakan Keris atau yang lainnya (bukan Clurit). Bahkan pada peristiwa Branjang Kawat dan Jurang Penatas, sama sekali tak ada senjata clurit disebut-sebut. 

Hanya Calok yang disebutkan dalam babat Songenep. Calok sendiri merupakan senjata Kek Lesap (1749) yang memberontak dan hampir menguasai semua dataran Madura. Senjata Calok juga pernah dipakai balatentara Ayothaya Siam dalam perang melawan kerajaan lain. Pada masa itu yang popular berbentuk Calok Selaben dan Lancor. Konon senjata Calok dibawa prajurit Madura ke Siam sebagai bagian dari bala bantuan kerajaan Madura dalam pengamanan di tanah Siam. 

Setelah Pak Sakera dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, rakyat mulai melakukan perlawanan dengan celurit. Namun Belanda mengadu-domba. Golongan Blater (jagoan) yang menjadi mata-mata Belanda diadu domba dengan rakyat dan seringkali Blater inilah yang melakukan carok waktu itu. Clurit diberikan Belanda kepada Blter dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik senjata. 

Kalau Clurit dianggap simbol perlawanan rakyat jelata oleh Sakera, Belanda mencitrakan Clurit sebagai senjata para jagoan dan penjahat. Sebagian masyarakat Madura terasuki hal itu. Bahwa kalau ada persoalan diselesaikan dengan jalan carok demi menjunjung harga diri. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya dan tidak sadar itu hasil rekayasa penjajah Belanda. Tapi tidak semua masyarakat Madura seperti itu. Mereka umumnya dari golongan santri dan keturunan orang-orang yang melawan penjajah Belanda pada zaman dulu.


Tragedi Bere Temor

Tahun 1970-an terjadi peristiwa tragis yang oleh orang Madura disebut Tragedi Bere Temor (Barat Timur). Yakni gap antara blok Madura Barat yang diwakili Bangkalan dan Madura Timur diwakili Sampang. Hampir setiap hari konon terdapat pembunuhan baik di pasar, sawah dan kampung. Saat itu istilah Carok dan Clurit makin terkenal. 

Sebagaimana dijelaskan tangtungan.com, pada masa Bere temor tersebut beberapa desa seperti Rabesen barat dan Rabesen Timur, Gelis, Baypajung, Sampang, Jeddih cukup mewarnai. Tragedi tersebut terjadi hingga keluar dari Madura, yakni Surabaya dan beberapa daerah lainnya. 

Menurut H.Abdul Majid, seorang tokoh Madura asal Beypanjung-Tanah Merah,  Carok jaman dulu adalah perkelahian duel hidup mati antara kedua belah pihak yang bertikai. Carok pada masa itu selalu identik dengan duel maut yang berujung dendam pada keluarga berikutnya. 

Hafil M, seorang tokoh Madura juga menerangkan bahwa pada masa itu setiap orang yang hendak bercarok akan melakukan satu ritual khusus dengan doa selamatan ala Islam kemudian melekan dan mengasah Clurit mereka serta mengasapinya dengan dupa. Keesokan harinya, mereka menghiasi mukanya dengan angus hitam. 

Ungkapan senada juga disampaikan oleh Mas Marsidi Djoyotruno. Setiap orang yang bertemu meski tidak kenal akan langsung saling bunuh asal mereka dari dua kubu tersebut.tak peduli mereka bertikai atau tidak. Ini semua dilakukan demi harga diri desanya atau yang lainnya. 

Perkembangan disain clurit sendiri baru mulai betul-betul khusus untuk membunuh, diperkirakan masa revolosi 1945. Resimen 35 Joko Tole memberontak pada Belanda di pulau Madura. Belanda yang dibantu pasukan Cakra (pasukan pribumi madura) berhadapan dengan pasukan siluman tersebut. Meski tidak semua pasukan resimen 35 Joko Tole ini memiliki senjata Clurit, namun kerap terjadi pertarungan antara pasukan Cakra dengan resimen 35 Joko Tole ini kedua belah pihak sudah ada yang menggunakan senjata Clurit, meski hanya sebatas senjata ala kadarnya. 

Desain clurit yang sekarang ini kita lihat merupakan disain dari peristiwa Bere’ Temor (barat-timur) yang menghebohkan ditahun 1968 hingga 80-an. Pada masa ini disain clurit mulai dikenal dengan berbagai bentuk. Mulai dari Bulu Ajem, Takabuan, Selaben hingga yang lainnya. Dan pada peristiwa tersebut Clurit mulai jadi kemoditi bagi masyarakat Madura.