Friday, December 02, 2016

Legenda dan Asal-usul Gunung Rinjani

Ternyata, menurut Legenda, Rinjani (atau disebut pula Anjani) merupakan putri raja yang mengiringi ayahnya untuk bertapa di Gunung. Oleh para jin dan makhluk halus, Rinjani dijadikan Ratu. Itu sebabnya Gunung di Pulau Lombok dinamai Gunung Rinjani.

Ada berbagai versi cerita rakyat yang ada kaitannya dengan Gunung Rinjani. Salah satu di antaranya berkaitan dengan seorang raja yang bernama Datu Tuan. Kerajaan Datu Tuan tidak jauh dari pelabuhan Lembar, yang kini dikenal dengan julukan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sang Raja sangat bijaksana. Permaisurinya cantik dan baik hati. Namanya Dewi Mas.

Kerajaan sangat aman, tenteram dan makmur. Sayang sang raja belum juga dikaruniai anak. Hingga beliau meminta izin Dewi Mas, sang permaisuri untuk mendapatkan istri baru. Permaisuri Dewi Mas mengizinkan. Maka dipinanglah gadis cantik bernama Sunggar Tutul, putri Patih Aur.

Semenjak itu raja lebih sering tinggal bersama istri baru. Namun permaisuri tetap sabar. Hingga akhirnya Dewi Mas mengandung.

Sunggar Tutul istri barunya merasa keberadaannya terancam, dibuatlah intrik. Raja dihasut dengan kata-katanya bahwa kehamilan Dewi Mas karena Dewi Mas serong dengan seseorang bernama Lok Deos. Raja percaya kata-kata Sunggar Tutul dan membuang Dewi Mas ke salah satu gili (pulau). Dewi Mas dengan sabar taat akan perintah Baginda. Ia pergi diiringi para pengiring.

Suatu hari sebuah perahu besar lewat dan nahkoda melihat putri bersinar-sinar cantik jelita. Kemudian sang nahkoda mampir. Dewi Mas mengisahkan semua kejadian. Nahkoda Kapal membawanya ke Pulau Bali. Akhirnya Dewi Mas dan pengiringnya tinggal di Pulau Bali.

Tak berapa lama, lahirlah anak kembar lelaki dan perempuan. Yang lelaki kelahirannya disertai sebilah keris sedang yang perempuan lahir dengan anak panah. Bayi lelaki dinamai Raden Nuna Putra Janjak dan yang perempuan Dewi Rinjani.

Tumbuh semakin besar mereka mulai menanyakan ayahnya. Sang ibu tak kuasa berbohong dan menceritakan pengalamannya. Raden Putra Janjak memohon kepada ibunya agar dipertemukan ayahnya. Ia pamit ke Pulau Lombok disertai para pengawal.

Putra Janjak hendak masuk istana ayahnya dan dihalangi oleh para penjaga. Para penjaga dikalahkan oleh Putra Janjak hingga sang raja mendengar kehebohan tersebut.Baginda Datu Taun dan anaknya saling adu kekuatan namun keduanya tak bisa saling melukai. Hingga terdengar bunyi gaib dari angkasa yang menyetakan Putra Janjak adalah anak dari baginda. Dipeluknya Raden Nuna Putra Janjak.

Setelah mendengar cerita dari Raden Nuna Putra Janjak , maka Baginda Datu Tuan segera menjemput permaisuri ke Bali.

Baginda Datu Taun sudah semakin tua dan akhirnya menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya. Datu Taun kemudian menyepi di gunung diiringi putrinya Dewi Rinjani. Di puncak gunung itulah baginda dan puterinya bertapa bersemedi memuja Yang Maha Kuasa. Di puncak gunung ini Dewi Rinjani diangkat oleh para Jin dan mahluk halus menjadi Ratu.


Sejarah Carok dan Clurit di Madura


Orang-orang Madura mengenal istilah Carok dan Clurit. Bagaimana asal-usul atau Sejarah Carok dan Clurit? 

Carok berasal dari bahasa Kawi artinya perkelahian. Perkelahian umumnya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar, umumnya di Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. Persoalannya adalah Kedudukan, perselingkuhan, rebutan harta, dendam turun-temurun.

Secara harfiah, Carok itu Ecacca Erok Erok yakni dibantai atau dimutilasi. D. Zawawi Imron, Budayawan dari Madura yang dijuluki Clurit Emas dari Sumenep menyatakan Carok itu pembauran budaya yang tidak sepenuhnya dari Madura. Carok merupakan putusan akhir bila masalah tidak bisa diselesaikan. Di dalamnya terkandung makna harga diri.

Sejatinya, carok mulai muncul sejak zaman penjajahan Belanda pada abad ke-18 masehi saat kemunculan legenda Pak Sakera. Siapa Pak Sakera? Mandor tebu di Pasuruan yang tak pernah meninggalkan celurit kalau dia pergi ke kebun. Celurit dijadikan simbol perlawanan bagi rakyat.

Sebelum era tersebut , abad ke-12 saat Madura dipimpin Cakraningrat dan abad ke-14 saat Madura dipimpin Joko Tole, belum ada istilah Carok. Masa Panembahan Semolo, putra Bindoro Saud, Putra Sunan Kudus anad ke-17 juga belum ada Carok. Mereka hanya mengenal senjata tombak, pedang, keris dan panah sebagaimana umumnya prajurit-prajurit kerajaan. Hingga permulaan berdirinya Majapahit yang didukung oleh kerajaan Sumenep, maupun sebelumnya pada masa Tumapel hingga Singasari yang jatuh oleh kerajaan Gelang-Gelang Kediri yang dibantu pasukan Madura, senjata Clurit masih belum ada. Bahkan pada masa penyerbuan ke Batavia oleh Fatahillah yang dibantu pasukan Madura, juga mereka masih bersenjatakan Keris atau yang lainnya (bukan Clurit). Bahkan pada peristiwa Branjang Kawat dan Jurang Penatas, sama sekali tak ada senjata clurit disebut-sebut. 

Hanya Calok yang disebutkan dalam babat Songenep. Calok sendiri merupakan senjata Kek Lesap (1749) yang memberontak dan hampir menguasai semua dataran Madura. Senjata Calok juka pernah dipakai balatentara Ayothaya Siam dalam perang melawan kerajaan lain. Pada masa itu yang popular berbentuk Calok Selaben dan Lancor. Konon senjata Calok dibawa prajurit Madura ke Siam sebagai bagian dari bala bantuan kerajaan Madura dalam pengamanan di tanah Siam. 

Setelah Pak Sakera dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, rakyat mulai melakukan perlawanan dengan celurit. Namun Belanda mengadu-domba. Golongan Blater (jagoan) yang menjadi mata-mata Belanda diadu domba dengan rakyat dan seringkali Blater inilah yang melakukan carok waktu itu.

Clurit diberikan Belanda kepada Blter dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik senjata.

Kalau Clurit dianggap simbol perlawanan rakyat jelata oleh Sakera, Belanda mencitrakan Clurit sebagai senjata para jagoan dan penjahat. Sebagian masyarakat Madura terasuki hal itu. Bahwa kalau ada persoalan diselesaikan dengan jalan carok demi menjunjung harga diri. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya dan tidak sadar itu hasil rekayasa penjajah Belanda. Tapi tidak semua masyarakat Madura seperti itu. Mereka umumnya dari golongan santri dan keturunan orang-orang yang melawan penjajah Belanda pada zaman dulu.


Tragedi Bere Temor

Tahun 1970-an terjadi peristiwa tragis yang oleh orang Madura disebut Tragedi Bere Temor (Barat Timur). Yakni gap antara blok Madura Barat yang diwakili Bangkalan dan Madura Timur diwakili Sampang. Hampir setiap hari konon terdapat pembunuhan baik di pasar, sawah dan kampung. Saat itu istilah Carok dan Clurit makin terkenal. 

Sebagaimana dijelaskan tangtungan.com, pada masa Bere temor tersebut beberapa desa seperti Rabesen barat dan Rabesen Timur, Gelis, Baypajung, Sampang, Jeddih cukup mewarnai. Tragedi tersebut terjadi hingga keluar dari Madura, yakni Surabaya dan beberapa daerah lainnya. 

Menurut H.Abdul Majid, seorang tokoh Madura asal Beypanjung-Tanah Merah,  Carok jaman dulu adalah perkelahian duel hidup mati antara kedua belah pihak yang bertikai. Carok pada masa itu selalu identik dengan duel maut yang berujung dendam pada keluarga berikutnya. 

Hafil M, seorang tokoh Madura juga menerangkan bahwa pada masa itu setiap orang yang hendak bercarok akan melakukan satu ritual khusus dengan doa selamatan ala Islam kemudian melekan dan mengasah Clurit mereka serta mengasapinya dengan dupa. Keesokan harinya, mereka menghiasi mukanya dengan angus hitam. 

Ungkapan senada juga disampaikan oleh Mas Marsidi Djoyotruno. Setiap orang yang bertemu meski tidak kenal akan langsung saling bunuh asal mereka dari dua kubu tersebut.tak peduli mereka bertikai atau tidak. Ini semua dilakukan demi harga diri desanya atau yang lainnya. 

Perkembangan disain clurit sendiri baru mulai betul-betul khusus untuk membunuh, diperkirakan masa revolosi 1945. Resimen 35 Joko Tole memberontak pada Belanda di pulau Madura. Belanda yang dibantu pasukan Cakra (pasukan pribumi madura) berhadapan dengan pasukan siluman tersebut. Meski tidak semua pasukan resimen 35 Joko Tole ini memiliki senjata Clurit, namun kerap terjadi pertarungan antara pasukan Cakra dengan resimen 35 Joko Tole ini kedua belah pihak sudah ada yang menggunakan senjata Clurit, meski hanya sebatas senjata ala kadarnya. 

Desain clurit yang sekarang ini kita lihat merupakan disain dari peristiwa Bere’ Temor (barat-timur) yang menghebohkan ditahun 1968 hingga 80-an. Pada masa ini disain clurit mulai dikenal dengan berbagai bentuk. Mulai dari Bulu Ajem, Takabuan, Selaben hingga yang lainnya. Dan pada peristiwa tersebut Clurit mulai jadi kemoditi bagi masyarakat Madura. 

Wednesday, November 30, 2016

Legenda Asal-usul Madura: Putri Tengger Lahirkan Raden Segara

Pulau Madura itu ada legendanya. Madura ternyata berasal dari kata Madu dan Ara. Madu ya Madu. Ara itu Tanah Lapang. Jadi Madura ada hubungannya dengan madu di tanah lapang. Juga, legenda Madura ternyata berhubungan dengan lokasi wisata terkenal yakni Tengger di Pegunungan Bromo. Kok bisa?  

Alkisah kerajaan terkenal di Pegunungan Tengger namanya Medangkamulan dengan rajanya Prabu Gilingwesi yang sangat terhormat. Patihnya, Prabu Pranggulang sangat pandai dan cerdik.Prabu Gilingwesi memiliki putri cantik yakni Ayu Tunjungsekar yang tidak mau bersuami. Sang Prabu sangat resah namun menghargai pilihan putrinya. 

Sampai pada suatu malam sang putri Tunjungsekar tidur dan bermimpi berjalan di kebun yang indah. Sayup-sayup terdengar tembang pangeran yang merdu merayu. Sang Putri sangat menikmati keberadaannya di kebun itu. Tiba-tiba bulan purnama muncul dari langit tanpa awan. Putri sangat terpesona. Seolah tahu sang putri sangat senang, bulan tersebut turun, makin dekat dengan sang putri, lantas masuk ke tubuh sang putri. Saat itu sang putri terbangun. 

Setelah itu Putri Tunjungsekar ternyata hamil. Tentu saja Raja terpukul dan murka. Beliau tidak percaya kehamilannya diakibatkan mimpi. Maka diputuskan untuk membunuh Putri Tunjungsekar. Diutuslah Patih Pranggulang untuk membawa putrinya ke Hutan. Berljalan dan berjalan hingga sampailah keduanya du hutan lebat namun dekat laut. 

“Ki Patih", ujar Tunjungsekar. "Silakan hukum mati aku. Tetapi kalau Ki Patih tidak bisa membunuhku, berarti aku benar," sambung Tunjungsekar. ”


Patih Pranggulang mengayunkan pedang ke Putri Tunjungsekar. Namun, sebelum menyentuh tubuh Putri Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Ki Patih juga berusaha mengayunkan ke leher Putri Tunjungsekar, tetapi sebelum menyentuh leher sang Putri, pedangnya malah terpental. 


“Tuan Putri, kiranya benar”,  kata Patih. 


”Hamba akan membuat rakit untuk Tuan Putri. Berakitlah melalui laut ini, hamba yakin nanti Tuan Putri akan menemui daratan. Hamba sendiri tidak akan pulang ke kerajaan, tetapi akan bertapa di sini untuk mendoakan agar Tuan Putri selamat,” tambahnya.


Tunjungsekar pun kemudian menaiki rakit. Malam demi malam dilalui. Saat purnama, perut Tunjungsekar terasa sangat sakit. Lahirlah seorang bayi laki-laki. Karena lahir di laut, bayi itu diberi nama Raden Sagara. Sagara dalam bahasa Madura artinya laut.


Beberapa hari kemudian tampak sebuah pulau. Rakit menepi, Tunjungsekar sambil mendekap bayinya turun dari rakit. 


Ketika sampai di darat, Raden Sagara yang baru berumur beberapa hari tiba-tiba melocat ke tanah. Ia pun kemudian berlari kesana kemari dengan riangnya. Tubuh Raden Sagara pun cepat bertambah besar. Mereka terus berjalan dan tiba di tanah lapang. Dalam bahasa Madura tanah lapang disebut ra-ara.

Di sudut tanah lapang, Raden Sagara melihat sebatang pohon. Dia mendekati pohon itu. Di dahan paling rendah ada sarang lebah yang cukup besar. Ketika Raden Sagara mendekat lebah-lebah bertebangan menjauh, seolah-olah mempersilahkan Raden Sagara untuk mengambil madunya. Kemudian Raden Sagara pun dapat menikmati madu bersama ibunya sepuas-puasnya. Karena mereka menemukan madu di tanah lapang yang luas, tempat itu kemudian diberi nama Madura, yaitu berasal dari kata madu era – ara, artinya madu di tanah yang lapang. Raden Segara kemudian menjadi penguasa tanah Madura untuk kali pertama. 

Situs Aer Mata "Sarifah Ambani" di Arosbaya Lengkapi Sejarah Madura

foto: detik travel

Salah satu tempat wisata di Madura yang sedang naik daun adalah Situs Aer Mata di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Ternyata, situs ini merupakan peninggalan penting dan berhubungan dengan Sejarah Madura. Bagaimana kisahnya? 

Letaknya di sisi utara, sekitar 30 km dari arah Kota Bangkalan. Di sini terdapat situs makam Islam Kuno dengan arsitektur budaya Hindu-Budha. 

Bangunan ini didirikan abad ke-15 atau 16. Sampai sekarang masih tersusun indah tanpa semen. Bahannya batu putih seperti pualam yang diambil dari sekitar makam. 

Tiga cungkup utama makam berukuran 40x20 meter merupakan makan Ratu Ibu Syarifah Ambami, Panembahan Tjakraningrat II dan Tjakraningrat III. Ada pula makam Panembahan Tjakraningrat V, VI dan VII yang bergelar Tjakradiningrat I. Makam Ratu Ibu dikelilingi pagar kayu dilapisi kain warna hijau.

 "Gaya arsitektur dan seni ukir di Aer Mata mempunyai ciri khas perpaduan Hindu, Budha dan Islam," ujar Hasan Fajri, Juru Kunci makam.

Menurut Vivanews, untuk menuju ke Makam Ratu Ibu tersebut, paling tidak kita melewati stiga pintu masuk, yang desainnya mirip dengan candi. Makam Ratu Ibu ada di sisi paling utara, bangunannya paling tinggi. Di sisi selatan atau bawah banyak makam kuno yang konon merupakan makam keturunan atau abdi dalem Ratu Ibu. 

Siapakah Ratu Ibu yang diagungkan tersebut? Nama beliau Sarifah Ambani,yang konon melahirkan para raja Madura. Menurut sejarah, memang Sarifah Ambani merupakan keturunan Sunan Giri dari Gresik. Ia dinikahi Pangeran Cakraningrat I dari Madura.

Cakraningrat I memerintah Madura pada tahun 1624 atas perintah dari Sultan Agung dari Mataram. Walau demikian, ia lebih banyak tinggal di Mataram mendampingi Sultan Agung. Istri Cakraningrat yang bernama Sarifah Ambani inilah yang selalu tinggal di Kraton Sampang. Mungkin karena itu dia diberi gelar Ratu Ibu.

Sarifah merupakan istri yang patuh semua perintah sang suami. Sarifah juga rajin bertapa di Desa Buduran Kecamatan Arosbaya-Bangkalan.

Sebagaimana diceritakan juru kunci Pemakaman Aermata, yang dikutip dari Babad Madura, Ratu Ibu senantiasa memohon pada Tuhan agar keturunannya dapat menjadi pemegang pucuk pimpinan di Madura hingga tujuh turunan. Dalam pertapaannya ia bertemu Nabi Khidir A.S yang dianggap oleh Ratu Ibu sebagai pertanda bahwa permohonannya akan dikabulkan.


Ratu Ibu pun kembali ke Kraton Sampang. Saat suaminya, Pangeran Cakraningrat I datang dari Kesultanan Mataram, mimpi tersebut diceritakan. Pangeran Cakraningrat I justru marah karena istrinya hanya memohonkan untuk tujuh turunan. Seharusnya semua keturunan mereka selamanya menjadi pemimpin Madura. 

Sedih hati Ratu Ibu. Ia kembali bertapa dan memohon permintaan suaminya dikabulkan. 

"Permohonan disampaikan Ratu Ibu terus menerus sambil menangis. Ratu Ibu akhirnya meninggal dan di tempat pertapaannya inilah ia dimakamkan. Karena menangis saat bertapa. itulah yang menyebabkan pemakaman ini akhirnya diberi nama Aer Mata atau air mata.

Tahun 1975 kompleks Aer Mata diikut sertakan dalam lomba dan pameran seni arsitektur peninggalan Purbakala se-Asia mewakili Indonesia DAN mendapat nilai tertinggi.

Tuesday, November 29, 2016

Aturan Pendakian Gunung Agung Sesuai Kepercayaan Lokal

foto: kompas

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Gunung Agung merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Di Gunung tersebut terdapat istana dewa. Oleh karena itu, siapa pun pendaki Gunung Agung, sudah seharusnya mentaati aturan adat setempat, yakni:

1. Tidak Mendaki Saat Hari Besar Keagamaan
Untuk menjaga kesucian Gunung Agung, para pendaki harap tidak melakukan aktivitas mendaki saat hari besar keagamaan, di mana umat melakukan pemujaan, baik di Pura Besakih maupun Pura Pasar Agung. Banyak pura di sekitar gunung agung letaknya lebih rendah dari jalur pendakian. Akan tidak etis bila para pendaki melakukan aktivitas pendakian, di atas sementara di Pura orang-orang sedang beribadah. 

2. Perempuan Datang Bulan Dilarang Mendaki
Perempuan datang bulan dianggap dalam keadaan kotor, bila mendaki akan merusak kesucian Gunung Agung. 

3. Jangan Bawa Makanan dari Daging Sapi
Sapi itu disucikan umat Hindu. Bila pendaki membawa bekal makanan berasal dari daging sapi, dipercaya dalam pendakian membawa sial.  

4. Jumlah Pendaki Harus Genap
Dipercaya, jumlah pendaki yang ganjil akan membawa kesialan.