Uang dari Ngeklik

Rabu, Maret 05, 2014

Sejarah Ritual adat Pesta Kacang (werung lolong) di Lembata, NTT



Foto: Yogi Making
Ritual adat tahunan di Nusa Tenggara Timur antara lain adalah Pesta Kacang alias werung lolong (bahasa Lewohala-Red) . Pesta ini boleh dikata sebagai ucapan rasa syukur atas melimpahnya rezeki yang diberikan Tuhan selama satu tahun. Uniknya, Pesta Kacang adalah pemersatu suku-suku yang tersebar di 7 kampung di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Bagaimana kisahnya? 

Tujuh kampung yang memiliki 77 suku yang mengikuti ritual adat ini adalah Riang Bao,Ohe, Woipuke, Muruone, Kimakama, Woi Waru, Baopuke. Suku-suku ini berkumpul di Kampung Adat Lewohala, yang berada sekira 3 kilometer dari puncak Gunung Ile Lewotolok. Masing-masing suku menempati satu rumah adat.

Puncak upacara Werung Lolong ditandai dengan acara U’te Taha Lango Bele atau Sora U’te Lango  Bele (makan kacang di rumah besar), di mana semua suku dari strata tertinggi (Wung Bele-Lamaholot, Red) berkumpul di Lango Bele (rumah besar) untuk makan bersama.

Menuju uta taha lango bele, sebelumnya pada setiap suku di rumah adat masing-masing wajib melewati dua porses ritual, yakni ritual yang digelar khusus untuk rumah adat atau upacara Pau Lango (upacara memberi makan rumah adat suku, dan proses pembersihan diri setiap anak suku. Dua upacara ini dipimpin oleh Kwina (suami dari saudari dalam suku).

Ritual Pau Lango
Upacara memberi makan rumah adat adalah bentuk dari rasa syukur kepada rumah adat sebagai tumpangan para lelehur suku, yang dipercaya selalu melindungi dan memberi rezki kepada setiap anak suku. Upacara ini diawali dengan “Hodi Ama Opo” (jemput arwah leluhur), dalam upacara ini, pemimpin suku memanggil semua arwah anak suku yang sudah meninggal. Penjemputan arwah leluhur dilakukan di depan pintu rumah adat, lalu dibawah masuk rumah, kemudian disemayamkan di tiang kanan rumah adat.
Proses kemudian dilanjutkan dengan “Teke Lau” atau “Pau Lango” dalam upacara ini, kwina bersama salah satu anak suku memberi sesajian berupa Tuak dan tumbukan beras dicampur ekor ikan kerapu putih. Setiap sudut rumah dan pasak pada bagian utama rumah di beri sesajian dan diperciki tuak. Pau lango dikahiri dengan, memerciki darah ayam jantan pada bagian rumah yang sudah di beri sesajian.

Ritual Pembersihan Diri
Werung lolong, merupakan momen untuk memanggil pulang semua anak Lewohala baik yang ada di kampung halaman Ile Ape, juga yang sedang merantau di luar Pulau Lembata. Werung lolong juga merupakan momen untuk mempertemukan putra Lewohala dengan para leluhurnya.

Oleh karenanya, orang Lewohala yakin kalau pertemuan dengan leluhur suku dan leluhur Lewohala bisa terjadi bila semuanya datang dengan sebuah ketulusan. Bila ada silang sengketa di antara anak suku, proses ritual adat di lango suku (rumah suku) tidak bisa berjalan normal.
Pembuktian ketulusan hati setiap anak suku terhadap panggilan kampung halaman dan leluhur ini, dilakukan dengan proses “Ha’pe Manu” (gantung anak ayam). Ritual hape manu diawali dengan semua anak suku yang hadiri dipanggil satu persatu untuk memegang anak ayam sambil mengucap janji, dan menyampaikan niat.

Apabila semua niat anak suku tulus, maka anak ayam yang akan digantung sampai mati ini, kedua kakinya terbuka lurus, sebagai tanda lapangnya jalan. Namun sebaliknya, bila kedua kaki anak ayam menyilang, berarti masih ada persoalan yang menyelimuti suku. Upacara ha’pe manu ini dipimpin oleh seorang dukun kampung (molan lewu) didampingi ata kwina dan ketua suku.

Upacara selanjutnya adalah “Ge’he Kenehe” (membuat api menggesekan dua bilah bambu). Upacara ini berkaitan dengan Ha’pe Manu. Ketulusan semua anak suku yang datang ke rumah suku mulai diukur. Ata Kwina (suami dari saudari dalam suku) mengambil peran menggesek bilah bambu.

Bila semua anak suku hadir dengan ketulusan maka proses pembuatan api berjalan lancar. Namun jika terdapat masalah, api tidak akan muncul, walau asap ngepul menyelimuti bilah bambu.

Di sini, peran sang molan lewu untuk mencari tahu persoalan. Satu persatu masalah di dalam suku disebut, sambil kwina terus menggesek bilah bambu, hingga akar masalah ditemukan.

Api dari hasil gesekan bambu itu, kemudian dibawa kwina untuk diserahkan kepada istrinya yang sedang menunggu di tungku utama rumah adat. Api ditungku utama yang dihidupkan oleh istri dari kwina (saudari dalam suku) akan dimanfaatkan untuk memasak minyak kelapa. Minyak kelapa dimaksud, dimanfaatkan untuk mengurapi semua anak suku.

Pengurapan (Haru Dula-Lewohala, Red) kepada anak suku ini dilakukan oleh kwina. Satu persatu anak suku diurapi kwina dan diasapi dengan dupa. Upacara ini dimaksud untuk mendoakan agar sang anak suku selalu mendapat berkat dan diberi rezki selama setahun,selain membuat janji untuk tidak lagi mengulang kesalahan yang pernah di buat.Pengurapan dan pengasapan ini, juga dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit tertentu.

Setelah dua rangkaian acara ini dilakukan, acara selanjutnya adalah makan bersama. Pisang dan ayam bawaan setiap anak suku dibakar, kemudian dibagikan kepada semua anak suku yang hadir. Tidak lupa, acara makan bersama ini pun menghadirkan juga semua suku kle (suku kaka adik) untuk hadir di acara ini. Upacara ini disebut dengan “Tunu Muku Manu” (Bakar pisang dan ayam).
Sebagai gambaran, rangkaian ritual adat pada setiap suku ini dilakukan pada malam sebelum U’te Taha Lango Bele.

U’te Taha Lango Bele Atau Sora U’te Lango Bele
Upacara ini, merupakan acara yang sangat ditunggu warga Lewohala. Betapa tidak, semua anak suku Wung Belen berkumpul pada sebuah rumah besar (lango bele) untuk makan bersama. Kegembiraan tampak pada wajah semua anak Lewohala yang hadir disini.

Semua pria masing-masing suku, hadir ke lango bele dan sang istri membawakan makan berupa nasi dari beras yang dimasak campur dengan kacang nasih, dengan lauk ikan kerapu putih. Acara makan bersama ini boleh dibilang sangat meriah, karena dihadiri oleh ribuananak Lewohala.

Sama seperti proses yang dilakukan semua rumah adat masing-masing suku. Sebelum makan bersama dimulai, suku yang menjadi tuan rumah (Laba Making) yang menempati Lango be’le terlebih dahulu menggelar ritual Haru Dula (pengurapan), khusus untuk suku yang menempati Lango be’le ini, ritual haru dula di saksikan oleh semua anak Lewohala.

Segera setelah upacara Haru Dula selesai, dan proses memberi makan leluhur di tiang kanan rumah adat, makan yang dibawah para perempuan suku, dibagikan kepada semua anak suku yang hadir. makan bersama pun di mulai.

Upacara ini, selain untuk mewujudnyatakan ucapan syukur bersama sebagai orang Lewohala yang sudah menerima berkah selama satu tahun berjalan, pun merupakan moment untuk mengikat eratkan semua anak lewohala yang dalam kesehariannya saling berjauhan, untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup.
Ritual makan bersama di lango bele ditutup dengan diskusi umum semua anak Lewohala. Banyak hal yang dibicarakan dalam diskusi ini, termasuk mencari solusi bersama untuk mengatasi persoalan antar suku. Pada intinya, diskusi dimaksud bertujuan untuk membahas persoalan kampung, dan mecari jalan keluar terbaik.

Tahapan Menuju Werung Lolong
Ritual “Werung Lolong” merupakan ritual adat tahunan yang digelar secara rutin oleh anak keturununan Kampung Lewohala. Upacara ini dilaksanakan pada minggu ketiga atau minggu keempat bulan September atau pada minggu kedua dan ketiga bulan Oktober, setiap tahunnya. Pesta kacang ditetapkan berdasarkan kalender musim orang Lewohala, dan dihitung pada saat bulan kabisat, atau orang Lewohala menyebutnya dengan ‘Wulan Lei Tou’

Untuk menuju upacara Werung Lolong masyarakat adat Lewohala terlebih dahulu melewati beberapa  tahapan. Porsesi ini diawali dengan pemberitahuan dari Bele Raya (Penguasa Adat Lewohala). Bele Raya Lewohala terdiri dari 4 suku, yakni Hali Making, Soro Making, Duli Making dan Do Making.
Prosesi diawali dengan upacara “Sewe Nuku” atau mengantung daun lontar pada sebua tongkat kayu di tengah “Namang Lewohala” (Pusat Kampung Lewohala), upacara ini dilakukan oleh Suku Purek Lolon. Sewe Nuku biasanya dilaksanakan minggu pertama bulan dalam bulan pesta kacang dilaksanakan.

Tahap kedua dalam upacara ini, “tuka kiwan lua watan,” yakni perjalanan dari gunung menuju pantai, oleh suku Purek Lolon dan Lamawalang. Ketika di pantai, mereka melempar sebungkus kecil daun lontar yang didalamnya berisi wua malu dan bako (siri pinang dan tembakau). Lemparan dilakukan oleh warga suku Lamawalang harus melewati pohon bakau disertai pukulan gong dan gendang, menandai pesta kacang akan berlangsung.

“Dora Dope” adalah berburu ayam dan Klope (ikan kecil yang biasa menempel di batang pohon bakau) perburuan ayam dilakukan didalam kampung, ayam yang diburu adalah ayam milik warga. Hasil tangkapan berupa ayam dan klope, akan digunakan untuk makan bersama saat pesta kacang.
Tahap keempat, “Pelu Belai” (makan nasi tumpeng adat).Makanan ini terbuat dari kacang panjang dan nasi dari beras merah yang dilaksanakan serentak anak-anak gadis dari suku Wungu Belumer yang dilaksanakan menjelang fajar menyingsing.

Tahap kelima, hodi elu (kesepakatan atau janji pesta).Membuat kesepakatan melaksanakan puncak pesta kacang.

Sora U’te Lango Bele atau Ut’e Taha Lango Bele merupakan tahapan ke enam, sebagai tahapan inti, dimana semua suku Wung Bele menggelar upacara makan bersama di Lango Bele (Rumah Besar).
Puncak pesta kacang sendiri terjadi pada tahap ke tujuh yang dilaksanakan serempak oleh suku Wungu Belen. Rangkaian selanjutnya adalah penu “koke Lera Tena,” sebagai acara pamungkas dari semua acara werung lolong.

Penu koke lera tena, dilaksanakan di korke, secara bersamaan oleh suku-suku wung bele dan suku wung belumer.

Di samping upacara sermonial adat, masyarakat adat Lewohala juga menggelar acara tari-tarian sebagaian ungkapan kegembiraan semua anak suku atas keberhasilan dan kegagalan yang diperoleh selama satu tahun.
Acara tari-tarian ini, digelar selama dua hari. Yakni hari pertama dilakukan sore hari setelah makan bersama di Lango Bele, atau disebut dengan “Neba Uel” dan hari kedua disebut dengan “Neba Bele”. acara ini terpusat di Namang (pusat kampung), dengan melibatkan semua anak suku.
 
sumber: floresbangkit.com

Kamis, Februari 06, 2014

Legenda / Asal-usul Desa Tenganan Bali


Desa Tenganan merupakan salah satu desa yang berpenghuni orang Bali Mula atau Bali Aga (Bali Asli) alias Bali yang bukan berasal dari keturunan Kerajaan Majapahit.  Saat Majapahit menduduki Bali, penduduk asli Bali lari ke beberapa wilayah di Bali, di antaranya ke Desa Tenganan, Bali Timur. Bagaimana hikayat Desa Tenganan?

Tersebutlah Tanah Tenganan sebagai pemberian Dewa Indra. Kisahnya bermula dari kemenangan Dewa Indra atas peperangan dengan Raja Mayadenawa yang otoriter. Dunia, karena peperangan itu, dianggap kotor, karenanya dibutuhkan upacara penyucian dengan kurban seekor kuda. Terpilihkan Oncesrawa, kuda milik Dewa Indra sebagai bakal kurbannya.


Kuda yang dianggap sakti itu memiliki bulu putih dengan ekor warna hitam yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Kuda yang diyakini muncul dari laut itu, melarikan diri ketika ia tahu bahwa dirinya akan dijadikan kurban. Dewa Indra kemudian menugaskan Wong Peneges, prajurit kerajaan Bedahulu, untuk mencari Oncesrawa
.
Orang-orang Paneges dibagi dalam dua kelompok, yaitu: Kelompok pertama mencari ke arah Barat dan kelompok kedua mencari ke arah Timur. Kelompok pertama tidak menemukan jejak kuda kurban, sedangkan kelompok kedua berhasil menemukan kuda tersebut dalam keadaan mati pada suatu tempat di lereng bukit, yang sekarang disebut bukit Kaja ‘bukit Utara’, Desa Tenganan Pegringsingan. Hal itu, segera diketahui oleh Dewa Indra. Selanjutnya, beliau bersabda untuk memberikan anugerah berupa tanah seluas bau bangkai tercium. Wong Peneges rupanya ‘cerdik’, mereka memotong-motong bangkai kuda itu dan membawanya sejauh yang mereka inginkan. Dewa Indra mengetahui hal itu, lalu turunlah Dewa 6 Indra sembari melambaikan tangan, sebagai tanda bahwa wilayah yang mereka inginkan sudah cukup. Wilayah itulah yang sekarang disebut sebagai Tenganan Pegringsingan.


Menurut cerita masyarakat setempat, Tenganan berasal dari kata ngatengahang(bergerak ke tengah). Ini berkaitan dengan cerita berpindahnya warga Tenganan dari pesisir Pantai Ujung mencari tempat lebih ke tengah.

Versi lainnya menyebut Tenganan berasal dari tengen(kanan). Ini berkaitan dengan cerita warga Tenganan berasal dari orang-orang Peneges. Peneges berarti pasti atau tangan kanan.
Kata Pegringsingan diambil dari kata gringsing yang terdiri dari kata gring dan sing. Gring berarti sakit dan sing berarti tidak . Jadi gringsing berarti tidak sakit , selain itu gringsing merupakan kain tenun ikat ganda khas Tenganan, sehingga diyakini orang yang memakai kain
Gringsing dipercaya dapat terhindar dari penyakit. Lebih kompleks lagi gringsing adalah penolak mara bahaya. Masyarakat Bali Aga percaya gringsing memiliki kekuatan magis yang melindungi mereka dari sakit dan kekuatan jahat. Tenganan adalah cerita tentang masyarakat yang terus berjuang mempertahankan identitas yang mereka banggakan sebagai orang Bali asli. Karena gringsing begitu penting dalam kehidupan masyarakat Tenganan, kain ini seperti cermin perjalanan kehidupan masyarakat setempat. Sampai sekarang masih ada yang mengira warna merah gringsing berasal dari darah. Mungkin kain gringsing merah yang digunakan paragadis dalam perang pandan menjadi penanda betapa beratnya pertarungan sang satria.

Kepercayaan mengenai kekuatan magis kain itu lalu menghasilkan mitos sendiri. Keunikan kain Gringsing inilah, antara lain, yang menjadikan Tenganan Pegringsingan memiliki nama atau dikenal di dunia pariwisata. Kemahsuran ini bertahan berkat praktik tradisionalisasi diri. Lihatlah misalnya, bagaimana Tenganan sanggup menghadirkan turis setiap harinya karena sejumlah praktik kehidupan dan berbagai benda tradisi selalu dihidupkan.
.
Berbagai upacara masuk ke dalam kalender budaya Tenganan. Sebutlah misalnya Usaba Kasa, Usaba Karo, Usaba Ketiga, Usaba Kapat, Usaba Sambah,dan seterusnya merupakan upacara tradisi yang hadir dalam wilayah ritual dan kesadaran akan industri pariwisata.

Dengan keunikan tradisi yang dimiliki itu, tak mengherankan bila desa yang terletak di kabupaten Karangasem ini sering dikunjungi turis. Mereka datang untuk menyaksikan keseharian masyarakat Tenganan dan tentunya kain tenun Pegringsingan yang sangat terkenal. Terlebih pada saat berlangsungnya Upacara 7 Usaba Sambah. Suasana Desa Tenganan pun bertambah ramai, bukan oleh wisatawan saja, tetapi juga karena banyak penduduknya yang pulang kampung. Oleh masyarakat setempat, upacara ini memang masih dianggap penting dan seluruh komponen masyarakat desa terlibat di dalamnya.

Sejarah Bali Kuno (Baliaga) Sebelum Majapahit Datang

Warga Bali juga memiliki penduduk asli yang disebut Baliaga. Ketika Majapahit menduduki Bali, mereka lari di beberapa wilayah seperti Desa Trunyan, Pedawa, dan Tenganan. Bagaimana kisahnya?
 
Tak hanya saat ini, dulu pun Bali sudah dikenal sebagai Pulau Dewata. Bahkan sebelum kedatangan Majapahit. Waktu itu sebuah kerajaan muncul pertama kali di Bali yaitu sekitar 914 Masehi (Sumber: prasasti yang ditemukan di Desa Blanjong Sanur, berangka tahun 836 saka). Rajanya “Khesari Warmadewa” memiliki istana yang ada di Singhadwala.

Khesari Warmadewa adalah Ugrasena pada tahun 915 M – 942 Masehi. Setelah meninggal, Abu dari jenasah dari raja Ugrasena dicandikan di Air Madatu. Ugrasena lalu digantikan oleh Jayasingha Warmadewa (960 M – 975 M). Dalam masa pemerintahannya, raja Jayasingha membangun dua pemandian di Desa Manukaya, yang letaknya sekarang di dekat istana negara Tapak Siring.

Raja Jayasingha Warmadewa digantikan Raja Jayasadhu Warmadewa (975 M – 983 M). Setelah wafat beliau digantikan oleh seorang Ratu yang bernama Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi (983 M – 989 M). Sesudahnya digantikan oleh Dharmodayana (989 M – 1011 M) yang disebut juga Raja Udayana.
Raja Udayana menikah dengan Gunapriayadharmapatni alias Mahendradatta dari kerajaan Medang Kemulan Jawa Timur. Dari perkawinannya menghasilkan 3 orang anak yaitu : Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Kemudian Airlangga menikah dengan putri Raja Dharmawangsa (raja Jawa Timur).

Raja Marakata menggantikan Raja Udayana sebab Airlangga berada di Jawa Timur. Raja Udayana wafat dan abu jenazahnya dicandikan di Banu Wka. Marakata diberi gelar Dharmawangsa Wardana Marakatta Pangkajasthana Uttunggadewa yang memerintah di Bali dari 1011 – 1022. Beliau Kemudian digantikan oleh Anak Wungsu (1049 – 1077) yang memerintah selama 28 tahun. Selama pemerintahannya, keadaan negara aman tenteram. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan dan meninggal tahun 1077 dan didharmakan di Gunung Kawi dekat Tampak Siring Gianyar Bali.

Setelah Anak Wungsu meninggal, Kerajaan di Bali tetap mengadakan hubungan dengan raja-raja di Jawa. Dan ada dikisahkan seorang raja Bali yang saat itu bernama Raja Bedahulu atau yang kenal dengan nama Mayadenawa, yang memiliki seorang patih yang sangat sakti yang bernama Ki Kebo Iwa.

Mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit kemudian datang ke Bali untuk menaklukan Bali di bawah kekuasaan Majapahit. Namun upaya ini tidak berjalan mulus karena Patih Gajah Mada tidak mampu mengalahkan Patih Kebo Iwa.

Gajah Mada kemudian mengajak Ki Kebo Iwa ke Jawa. Di sana Kebo Iwa diperdaya dan akhirnya Kebo Iwa dikubur hidup-hidup di dalam sumur dengan tanah dan batu. Namun dalam lontar Bali Ki Kebo Iwa tidak dapat dibunuh dengan cara yang mudah seperti itu. Tanah dan batu yang dilemparkan ke sumur balik dilemparkan ke atas. Pada akhirnya Patih Kebo Iwa menyerahkan diri sampai ia merelakan dirinya untuk dibunuh.

Setelah kematian Ki Kebo Iwa, barulah Bali dapat ditaklukan oleh Gajah Mada pada tahun 1343. Setelah Bali ditaklukan oleh kerajaan Majapahit, sebagian penduduk Bali Kuno melarikan diri ke daerah pegunungan yang kemudian disebut penduduk “Bali Aga”.

Saat ini keberadaan mereka dapat dijumpai di beberapa daerah di Bali seperti di desa Tenganan Karangasem, desa Pedawa di Buleleng, desa Trunyan di Bangli, dan beberapa desa Bali Aga yang lainnya. Mereka memiliki adat sendiri yang khas, berbeda dengan adat Bali pada umumnya.

sumber: 

Legenda Asal-usul Surabaya

Kota Surabaya memiliki legenda yang berhubungan dengan Hiu dan Buaya. Seperti apa legenda tersebut?

Sungai Kalimas dikuasai buaya. Semua makhluk air di sekitarnya tunduk padanya, demikian pula makhluk darat. Buaya menjadi penguasa yang kejam dan bengis. Dia memerintahkan agar setiap makhluk penghuni Sungai Kalimas memberi persembahan. Setiap hari dia minta disediakan makanan berupa ikan-ikan segar. Hal ini membuat semua makhluk air menjadi gelisah, tetapi mereka tidak berani melawan. Mereka tidak berdaya. Mereka hanya bisa pasrah.

Suatu hari, datanglah seekor ikan hiu ke Sungai Kalimas. Hiu bernama Sura itu memasuki wilayah kekuasaan Buaya. Sura menyatakan diri sebagai raja di Sungai Kalimas. Sura tidak lebih baik dari Buaya. Sura juga meminta agar semua makhluk air di Sungai Kalimas memberi persembahan kepadanya.

Hiu yang sama ganasnya dengan BuayaMerasa ada penyusup yang menduduki wilayahnya, Buaya menjadi marah. Buaya menjadi murka. Dia mendatangi Sura. Dia mengusir Sura. Dia menyuruh Sura untuk meninggalkan Sungai Kalimas. Sura tidak memperdulikan Buaya. Dia ingin menjadi penguasa Sungai Kalimas. Dia menantang Buaya untuk memperebutkan wilayah kekuasaan. Buaya menanggapi tantangan Sura. Mulailah mereka terlibat dalam suatu perkelahian.

Sura dan Buaya berkelahi dengan sangat seru. Air Sungai Kalimas bergolak hebat. Sura dan Buaya saling menyerang, saling menggigit. Darah mereka membuat warna air sungai menjadi merah. Jembatan di atas sungai itu juga menjadi merah terkena darah mereka. Perkelahian itu berlangsung berhari-hari.
Banyak orang menyaksikan perkelahian itu. Mereka bukan hanya penduduk di sekitar Sungai Kalimas, mereka juga datang dari beberapa daerah yang cukup jauh.

“Mau ke mana kamu?” tanya seorang petani kepada serombongan orang yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa.
“Kami mau melihat Sura dan Buaya berkelahi.” jawab mereka.
“Apa? Sura dan Buaya berkelahi? Di mana?”
“Di Sungai Kalimas.” jawab mereka
“Aku ikut.” kata petani itu.
Tetapi orang-orang itu sudah berada jauh darinya.

Petani itu pulang dan berkata kepada isterinya, “Aku mau melihat Sura dan Buaya berkelahi.”
“Aku ikut.” kata isterinya.

Ketika para tetangga melihat kepergian suami-isteri ini, mereka juga tertarik untuk pergi menyaksikan perkelahian Sura dan Buaya. Seisi kampung pun pergi bersama menuju tempat perkelahian antara Sura dan Buaya.

Ketika mereka melewati sebuah kampung, penduduk kampung itu ingin tahu kemana mereka pergi.
“Suro Boyo,” jawab mereka sambil berjalan tergesa-gesa.

Penduduk kampung itupun pergi ke ‘suro boyo’ yaitu tempat Sura dan Buaya berkelahi, di Sungai Kalimas. Di sana orang-orang saling berdesakan menyaksikan perkelahian itu.

Sementara itu, perkelahian telah berlangsung selama satu minggu. Perkelahian itu membuat Buaya kehabisan tenaga. Sura juga sangat kelelahan. Mereka menderita luka-luka. Akan tetapi tak ada yang mau mengalah. Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali saling menyerang. Mereka mengerahkan sisa-sisa tenaga, melancarkan serangan yang mematikan. Sura terkapar, tak bergerak. Buaya tergeletak, tak bergerak. Sura dan Buaya sama-sama mati.

Tempat di mana Sura dan Buaya berkelahi itu kemudian diberi nama Suroboyo (Surabaya). Jembatan di atas Sungai Kalimas yang menjadi merah karena darah Sura dan Buaya itu disebut Jembatan Merah. Di Kemudian hari, Suroboyo (Surabaya) menjadi sebuah kota dagang dengan daerah sekitar Jembatan Merah sebagai pusat kota. Seiring berjalannya waktu, Suroboyo berkembang ke arah selatan.

sumber

Rabu, Februari 05, 2014

Asal-usul Islam Wetu Telu

Mayoritas masyarakat Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok beragama Islam. Agama Islam sendiri mulai masuk ke pulau tersebut abad ke-16 akibat  penguasaan Lombok oleh orang-orang Jawa dan juga makasar. Konon, sebelumnya Suku Sasak telah menganut kepaercayaan Boda atau dikenal juga dengan Sasak Boda. Boda  tidak sama dengan Agama Budha karena orang sasak tidak mempercayai Sidharta Gautama sebagai sosok yang disembah. Kepercayaan ini lebih kepada animisme dan panteisme dimana pemujaan dilakukan terhada roh-roh leluhur dan dewa-dewa lokal.

Awal mula kedatangan Islam ke pulau Lombok adalah seiring perkembangan Islam di Nusantara dan keruntuhan Kerajaan Majapahit. Masuknya Islam ke tanah Lombok diduga dibawa oleh pedagang-pedagang muslim yang berniaga di Lombok yang kemudian menyebarkan agamanya.

Dalam Babad Lombok dijelaskan bahwa Sunan Ratu Giri memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke Indonesia bagian utara. Beberapa orang yang ditugaskan itu adalah Lembok Mangkurat dan pasukannya dikirim ke Banjar, Datu Bandan dikirim ke Selayar, Makassar,Tidore dan Seram, Pangeran Perapen mengirim anak laki-lakinya untuk berlayar menyiarkan Islam ke Bali, Lombok dan Sumbawa.

Setelah panggeran tiba di tanah lombok, Pangeran Prapen diterima dengan baik oleh Raja Lombok. Setelah memaparkan misi sucinya, Raja lombok pun bersedia masuk Islam. Akan tetapi Rakyat Sasak belum bisa menerima kehadiran agama Islam di tanah mereka sehingga Raja Lombok pun dihasut oleh rakyat sampai terjadi peperangan antara kedua belah pihak yaitu pasukanPpanggeran Prapen dan rakyat Sasak yang akhirnya dimenangkan pasukan Panggeran Perapen. Atas kemenangan tersebut, Panggeran Prapen dan pasukannya pun mengislamkan raja beserta kedatuan-kedatuan lainnya seperti Pejanggik, Langko, Parwa, Sarwadadi, Bayan, Sokong dan Sasak (Lombok Utara). Dan juga ada kedatuan-kedatuan yang dengan sukarela masuk Islam yaitu Parigi dan Sarwadadi. 

Panggeran Perapen juga mengislamkan masyarakat Lombok dan menghitan para lelaki serta mengharamakan pura, meru, babi dan sanggah. Pasca itu, Agama Islam berkembang dengan sangat pesat Di Pulau Lombok. Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor yang membuat Islam dengan mudah diterima di Tanah Lombok. 

Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah (1) Agama Islam dianggap sebagai agama yang demokratis, (2) Agama Islam bukan merupakan ajaran yang asing lagi bagi masyarakat Sasak, (3) penyebaran Agama Islam dilakukan juga secara damai seperti melalui pereragangan dan perkawinan, (4) terjadinya kekosongan rohani rakyat akibat runtuhnya Kerajaan Majapahit dan (5) dakwah dari para guru dan ulama yang intensif.

Munculnya Islam Wetu Telu
Pasca kesuksesan sunan perapen mengislamkan masyarakat Suku Sasak saat itu, Sunan Perapen bergegas meninggalkan Lombok untuk menyebarkan agama islam ke wilayah Sumbawa dan bima. Akan tetapi, sepeninggal Sunan Perapen timbul masalah baru di kalangan masyarakat suku sasak yakni kaum wanita suku sasak menolak memeluk Agama Islam. Tak hanya itu, masyarakat Sasak juga terpecah menjadi 3 golongan yaitu golongan yanga memilih mempertahankan kepercayaan lamanya dan lari ke hutan (orang Boda), golongan yang takluk dan memeluk islam (waktu lima) dan golongan yang hanya takluk pada kekuasaan sunan perapen (Wetu telu). Akibat dari adanya masalah ini Sunan Perapen akhirnya kembali lagi ke Lombok untuk meluruskan dan memperbaiki penyebaran Islam di Lombok.

Dari ketiga golongan tersebut, Islam Wetu Telu adalah golongan yang keberadaannya masih bertahan sampai sekarang. Islam wetu telu sendiri adalah kepercayaan orang sasak yang mengaku Islam tapi masih mempraktikan ritual-ritual agama Hindu, Budha, Animism dan Boda seperti pemujaan terhadap roh leluhur dan para dewa. hal ini disebabkan oleh proses Islamisasi yang belum tuntas sebagai penyebab utama munculnya Islam Wetu Telu. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut (1) Kedatangan Islam pada saat kuatnya kepercayaan tradisional seperti animisme, dinamisme, dan Boda, (2) dominasi ajaran Hindu Majapahit yang telah berakar kuat di masyarakat, (3) para muballigh dan ulama yang menyampaikan ajaran agama Islam terburu-buru meninggalkan tempat tugasnya untuk menyebarkan agama Islam ke tempat lain seperti Sumbawa, Dompu, dan Bima, (4) para murid yang menjadi kepanjangan tangan para mubaligh dan ulama belum memiliki kemampuan menafsirkembangkan ajaran islam secara rasional dan (5) metode dakwah yang sangat toleran  dengan komitmen tidak akan merusak adat istiadat setempat.

Islam Wetu Telu Kekinian
Masyarkat Sasak pada umumnya adalah penganut Islam yang umum atau bisa diebut dengan ajaran islam Waktu Lima. Penganut Islam Wetu Telu saat ini hanya sekitar 1% dari jumlah masyarakata keseluruhan. Persebarannya sendiri kawasan Tanjung dan beberapa desa di kecamatan Bayan seperti Loloan, Anyar, Akar-Akar, dan Mumbul Sari serta dusun-dusunnya memusat di Senaru, Barung Birak, Jeruk Manis, DasanTutul, Nangka Rempek, Semokan dan Lendang Jeliti. Ajaran islam wetu telu sebenarnya secara formal sudah tidak ada sejak tahun 1968. Pada saat itu para tokohnya sudah menyatakan meninggalkana ajaran tersebut dan memutuskan bergabung bersama pemeluk agama islam pada umumnya. Namun, kebudayaan Wetu Telu sendiri masih hidup dan dipertahankan sebagai kebudayaan warisan leluhur yang harus dilesatrikan.

Salah satu wilayah yang masyarakatanya masih menganut  kepercayaan Wetu Telu adalah Bayan Beleq. Di wilayah ini terdapat mesjid kuno yang biasa dipakai untuk melaksanakan ibadah shalat. Untuk memasuki mesjid ini tidak bisa sembarang memakai pakaian tapi harus memakai sarung dan kemeja putih. Selain itu juga di wilayah ini masyarakat melakukan berbagai upacara adat terutama dalam rangka bertani seperti upacara adat bonga padi. Masyarakat disini juga sangat tabu melupakan leluhur karena bisa mengakibatkan terjadi bencana.

Masih bertahannya kebudayaan wetu telu hingga saat ini tidak semata-mata atas dasar kepercayaan masyarakat terhadap warisan leluhur. Akan tetapi, masyarakat juga percaya bahwa dengan berpegang teguh pada tradisi warisan nenek moyang maka kehidupan pun akan berlangsung dengan baik dan jauh dari bencana. Hal ini dijelaskan oleh pemangku adat di wilayah setempat menurut salah satu sumber. Menurutnya, persepsi masyarakat seringkali salah dalam mengartikan kepercayaan Wetu Telu. Umumnya orang beranggapan bahwa Wetu Telu adalah salah satu ajaran islam yang bermakna keseluruhan ibadah dalam Islam yang disimbolkan dengan Wetu (waktu) dan Telu (tiga). Sebenarnya, Wetu Telu adalah sebuah konsep kosmologi kepercayaan leluhur yang berarti kehidupan ini tergantung 3 jenis reproduksi yakni beranak (manganak), bertelur (menteluk) dan berbiji (mentiuk). Ini merujuk pada keseimbangan alam yang harus senantiasa lestari sebagai cikal bakal kehidupan yang baik.

Masyarakat Wetu Telu juga sangat mementingkan nilai cultural dari tanah, seperti tanah-tanah tempat bangunan suci, pemakaman keramat dan sumber air. Masyarakat wetu telu juga menjaga hutan yang terdapat sumber air yang akan mengaliri sawah mereka atu biasa disebut hutan Tabu. Msayarakat wetu telu percaya bahwa bila mengusik segala hal yang ada di hutan termasuk tumbuhan dan hewan maka akan terkena kutukan. Masyarakat juga memiliki tradisi memotong kayu dari hutan 8 tahun sekali untuk memperbaiki mesjid adat. Di balik berbagai persepsi masyarakat umum tentang kepercayaan wetu telu, kepercayaan ini menyimpan banyak nilai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, dimana kehidupan akan lebih baik dengan menjaga keseimbangan alam agar tetap lestari.