Thursday, March 22, 2018

Asal-usul Si Ngekek Lovebird di Indonesia

Tentu kita tahu, sekarang Lovebird sedang naik daun. Tidak hanya di antara peternak burung yang asli, namun para peternak unggas lain, misalnya, kini juga ramai-ramai memelihara burung ini. Terutama bila burung tersebut berasal dari keturunan yang ngekeknya panjang. Saat ini banyak lomba ngekek digelar. Nilai ekonomis lovebird sedang menjulang membuat banyak orang beternak.  Sesungguhnya apa itu lovebird dan bagaimana sejarahnya?

Lovebird atau burung cinta termasuk satu dari sembilan jenis spesies genus Agapornis (dari bahasa Yunani "agape" yang berarti "cinta" dan "ornis" yang berarti "burung"). Ukurannya 13 sampai 17 cm dengan berat 40 sampai  60 gram. Lovebird berasal dari alam luar Afrika: Namibia, Angola, Tanzania, Kenya, Mozambik, Malawi, Zimbabwe, Victoria, Zambia, Eritrea, Ethiopia dan Madagaskar. Mereka hidup di lubang-lubang pohon atau di gua-gua di Afrika sana.

Mengapa Dinamakan Lovebird? Karena sepasang burung cinta akan duduk berdekatan dan saling menyayangi satu sama lain. Sifatnya monogami di alam bebas. Umur hidup rata-eata 10 sd 15 tahun.

Di Indonesia burung ini ditangkar berpasangan atau dijadikan hiasan dalam sangkar.Sungguh menyalahi sifat aslinya yang gemar berkoloni. Maka dari itu, sebaiknya peliharalah lovebird secara bersama-sama agar tidak mudah mati.

Oh ya, orang Indonesia memang sangat menggemari burung. Mereka memanfaatkannya sebagai hiasan ataupun dilombakan, baik fisik maupun suaranya. Tak heran kalau burung-burung di alam bebas yang bisa berkicau kini sudah jarang kita temui di habitatnya. Kini mereka banyak kita temui di rumah-rumah penghobi.
Orang Indonesia senang dengan hal-hal baru. Termasuk barang-barang dari luar negeri. Lovebird masuk ke Indonesia, di tahun 1995, jumlahnya masih sedikit dan murah harganya. Lovebird dianggap sebagai burung hias, belum ada lomba kicauan khusus lovebird. Lovebird kemudian dijadikan burung master untuk burung kicauan.Tahun 2000-an harganya melambung tinggi.Per ekor warna hijau standard bisa mencapai 10 juta rupiah saat itu. Sehingga banyak sekali yang menangkarkannya.

Di Indonesia, burung lovebird dinikmati dari segi suaranya.Makin panjang ngekeknya, harganya makin  tinggi.Penampilan fisik tidak terlalu diperhatikan. Beda jauh dengan para peternak lovebird di luar negeri yang hanya ada kontes kecantikan. Burung lovebird dinikmati dari segi fisik, seperti warna bulu yang cantik, menawan, rapi dan variatif. Serta bentuk tubuh yang montok. Para peternak di sana benar – benar menomor satukan penampilan fisik si lovebird.

Bahkan aturan kontes di luar negeri sangat ketat. Jika ada peternak yang ingin mengikuti kontes, maka burung yang diikutkan kompetisi harus berasal dari penangkarannya sendiri.
Oh ya, lovebird slaty, Misty, Parblue, Biola pertama dikembangkan di luar negeri.Para peternak luar negeri benar – benar memahami ilmu genetika. Mereka tidak asal dalam hal menyilangkan lovebirdnya. Itulah mengapa mereka sangat ahli dalam menciptakan warna – warna baru yang sangat menawan.

Sampai sekarang, banyak jenis lovebird yang tercipta seperti:Albino, Lutino, Agapornis roseicollis, Agapornis pullaria, Agapornis personata, Agapornis lilianae, Agapornis nigrigenis, Agapornis fischeri, Agapornis taranta, Agapornis cana, Agapornis swinderniana, Lovebird Pastel, Lovebird Cobalt, Lovebird Batman, Lovebird Merah, Lovebird Albino, Lovebird Olive, Lovebird Parblue, Lovebird Blorok, Lovebird Halfsider, Lovebird Australian Cinnamon, Slaty, Misty, Biola.Peternak Indonesia menjadi konsumen/ penikmat hasil silangan peternak luar negeri.

sumber

Tuesday, March 20, 2018

Sejarah Agama Buddha dan Siddharta Gautama


SEJARAH / ASAL MULA 
AGAMA BUDDHA 
DI INDONESIA LIHAT DI SINI  
==============================

Agama Buddha identik dengan Siddharta Gautama. Siapakah Siddharta Gautama? Dialah Sang Buddha. Dialah penyebar agama Buddha. Berikut ini kisah tentang Siddharta dan Sejarah Agama Buddha. 

Saat lahir dan kematian tidak pasti. Tapi para sejarawan memperkirakan ia lahir tahun 563  SM. Khotbah-khotbah dan peraturan keagamaan dirangkum setelah kematiannya lan dihafalkan oleh para pengikutnya.

Ayah Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana. Ibunya adalah Ratu Maha Maya Dewi yang meninggaltujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Pangeran Siddharta dirawat Ratu Maha Pajapati, bibinya yang juga istri Raja Suddhodana.

Kelahiran pangeran di Taman Lumbini ini tergolong istimewa. Saat itu Ratu Maya berdiri memegang dahan pohon sak. Saat lahir dua arus kecil jatuh dari langit. Dingin dan hangat, kemudian membasuh seluruh tubuh sang bayi sehingga bersih tanpa noda. Siddharta langsung bisa berdiri dan melangkah ke utara. Tempat pijakannya ditumbuhi teratai.

Para Pertapa meramal Sang Pangeran ke;ak akan menjadi maharaja dunia. Hanya satu pertapa, yakni pertapa Kondanna meramal pangeran kelak menjadi Buddha.

Mendengar ramalan ini sang raja cemas karena jelas kalau pangeran jadi Buddha, tidak ada yang mewarisi kerajaannya.

Oleh pertapa dijelaskan, bila tidak ingin pangeran menjadi Buddha, jangan sampai melihat empat peristiwa yakni:
1. Orang tua
2. Orang sakit
3. Orang mati
4. Pertapa

Pangeran Siddharta tumbuh jadi anak cerdas dan belajar berbagai ilmu saat masih kecil. Namun Raja Suddhodana tidak tenang siang lan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana lan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal.

Untuk itu baginda benar-benar memproteksi Siddharta. Pangeran diberi kemewahan dan dijauhkan dari segala bentuk penderitaan seperti sakit, umur tua, dan kematian. Padahal itu mustahil. Pangeran dikurung di istana hingga merasa bosan. Akhirnya beliau ada kesempatan untuk berjalan keluar dan kaget melihat kondisi yang sangat berbeda dari kehidupan kesehariannya. Ada orang sakit, meninggal, orang tua, dan pertapa. Waktu itu Siddharta berpikir hanya kehidupan suci yang bisa menjawab semua persoalan. 

Sejak itu pergolakan batin terus menghantui dan pada usianya yang ke-29saat kelahiran bayinya, Rahula, ia meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, mencari ilmu sejati. Ia bertapa dan berguru pada orang pintar tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang  diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima pertapa.

Pernah dalam pertapaannya ia mendengar suara orang tua menasihati anaknya di atas perahu sing melintasi sungai Nairanjana: Bila senar kecapi iki dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, lan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi iki dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu. 

Nasehat tersebut sangat berarti. Ia memutuskan menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya sing tinggal tulang hampir tidak sanggup menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Gautama melanjutkan samadhi di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya.  "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna, " begitu sumpahnya.

Gautama mencapai Pencerahan Sempurna , tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah sing berarti kasih sayangdan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, Gautama mendapat gelar kesempurnaan antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata ('Ia yang Telah Datang', Ia yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') lan sebagainya. Lima pertapa sing mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha sing mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah sing ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya sing menjelaskan "Empat Kebenaran Mulia".

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih lan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Ajaran Buddha: 
Ajaran Buddha antara lain Empat Prasetya berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang tidak terbatas, yaitu:
  • Berusaha menolong semua makhluk.
  • Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  • Mempelajari, menghayati lan mengamalkan Dharma.
  • Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.
SEJARAH / ASAL MULA AGAMA BUDDHA DI INDONESIA LIHAT DI SINI

Monday, March 19, 2018

Sejarah Agama Buddha di Indonesia


Agama Buddha yang disebarkan pertama kali oleh Siddharta Gautama, di Indonesia dikenal sejak ratusan tahun yang lalu, mulai zaman Kerajaan Sriwijaya dan Mojopahit. Bagaimana Sejarah masuknya Buddha di Indonesia? 

Indonesia merupakan wilayah yang strategis bagi tumbuh berkembangnya agama-agama besar dunia, termasuk agama Buddha. Letak di antara dua benua dan dua samudra memungkinkan para pedagang dunia hilir-mudik.

Nusantara dijadikan jalur pelayaran strategis antara India ke China dan sebaliknya. Mereka tidak hanya berdagang tapi juga mempengaruhi dalam bidang kebudayaan dan proses penyebaran agama.

Semula, Hindu adalah agama yang dianggap paling tinggi kedudukannya. Mereka mengenal sistem kasta. Yang bisa mempelajari dengan baik Agama Hindu hanya kalangan kasta tertentu. Agama Buddha yang datang tidak mengenal kasta dan menyebar dengan cepat di berbagai kalangan.

Agama Buddha di Indonesia masuk awal abad pertama atau saat dimulainya perdagangan melalui jalur laut. Pada abad ke-7 mulai ada kerajaan besar yang beragama Buddha di Indonesia yakni  Srivijaya (Sriwijaya) di Suvarnadvipa (Sumatera). Dibuktikan dengan catatan It-Tsing, sarjana dari China yang melakukan perjalanan ke India dan Nusantara.
 
Biarawan Buddha lainnya yang mengunjungi Indonesia adalah Atisa, Dharmapala, seorang Profesor dari Nalanda, dan Vajrabodhi, seorang penganut agama Buddha yang berasal dari India.

Kerajaan lain di Nusantara / Indonesia yang beragama Buddha selain Sriwijaya adalah Tarumanegara dan Mataram kuno. Semua kerajaan itu berperan dalam proses perkembangan agama Buddha di Indonesia, pengaruh India pada masa kerajaan-kerajaan itu sangat terasa.

Di Jawa juga berdiri kerajaan Buddha yaitu kerajaan Syailendra, tepatnya sekarang berada di Jawa Tengah, meskipun tidak sebesar kerajaan Sriwijaya, kerajaan ini meninggalkan beberapa peninggalan penting yaitu candi-candi Buddha yang masih berdiri hingga sekarang, salah satunya adalah Candi Borobudur. Selain itu ditemukan juga lempengan batu berwarna di satu puing rumah bata yang diperkirakan kamar Bhiksu Buddha. Lempengan batu itu berisi 2 syair Buddhist dalam bahasa Sansekerta yang ditulis dengan huruf Pallawa.

Namun pada perkembagannya kini, sebagaimana dikutip dari buddha,  pengaruh India kian memudar. Justru pengaruh dari negeri Tionghoa lah yang paling mendominasi agama Buddha sampai saat ini, terbukti dari bentuk bentuk patung, tempat sembahyangnya, maupun seluruh ornamen dalam Agama Buddha saat ini lebih didominasi unsur Tionghoa ketimbang India.

Hal ini di sebabkan oleh banyaknya orang Tionghoa beragama Buddha yang berdagang di Indonesia sejak zaman dahulu, sehingga proses perkembangan Agama Buddha lebih banyak di dominasi oleh kebudayaan orang Tionghoa ketimbang dari India.

Apa itu Hari Raya Nyepi?

Pernahkah berlibur di Bali bertepatan dengan hari raya Nyepi? Anda mesti melalui hari-hari di hotel ataupun rumah kerabat yang sunyi senyap. Tanpa listrik dan internet. Tanpa ada yang keluar rumah. Bisa Anda manfaatkan waktu untuk introspeksi.

Orang Hindu Bali  meyakini inilah saat yang tepat untuk menjalani Catur Brata alias puasa dari nyala api, kerja, bepergian, dan hiburan yang saban waktu terhidang di sekeliling Anda. Buat orang Hindu, Nyepi yang berlangsung setahun sekali itu memang peringatan tahun SAKA, yakni tahun barn Bali yang bermula pada tahun 78 masehi. Namun yang paling penting, hari tersebut merupakan peringatan upacara pengorbanan, yanglazim disebut Butha Yadnya. Intinya, pencucian dan pengharmonian kembali alam beserta seisinya yang telah kotor. Filosofi Nyepi sendin berhubungan dengan kepercayaan antara bulan Dewa dan Bulan Butha/bulan kotor.

Bulan dewa adalah bulan suci yang jatuh antara bulan ke-9 sampai ke-5, sedangkan bulan kotor jatuh antara bulan ke-5 sampai ke-9. Penyebab bulan kotor tak lain adalah ketidaksadaran manusia yang senantiasa bikin ulah di muka bumi ini.

Bulan yang paling kotor adalah bulan ke-9 dari tahun saka. Orang Bali biasa menyebutnya sebagai Kesanga. Hari paling suram dan kotor, otomatis adalah hari terakhir dari bulan ke-9. Atas dasar inilah nyepi yang identik dengan hening dijalani umat Hindu Bali. Tujuannya jelas mencuci dosa-dosa dan penderitaan yang disebabkan umat manusia, dilakukan secara spiritual.

Rangkaian upacara Nyepi terdiri dari Melasti, Tawur Kesanga, lantas dilanjutkan dengan acara Nyepi itu sendiri pada hari "H". Melasti yang bermakna sebagai pawai dewa dilakukan 3 hari sebelum nyepi. Tujuannya berserah diri pada Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagan dewa air yang disebut Wisnu. 

Umat Hindu Bali mengambil air suci dari lautan untuk membersilikan semesta dan seisinya secara bersama-sama. Saat ini, mereka jalan beriringan mcnuju pantai dengan baju adat yang meriah. Kepala mereka menjunjung berbagai persembahan. Kalau Tawur Kesanga, belangsungnya sehari sebelum nyepi. Tujuannya, harmonisasi segala yang ada di muka bumi, termasuk hubungan manusia dengan "I'uhan, dengan manusia lain, dan dengan semesta ini. Mulai senja sekitar pukul 18.00 Wita, umat Hindu keluar rumah dan berkumpul di jalan-jalan, mengusung ogoh-ogoh. 

Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh sendirn merupakan boneka yang sangat besar dan tinggi, dibuat warga masing-masing banjar di Bali. Baik wajah maupun bentuknya dibikin sangat seram, biasanya berwujud raksasa. 

Namun yang nampak sebagaimana binatang purba macam dinosaurus pun ada. Bahan bakunya bambu, kayu, kertas semen, cat, tali, dan benang. Benda yang wujudnya mengerikan ini merupakan simbol kekuatan jahat yang mesti dilenyapkan. 

Sebelum diarak keliling, ogoh-ogoh "dihidupkan" secara spiritual. Setelah diarak, benda mengerikan ini pun dibakar.

Sesungguhnya, pembuatan ogoh-ogoh sendiri tidak diwajibkan agama. Ini semata kreativitas umat. Namun kreasi itu tidak boleh bertentangan dengan filosofi agama. 

Ogoh-ogoh mulai dikenal luas di Bali pada tahun 1980-an. Sebelum tahun itu, simbol kekuatan jahat tersebut cuma dibikin desa­desa tertentu di Bali. Pada saat senja, dulu orang Bali biasa memakai obor clan berkumpul di jalanan untuk menandai akhir tahun saka. Namun, bisa jadi karena naluri kesenian orang Bali begim kuat, kreasi ogoh-ogoh pun muncul sebagan visualisasn kekuatan jahat.

Ogoh-ogoh yang beraneka rupa dan diusung di jalanan itu sudah pasti memacetkan jalan-jalan. Tapi dijamin Anda tidak akan jengkel jika terjebak kemacetan akibat pawai ogoh-ogoh. Bentuk-bentuk boneka seram itu yang beraneka itu akan membikin Anda tertawa geli. Maka, jangan lewatkan pawai ogoh-ogoh setahun sekali di Bali, sebelum memasuki suasana nyepi yang serba hening.

Stephen Hawking dan Albert Einstein, Fenomena Reinkarnasi?

Tanggal 14 Maret 2018, kita kehilangan salah satu pemikir terbesar, fisikawan ikonik dan ahli kosmologi Stephen Hawking yang meninggal pada usia 76. Ternyata, Stephen Hawking meninggal tepat pada hari ulang tahun atau tanggal kelahiran Albert Einstein. Dia meninggal pada hari Pi (Pie day), yang merupakan perayaan tahunan konstanta matematika π. Hari Pi dirayakan setiap Maret tanggal 14 karena 3, 1, dan 4 adalah tiga angka penting pertama dari konstanta π. Dan warga twiiter juga memperhatikan, baik Stephen Hawking dan Albert Einstein meninggal pada usia yang sama. 

Banyak kesamaan antara Hawking dan Einstein sehingga para peneliti reinkarnasi sangat tertarik dengan fenomena ini. Apa saja? 

1. Sama-sama Menderita Penyakit Otak

Hawking didiagnosis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) pada sangat dini. ALS adalah penyakit neuro-degeneratif yang perlahan-lahan mengikis saraf yang mengendalikan gerakan sukarela, membuatnya hidup di kursi roda sepanjang masa.  
Einstein menderita sindrom Asperger ringan, gangguan perkembangan yang ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi nonverbal, serta attention deficit disorder (ADD)


2. Sama-sama Menikah Dua Kali 

Keduanya menikah dua kali sepanjang hidup. Einstein bercerai dengan Mileva Maric kemudian menikah dengan Elsa Lowenthal. Hawking menceraikan Jane Wilde dan menikah dengan Elaine Mason

3. Sama-sama Berminat pada Jagad Raya

Baik Hawking maupun Einstein tertarik pada luasnya ruang, lubang hitam, lubang cacing, dan perjalanan waktu. Namun, Einstein melihat sesuatu dari sudut pandang relativistik sementara Hawking lebih fokus pada fisika kuantum.

4. Sama-sama Menganggap Salah Satu Gagasan Mereka adalah Kesalahan Terbesar

Kedua ilmuwan tersebut menganggap salah satu gagasan mereka sebagai "kesalahan terbesar" yang telah mereka buat. Bagi Einstein, kesalahan itu adalah konstanta kosmologis yang diperkenalkannya ke persamaan relativitas umum. Bagi Hawking, kesalahan itu seharusnya "kehilangan informasi" di lubang hitam. 

 5. Sama-sama Mengilhami Budaya Populer di Hollywood

Einstein telah dipuja oleh Hollywood, dengan film seperti 'Einstein and Eddington' (2008), 'Young Einstein' (1988), 'Ide Besar Einstein' (2005), dan 'Einstein Revealed' (1996). Semua merayakan kerja dan hidupnya untuk pengetahuan. Hawking juga mengilhami film-film seperti 'The Theory of Everything' (2014), 'A Brief History of Time' (1991), 'Beyond the Horizon' (2005), dan 'Hawking' (2013). Dia juga wajah akrab dalam budaya pop. Dia tampil sebagai cameo dalam acara seperti 'The Simpsons', 'The Big Bang Theory', 'Futurama, dan' Star Trek: The Next Generation ', sebagai bagian dari sainsnya..

6. Sama-sama  Memiliki Citarasa Humor yang Tinggi

Rasa humor yang sehat dianggap sebagai tanda kecerdasan. Ketika seorang fotografer membujuk Einstein untuk tersenyum saat ulang tahunnya yang ke 72, dia menjulurkan lidahnya, menciptakan salah satu foto paling ikon sepanjang masa. Einstein mengklaim bahwa humor memberi kekuatan pada kecerdasannya yang cemerlang.
Hawking terkenal dengan selera humornya yang luar biasa. Semua orang dari siswa sampai selebriti seperti John Oliver, ingat selera humornya yang sangat tinggi. 

7. Sama-sama 14 Maret (March 14 Connection)

Hawking meninggal pada hari ulang tahun Einstein 14 Maret. Kebetulan? Mungkin. Juga Einstein dan Hawking meninggal saat mereka berusia 76 tahun. Pergi tapi tidak pernah terlupakan! 

.