Monday, May 02, 2016

Sejarah Tari Legong di Bali

Tari Legong masuk dalam golongan tari klasik Bali. Tarian ini sangat kompleks, diiringi musik yang kompleks pula. Apa dan bagaimana asal-usul tari Legong? 
foto
Kata Legong berasal dari leg yang berarti sebuah gerak tari yang luwes, dan gong yang artinya gamelan. Tari legong boleh dikata tarian klasik bali yang memiliki perbendaharaan gerak yang kompleks, terikat struktur tubuh pengiring. 
Legong ini erat kaitannya dengan gambuh. Gerak tari legong terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang dipakai mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.
Tarian Legong mula-mula dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua
Menurut Babad Dalem Sukawati, tari Legong tercipta berdasarkan mimpi I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati yang bertahta tahun 1775-1825 M. Ketika beliau melakukan tapa di Pura Jogan Agung desa Ketewel ( wilayah Sukawati ), beliau bermimpi melihat bidadari sedang menari di surga. Mereka menari dengan menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari emas.
Ketika beliau sadar dari semedinya, segera memerintahkan Bendesa Ketewel untuk membuat beberapa topeng yang wajahnya tampak dalam mimpi ketika melakukan semedi di Pura Jogan Agung dan memerintahkan pula agar membuatkan tarian yang mirip dengan mimpinya. Akhirnya Bendesa Ketewel pun mampu menyelesaikan sembilan topeng sakral sesuai permintaan I Dewa Agung Made Karna. Pertunjukan tari Sang Hyang Legong pun dapat dipentaskan di Pura Jogan Agung oleh dua orang penari perempuan.
Tak lama setelah tari Sang Hyang Legong tercipta, sebuah grup pertunjukan tari Nandir dari Blahbatuh yang dipimpin I Gusti Ngurah Jelantik melakukan sebuah pementasan yang disaksikan Raja I Dewa Agung Manggis, Raja Gianyar kala itu. Beliau sangat tertarik dengan tarian yang memiliki gaya yang mirip dengan tari Sang Hyang Legong ini, seraya menitahkan dua orang seniman dari Sukawati untuk menata kembali dengan mempergunakan dua orang penari wanita sebagai penarinya. Sejak itulah tercipta tari Legong klasik yang kita saksikan sekarang ini.
Penari legong yang baku adalah dua orang gadis yang belum akil-baliq alias mendapat belum menstruasi, Para penari legong menari di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Kedua penari inilah yang disebut legong. Mereka selalu dilengkapi kipas sebagai alat bantu. Pada beberapa tarian, legong terdapat seorang penari tambahan, disebut condong, yang tidak dilengkapi dengan kipas.
Struktur tarinya pada umumnya terdiri dari papesonpangawakpengecet, dan pakaad.
Legong sempat kehilangan popularitas di awal abad ke-20 oleh maraknya bentuk tari kebyar dari bagian utara Bali. Usaha-usaha revitalisasi lantas dimulai 1960-an.
Jenis-jenis Legong
Terdapat sekitar 18 tari legong yang dikembangkan di selatan Bali, seperti di Gianyar (Saba, Bedulu, Pejeng, Peliatan), Badung (Binoh dan Kuta), Denpasar (Kelandis), dan Tabanan (Tista).Apa saja jenis-jenis Legong:?

1. Legong Lasem (Kraton)
Legong ini tergolong populer dan sering ditampilkan di pertunjukan pertunjukan wisata. Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong dan seorang condong. Condong tampil pertama kali, lalu menyusul dua legong yang menarikanlegong lasem. Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (abad ke-12 dan ke-13, masa Kerajaan Kadiri), yaitu tentang keinginan raja (adipati) Lasem (sekarang masuk Kabupaten Rembang) untuk meminang Rangkesari, putri Kerajaan Daha (Kadiri), namun ia berbuat tidak terpuji dengan menculiknya. Sang putri menolak pinangan sang adipati karena ia telah terikat oleh Raden Panji dari Kahuripan. Mengetahui adiknya diculik, raja Kadiri, yang merupakan abang dari sang putri Rangkesari, menyatakan perang dan berangkat ke Lasem. Sebelum berperang, adipati Lasem harus menghadapi serangan burung garuda pembawa maut. Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan raja Daha.
2. Legong Jobog
Kisahnya berasal dari cuplikan Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya. Karena ajimat itu dibuang ke danau ajaib, keduanya bertarung hingga masuk ke dalam danau. Tanpa disadari, keduanya beralih menjadi kera dan selalu bertempur. 

3. Legong Legod Bawa
Dewa Brahma dan Dewa Wisnu  bersaing membanggakan kekuatan masing-masing. Dewa Siwa menjadi penengah dengan cara berubah menjadi lingga sembari mengajukan syarat barang siapa yang mampu menemukan ujung lingga tersebut, maka dia lebih sakti mandraguna.

4. Legong Kuntul
Beberapa burung kuntul asyik bercengkrama.

5. Legong Palayon
Anak-anak selalu tanpa beban dan senantiasa bemain dan bermain. Bermain gamelan pun tanpa beban. Ceria dan gembira. 

6. Legong Candrakanta
Bulan dan matahari bertemu sehingga terjadi gerhana yang mengakibatkan dunia menjadi gelap. Setelah ada sesajen, kentongan , serta puji-pujian, Bulan kembali bersinar.

7. Legong Kupu Tarum
Kupu-kupu riang gembira berlari dari ranting ke ranting. Diciptakan I Wayan Beratha tahun 1960-an. 

Asal-usul Negeri Kelantan, Malaysia

Negeri Kelantan memiliki sejarah unik. Tahun 1411 M (814 H) di wilayah itu, hidup Raja beragama Islam bernama Ku Umar, entah dari mana asalnya. Raja Ku Umar menjalin hubungan dengan Raja China, Tahun 1412 M, Ku Umar menerima kain-kain sutera dan surat kepujian dari Raja China itu.
Setelah itu, Kelantan diperintah Sultan Iskandar sampai 1465 M. 
Raja setelah itu adalah Putera Baginda Sultan Mansur. Saat Sultan Mansur, nama Kelantan termasyhur sampai ke negeri Malaka di bawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah. Pada 1477 M, Sultan Melaka menyerang Kelantan. Baginda Sultan Mahmud Shah akhirnya menikahi Puteri Sultan Mansur yang bernama Onang Kening, Onang Kening ini merupakan ibu dari  Raja Perak yang pertama, iaitu Sultan Muzaffar Shah (1528 M).
Sultan Mansur Shah wafat tahun 1526 M (928 H), dan digantikan putranya "Sultan Gombak". Setelah baginda Raja Gombak mangkat, cucu baginda yang telah dijadikan putera angkat, Raja Ahmad,  menjadi Sultan Kelantan pada 1584 M (992 H). Sultan Ahmad menikahi Cik Banun Puteri Seri Nara DiRaja, sepupu Raja Hussein di sebelah isteri Lela Wangsa Pahang. Keduanya dikaruniai seorang puteri Cik Siti Wan Kembang.
Sultan Ahmad mangkat pada 1589 M, saat Cik SIti Wan Kembang berusia 4 tahun. Maka Raja Hussein dari Johor telah dilantik menjadi Pemangku Raja Pemerintah Kelantan. Raja Hussein mangkat pada 1610 M (1018 H). Cik Wan Kembang ditabalkam menjadi Permaisuri Kelantan. Baginda bersemayam di Gunung Chinta Wangsa, Ulu Kelantan, kira-kira 40 kilometer ke arah tenggara Kuala Krai.
Masa pemerintahan Cik Siti Wan Kembang di Gunung Chinta Wangsa sangat masyur. Pedagang-pedagang dari dalam dan luar negeri termasuk orang-orang Arab menjuluki Cik Wan Kembang dengan panggilan "Paduka Cik Siti". Paduka mempunyai seekor kijang yang akhirnya menjadi lambang kebesaran negeri Kelantan.
Pada masa pemerintahan Cik Siti Wan Kembang, berdiri kerajaan berpusat di Jembal dengan rajanya yakni Raja Sakti tahun 1638 M (1046 H). Setelah baginda mangkat, maka putera baginda, Raja Loyor menjadi Sultan pada 1649 M (1059 H). Sultan dianugerahi dua putra seorang putera, Seorang putra mangkat sewaktu masih kecil dan seorang puteri bernama Putri Saadong.
Hubungan baik telah terjalin di antara Kerajaan Cik Siti Wan Kembang dengan Kerajaan Loyor di Jembal. Baginda mengambil Puteri Saadong sebagai anak angkat yang akan mewarisi tahta kerajaan sepeninggalannya nanti.
Puteri Saadong yang cantik dan jelita digelari rakyat Gunung Chinta Wangsa sebagai Puteri Wijaya Mala. Kecantikan Puteri Saadong sampai pada Maharaja Siam yang kemudian melamarnya tetapi ditolak. Puteri Saadong dinikahi sepupunya yakni Raja Abdullah yang memerintah di Kota Tegayong dan kemudiannya dipindahkan ke Kota Jelasin di Kota Mahligai.
Puteri Saadong diculik Penglima Tentera Siam bernama Phraya Decho dan dibawa kepada Narai Maharaja Siam (1656-1688) namun akhirnya kembali ke Kelantan. Raja Abdullah akhirnya wafatterkorban kerana kena tikaman cucuk sanggul Puteri Saadong.
Selepas itu, Puteri Saadong melantik Raja Abdul Rahim, saudara raja Abdullah menjadi Sultan di Kota Mahligai pada 1671 M (1082 H) dan dinikahkan dengan janda Raja Abdullah, anak Penghulu Ngah Jembal. Selepas itu Puteri Saadong menjadi Raja di Bukit Marak dan sejak itu kisahnya tidak ada lagi.
Kemudian, Raja Abdul Rahim telah mangkat ditikam oleh rakyatnya di tepi Tasek Lelayang Mandi. Maka putus sudah sejarah "kerajaan mahligai". Namun muncul Kerajaan Jembal yang pada waktu itu diperintah Raja Omar yang bergelar Sultan Omar pada 1675 M (1086 H).
Raja Omar adalah adik Raja Loyor yang sebelum itu telah bergelar Temenggong Sultan Omar mempunyai lima orang putera dan puteri: Raja Kecil Sulung, Raja Ngah yang bergelar Raja Hudang, Raja Nah, Raja Sakti dan Raja Pah. 
Setelah Raja Omar mangkat pada 1721 M (1132 H), Baginda Long Bahar menjadi Sultan di Jembal atas kehendak puteri sulungnya, Raja Kecil Sulung. Baginda Long Bahar adalah putera Raja Petani (Wan Daim) yang bergelar Datuk Pengkalan Tua yang berhijrah ke Kelantan bersama ayahnya dan menikah dengan Raja Pah Binti Sultan Umar. Mereka bertempat tinggal di Sening dekat Jembal.
Long Sulaiman (Wan Anom Long Nik) anak Long Bahar dengan Raja Perempuan Patani bergelar Mas Kelantan mempunyai seorang putera bernama Long Yunus dan dua orang puteri, iaitu Tuan Dewi dan Tuan Kembang yang menikah dengan Long Deraman putera Tuan Senik Geting yang memerintah di Legeh. Pada 1756 M (1169 H) ada serangan untuk merebut takhta dan akhirnya Long Sulaiman gugur. Berikutnya Long Pandak, sepupu Long Sulaiman telah dilantik menjadi Raja Kubang Labu, dan adiknya pula Long Muhammad dilantik menjadi Raja Muda.
Kemudiannya pada 1758M, Long Pandak meninggal di tangan Long Deraman yang membalas dendam terhadap perbuatan Long Pandak yang membunuh isterinya Tengku Tengah iaitu adik Long Deraman. Selepas itu Long Muhamad dilantik menjadi Sultan di Kota Kubang Labu. 
Pada masa pemerintahan Long Muhammad muncul perang antara pihak Long Muhammad yang dibantu oleh Long Deraman dan Penghulu Umar Kampung Laut dengan Long Yunus yang dibantu Long Gafar seorang putera kepada Raja Reman di Hulu Perak, Sepupunda Long Yunus iaitu Mandur Mis dan Penghulu Adas (ipar pula kepada Mandur Mis). Dalam peperangan pada 1762 M, Pihak sebelah Long Muhammad dan Long Deraman tewas dan Kerajaan Kubang Labu dikuasai oleh Long Yunus. Karena berjasa membantunya dalam peperangan itu, Long Yunus melantik Long Gaffar menjadi Perdana Menteri bergelar Engku Sri Maharaja Perdana Menteri memerintah dari kawasan Jeram sampai ke Pasir Tumbuh. Mandur Mis dilantik sebagai Mendahari Negeri bergelar Engku Mendahari Seri Maharaja Wangsa memerintah Lundang
Penghulu Adas memerintah di sebelah hulu Sungai Nilam Puri bergelar Penghulu Menteri Seri Bija D'Raja dan Raja Langsuring memerintah Sebelah Hulu Pulau, Tanah Merah bergelar Engku Pahlawan Seri Maharaja Dalam. Baginda Long Yunus menyatukan seluruh pemerintahan negeri Kelantan.

Friday, April 29, 2016

Tari Topeng Sidakarya atau Pajegan, Apa Itu?

sumber foto: nusabali.com


Seni pentas ritual Topeng Pajegan atau Topeng Sidakarya sangat terkenal di Bali. Ingin tahu lebih jauh tentang tari topeng ini? Kadek Suartaya, SSKar, MSi, Dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar menuliskannya untuk nusabali.com.

Pertunjukan topeng yang umumnya dibawakan secara solo oleh seorang penari ini tidak hanya hadir dalam prosesi keagamaan di halaman utama pura namun juga  berfungsi dalam upacara perkawinan, potong gigi, hingga ritus ngaben. 

Tema-tema kisah yang dibawakan bersumber dari babad, cerita semi sejarah, dengan puncak penampilan figur topeng berkarakter angker yang disebut Sidakarya. Mungkin karena itu, Topeng Pajegan juga disebut Topeng Sidakarya. Diantara sembilan tari Bali yang baru-baru ini diakui oleh Unesco, PBB, sebagai warisan budaya dunia, salah satunya adalah Topeng Sidakarya.

Seni pertunjukan Wayang Wong,  Barong Kedingkling, dan Barong Berutuk misalnya, juga memakai tapel tapi tak pernah disebut sebagai topeng. Wayang Wong yang berangkat dari sumber epos Ramayana seluruh pemerannya memakai tapel atau topeng. Barong Kedingkling yang biasanya hadir dalam tradisi ngelawang mempergunakan tapel figur-figur penting Ramayana. Begitu juga Barong Berutuk yang disakralkan di Desa Trunyan, Bangli, semua perannya menggunakan topeng bernuansa primitif. Namun ketiganya tak disebut seni pertunjukan topeng.  Rangda dan tari Jauk juga tidak digolongkan genre topeng.

Seni pertunjukan bertopeng tergolong sangat tua dan hampir dapat dijumpai di seluruh dunia. Di Bali, kesenian yang diduga berkaitan dengan topeng termuat dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun 869 Masehi. Dalam prasasti itu disinggung istilah partapukan yang artinya perkumpulan topeng. Sedangkan bagaimana bentuk dan apa lakonnya tidak jelas. Pertunjukan topeng diduga merupakan kreativitas seniman Bali yang bukan pengaruh kesenian Majapahit. 

Pada mulanya kesenian ini muncul pada era kejayaan Gelgel,  akhir abad ke-17. Konon I Gusti Pering Jelantik membawakan drama tari seorang diri dengan memakai topeng rampasan leluhurnya, Patih Jelantik, ketika Gelgel menaklukkan  Blambangan. Saat konflik politik mengguncang Gelgel, topeng-topeng itu diboyong ke Desa Blahbatuh sekitar tahun 1879 yang hinggi kini dikeramatkan di Pura Penataran Topeng. 

Pada tahun-tahun berikutnya, setelah pementasan di puri Gelgel tersebut, penampilan Topeng Pajegan itu kemudian menjadi kebiasaan di tengah-tengah masyarakat Bali, terutama ditradisikan saat prosesi keagamaan, odalan misalnya. Perkembangannya kemudian muncul Topeng Panca, drama tari topeng yang dibawakan oleh lima orang penari yang lebih mengarah sebagai seni pentas tontonan non ritual. Perkembangan ini bukannya membuat Topeng Pajegan surut, justru seni pentas ini kian multifungsi dalam beragam tingkatan dan hirarki upacara agama dan ritus kehidupan masyarakatnya.

Pementasan Topeng Sidakarya dimulai dengan penampilan tokoh yang berkarakter keras. Warna tapel-nya gelap kemerah-merahan, mata mendelik dan disertai sepasang kumis hitam tebal. Gerakannnya tangkas, gagah dengan ayunan langkah berwibawa. Sehabis tokoh ini, biasanya disambung dengan kemunculan topeng yang berkarakter tua renta. Rambut, alis, dan kumisnya memutih. Gerakannya lambat terbata-bata namun menampilkan sorot mata yang arif. Kedua figur ini disebut dengan topeng pengelembar, tari lepas, arena tempat pemain mempertontonkan kepiawaannya menari.

Aspek dramatik sebuah pementasan Topeng Pajegan atau Sidakarya baru bergulir ketika muncul tokoh penasar yang lazim memakai tapel setengah terbuka, terutama pada mulut dan matanya. Penasar bertindak selaku narator, komentator, penterjemah, dan pelawak. Tokoh inilah yang mengendalikan alur cerita. Ketika ia kemudian berganti topeng berwatak tampan dengan tata gerakan alus penuh perhitungan, tokoh rajalah yang dibawakannya yang sering disebut topeng dalem atau arsawijaya. Kehadiran topeng dengan ekspresi karismatis ini memberikan perintah sesuatu, mungkin perang dan mungkin perdamaian.

Kisah kemudian berlanjut dengan penampilan tokoh antagonis yang biasanya berwajah ganas dengan gerakan kasar. Menjelang klimaks cerita, akan muncul tokoh-tokoh rakyat jelata dengan aneka tingkah lucunya. Topeng-topeng yang digunakan mengekspresikan cacat fisik seperti mulut sumbing, gigi remuk, mata juling, dan sebagai yang dalam penampilannya disinkronisasikan dengan tata gerak yang mengundang tawa. Penampilan tokoh-tokoh ini berkaitan dengan cerita tapi biasanya sering jauh menyimpang yang cenderung mengarah pada sajian porno-vulgar. Adegan ini biasanya riuh dengan derai tawa penonton.

Apa pun lakonnya pada akhir pementasan Topeng Pajegan adalah figur Sidakarya. Topengnya berwarna putih, matanya sipit, mulut terbuka menyeringai lengkap dengan tonjolan kedua taring atasnya. Sepak terjangnya menakutkan, mengancam, menerjang kiri kanan. Dengus mantra-mantra suci meluncur dari mulutnya. Sembari mengibaskan selembar kain putih, kedua tangannya meragakan gerak-gerak mudra pendeta. 

Pada akhirnya, canang sari yang berisi beras kuning dan segenggam pis bolong kemudian ditebar ke segala penjuru. Sering juga seorang anak ditangkap dan kemudian dilepaskan oleh tokoh ini setelah diberi hadiah sekedarnya. Dipercaya tokoh ini simbol dari Wisnu Murti yang memberi anugrah dan atau legitimasi sebuah upacara. Kepercayaan dan pembenaran/justifikasi itulah yang menyangga keberadaan Topeng Pajegan atau Topeng Sidakarya. 

Tengorak Zaman Pra Hindu Ditemukan di Buleleng, Bali

blog-sejarah.blogspot.com
foto: nusabali.com
Lihatlah foto di atas. Inilah tengkorak yang ditemukan sudah membatu di Dusun/Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Kamis (14/4). Sebagaimana beritakan nusabali.com, dipastikan pihak Badan Arkeologi Denpasar, tengkorak ini berasal dari manusia zaman perundagian atau zaman pra Hindu.

Dari penelitiannya sejak beberapa hari, Badan Arkelogi Denpasar menemukan sejumlah ciri-ciri dari tengkorak yang sudah membatu dan hancur tersebut. Antara lain, usia ratusan tahun, diperkirakan sudah ada sejak tahun 200 sebelum masehi. “Dari ciri-ciri bentuk dan struktur tengkorak, kuat indikasinya bahwa itu adalah tengkorak manusia zaman perundagian,” ujar Kepala Badan Arkeologi Denpasar, Gusti Made Suarbawa, Senin (18/4).

Kata dia, karakter tengkorak di pinggir Pantai Desa Banyupoh ini, hampir sama dengan penemuan tengkorak di sekitar Pura Pabean, sekitar tahun 2000. Hal sama juga pada temuan tengkorak di sekitar Banjar Asem, Seririt dan Gimimanuk. Menurutnya,  penemuan situs sejarah di pantai utara Pulau Bali, memiliki satu ikatan dari zaman yang sama. 

Apalagi menurut catatan sejarah, pada zaman dahulu pesisir utara Bali sebagai jalur pelayaran. Jadi tidak sedikit manusia pada peradaban tersebut tinggal di pesiisr pantai. Dengan temuan tersebut, pihaknya mengaku akan melakukan koordinasi dengan pihak desa dan desa pakraman setempat. Karena temuan tersebut  berada di sekitar areal suci, kawasan Pura Pulaki. “Kami masih berkoordinasi dengan masyarakat, bagaimana solusinya,” imbuhnya. 

Pihaknya menginginkan agar persepsi keilmuan tentang temuan purbakala ini bisa bersinergi dengan adat setempat. Untuk sementara penemuan tersebut masih di lokasi dan akan dipindahkan ketika keputusan bersama sudah ditetapkan.

Perbekel Desa Banyupoh Made Sukarata mengaku, masih menunggu kesepatakan dari aparat desa, termasuk desa adat. “Kami juga akan rembuk dulu, bagaimana sepatutnya. Baik dari segi adat dan budaya di sini, apakah nanti dikubur atau diserahkan ke Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala,” katanya. 

KIsah Nak Barak dan Pasukan Macan Gading dari Gianyar, Bali

blog-sejarah.blogspot.com
sumber: nusabali.com
Pulau Bali penuh kisah unik yang bersangkut-paut dengan legenda. Kali ini kisah tentang Nak Barak dan Pasukan Macan Gading. Apa itu? Harian Nusa Bali menuturkannya dengan apik pada tanggal 27 April 2016. 

Desa Pakraman Perean, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar merupakan desa hulu (paling utara) di wilayah Gumi Seni. Kepercayaan Desa tua yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangli (Desa Sekaan, Kecamatan Kintamani) ini meyakini, 10 krama Desa Pakraman Perean jadi Pasukan Macan Gading.

Krama adat di Desa Pakraman Perean mencapai 416 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 1.515 jiwa. Mereka tinggal di satu banjar adat dan satu banjar dinas, yakni Banjar Perean. Dari 1.515 jiwa krama Desa Pakraman Perean itu, sebanyak 10 orang di antaranya menjadi Pasukan Macan Gading, Kenapa?

Sepuluh (10) krama yang disebut jadi Pasukan Macan Gading ini sejak lahir hingga kakek-nenek berkulit dan berbulu kemerah-merahan. Bahkan, giginya juga kemerahan. Oleh warga setempat, 10 krama mirip albino ini disebut sebagai Nak Barak (manusia merah).

Nak Barak yang ada di Desa Pakraman Perean saat ini paling kecil berusia 9 tahun dan tertua usia 95 tahun. Dari jumlah itu, 4 di antaranya perempuan, selebihnya laki-laki). Mereka masing-masing I Wayan Yudiana, 9 (pria/masih duduk di Kelas III SD), Ni Kadek Puspita Dewi, 12 (wanita/duduk di Kelas VI SD), Ni Made Sadri, 40 (wanita/daha lingsir alias perawan tua), I Made Siram, 42 (pria), I Made Gading, 42 (pria), I Made Sudana, 45 (pria), I Wayan Rauh, 45 (pria), Ni Wayan Jingga, 60 (wanita), Ni Made Raji, 90 (wanita), dan I Wayan Raja, 95 (pria). 

Ciri-ciri lain Nak Barak itu, khususnya yang laki-laki, memiliki karakter kepribadian polos-polos, taat adat, sopan, tak pernah buat onar, dan rata-rata disegani orang lain. Secara umum, mereka dikenal bertubuh kuat, dalam arti lebih tahan terhadap serangan penyakit. Rumah krama Nak Mareh ini berjauhan antara yang satu dengan lainnya. 

Ke-10 krama Nak Barak di Desa Pakraman Perean juga tidak memiliki hubungan keluarga satu sama lain. Namun, di antara 10 krama Nak Barak ini, ada 4 orang di antaranya bersaudara kandung alias kakak-adik asal keluarga berbeda, yakni I Wayan Raja (usia 95 tahun) dan Ni Made Raji (usia 90 tahun) serta I Wayan Rauh (usia 45 tahun) dan I Made Siram (usia 42 tahun).

“Kami di sini juga tidak tahu jelas, apa penyebabnya kok ada saja warga kami lahir sebagai Nak Barak,’’ ungkap Kelian Dinas Banjar Perean, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, I Wayan Arus, saat ditemui NusaBali di kediamannya, Minggu (24/4) lalu.

Paparan senada juga disampaikan tokoh Desa Pakraman Perean, Jero Bahu Penanggapan Ketut Sudiasa, 34. Menurut Jero Bahu Sudiasa, berdasarkan penuturan para tetua yang diwarisi secara turun temurun, keberadaan Nak Barak di Desa Pakraman Perean tidak terlepas dari kisah peperangan Kerajaan Gianyar vs Kerajaan Bangli saat memperebutkan wilayah di sekitar Desa Pupuan pada masa silam. Saat itu, sudah muncul sejumlah warga dengan warna tubuh merah. Mereka diketahui kuat-kuat dan kebal serangan musuh. 

Karena kekuatan fisiknya, Nak Barak kemudian dijatikan pepatih oleh Raja Gianyar. Nak Barak pun diutus Raja Gianyar untuk mengamankan batas utara wilayah Gumi Seni. “Para pepatih bertubuh merah itu kemudian dikenal dengan sebutan Pasukan Macan Ggading (Harimau merah, Red),” jelas Jero Bahu Sudiasa.

Jero Bahu Sudiasa menyebutkan, Nak Barak tersebut adalah utusan dari Kerajaan Gianyar untuk mengamankan wilayah utara dari serangan musuh. Saat pasukan Kerajaan Bangli menyerang wilayah utara Gianyar hingga membakar rumah-rumah warga di sekitar Banjar Perean, ratusan krama setempat lari menyebar untuk menyelamatkan diri. 

Ada yang lari ke Banjar Mantring, Desa Petak (Kecamatan Gianyar), ada yang ke Desa Tampaksiring (/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar), ada pula ke Banjar Kulub, Desa Tampaksiring (Kecamatan Tampaksiring, Gianyar), bahka ada yang sampai lari ke Banjar Antugan, Desa Jehem (Kecamatan Tembuku, Bangli). Para pelarian ini kemudian diberi nama warga Babanuan. 

Namun, setelah wilayah utara Gianyar aman dan terbebas dari serangan musuh, sejumlah warga Babanuan itu kembali ke Desa Pakraman Perean dan tinggal menetap hingga sekarang. “Warga Babanuan dari pelbagai banjar di Gianyar dan Bangli itu pasti tangkil ke pura-pura di Desa Pakraman Perean setiapkali ada piodalan dan karya. Ini pertanda lingsir-lingsir (tetua) kami dulunya satu rumpun di Desa Pakraman Perean,’’ jelas Jero Bahu Sudiasa.

Jero Bahu Sudiasa juga mendapatkan cerita dari tetuanya bahwa Desa Pakraman Perean kini tidak lagi memiliki purana (sejenis catatan tentang asal-usul desa). Masalahnya, purana itu sudah terbakar di Banjar Mantring, Desa Petak saat rumah warga Babanuan dari Desa Pakraman Perean dibakar oleh pasukan Kerajaan Bangli ketika mengamankan diri di sana.