Wednesday, February 05, 2014

MITOS GUNUNG SINABUNG

Bagi sebagian warga Karo, Gunung Sinabung rupanya mempunyai mitos tersendiri. Apa saja mitos-mitos di sekitar Gunung Sinabung, Sumatra? Berikut ini dirangkum dari berbagai sumber:



Lau Kawar, Danau di kaki Sinabung
Ada berbagai versi berkait dengan kemunculan danau ini.
Versi I: Danau ini ada karena tangisan seorang ibu melihat anaknya Sinabung dan Sibayak terus berkelahi. Versi II: Danau ini merupakan tangisan seorang ibu yang begitu bersedih karena saat anak dan menantunya mengadakan pesta adat, tak sedikit pun mengingatnya.
Versi III:  Dulu hidup seorang nenek yang memilih tinggal di puncak Gunung Sinabung, sementara anak, cucu dan keluarganya berdiam di kaki gunung. Suatu ketika, keluarganya mengadakan pesta dan mengutus seorang cucu untuk mengantarkan makanan kepada sang nenek.Namun di tengah perjalanan, cucu yang kelaparan menghabiskan makanan yang dibawanya. Mengetahui hal ini, nenek yang murka lalu menampar dan menyumpahi cucunya. Karena terus menangis, air mata cucu tersebut lama-kelamaan akhirnya membentuk sebuah danau.

Beberapa pantangan di wilayah Sinabung: bersikap dan bicara tidak sopan, berbuat asusila, memotong anjing, atau membuang pembalut wanita ke danau. Kalau dilanggar, maka penunggu danau dan gunung akan marah yang ditandai dengan datangnya badai.

Mitos lain adalah, gunung yang kini sedang bererupsi tersebut disebut warga suka 'beraksi' pada akhir pekan tepatnya hari Sabtu dan Minggu. Hal itu dilontarkan oleh Warga Desa Suka Gungung, Asmara Sembiring, yang sudah tinggal di lereng Sinabung selama puluhan tahun. Dia mengatakan letusan pertama Sinabung terjadi tanggal 28 Agustus 2010 yang jatuh tepat pada hari Sabtu. Pada 2013 September erupsi pertama Sinabung terjadi pada 15 September yang jatuh pada hari Sabtu. Pada titik inilah para warga di sekitaran Gunung Sinabung mengungsi. "Selanjutnya pada 14 Desember 2013 hari Sabtu datang pula hujan Abu disertai lumpur yang mengguyur Desa Kuta Gungung dan Sigarang-garang," sambung Asmara saat ditemui detikcom, Selasa di Desa Kuta Gungung, Selasa (4/2/2014).

Terakhir, lanjut Asmara, Desa Sinabung mengeluarkan awan panas pada Tanggal 1 Februari 2014 Sabtu pagi. Di tanggal tersebut, erupsi Sinabung memakan korban jiwa hingga 15 jiwa. Asmara mengatakan mitos Sinabung yang selalu beraksi pada akhir pekan sudah sangat santer di kalangan masyarakat Karo.


sumber
sumber




Wednesday, January 08, 2014

Sejarah Imlek

Imlek adalah perayaan tahun baru Cina yang populer di Indonesia. Bagaimana sejarah atau asal-usul Imlek? 

Masyarakat Tionghoa memiliki berbagai macam adat istiadat atau festival yang merupakan suatu bentuk penggambaran kebiasaan sehari -hari, tradisi, dan mitos yang berkembang di masyarakat.
Pada awal mulanya berbagai macam perayaan mempunyai sejarahnya tersendiri yang kemudian mengalami perubahan karena pengaruh dari berbagai agama di sekeliling masyarakat Tionghoa.

Salah satu perayaan terpenting yang dilaksanakan setiap awal tahun sebagai wujud syukur atas segala rahmat yang diberikan Tuhan adalah perayaan Imlek atau “Sintjia” .

Pada dasarnya kata Imlek merupakan penanggalan yang berdasarkan perhitungan bulan (lunar) yang berasal dari dialek Hokkian Selatan, sehingga dapat dikatakan tahun baru Imlek berarti tahun baru menurut penanggalan bulan.
Hal ini juga dapat dilihat dari setiap ucapan selamat tahun baru seperti guo nian hao (selamat menjalani tahun baru), gon he xin xi (hormat bahagia menyambut tahun baru), gong xi fa cai (hormat bahagai berlimpah rezeki).

Penanggalan Imlek pertama kali dimulai pada 2637 SM pada masa pemerintahan Kaisar Oet Tee atau Huang Ti (2698 - 2598 SM).

Pada awalnya penanggalan Imlek disebut He Lek yaitu penanggalan berdasarkan pada penanggalan Dinasti He atau Hsia (2205 - 1766) yang penetapan tahun barunya jatuh pada musim semi.
Hal ini berubah pada pemerintahan Dinasti Cou atau Chin (1122 - 255 SM) tahun barunya jatuh pada musim dingin. Nabi Khongcu melihat bahwa tahun baru menurut penanggalan Cou tidak sesuai keadaan rakyat yang kekurangan karena musim dingin yang panjang. Oleh karena itu dia menetapkan kembali penggunaan penanggalan He.

Pada pemerintahan Kaisar Han Bu Tee (140 - 86 SM) dari Dinasti Han, Konghucu ditetapkan sebagai agama negara dan penanggalan He resmi dipakai. Untuk tahun pertamanya dihitung dari tahun kelahiran nabi Khongcu (551 SM).

Menurut kisah legenda Tiongha, disalah satu desa di Cina terdapat seekor hewan buas Nian (raksasa) berbadan besar yang menyerupai singa pemakan manusia yang datang dari pegunungan.
Nian biasanya muncul di akhir tahun untuk memakan apa saja yang ditemuinya, termasuk hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa.

Pada hari kemunculan Nian, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada setiap awal tahun untuk melindungi diri.
Mereka meyakini, dengan melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil panen.

Pada suatu ketika, ada penduduk yang melihat Nian tidak berani mendekati anak kecil yang sedang bermain petasan dengan mengenakan baju merah, Nian tersebut ketakutan dan berlari menuju hutan.

Setelah itu, penduduk desa percaya bahwa Nian takut dengan warna merah. Sehingga mulai saat itu, setiap memasuki tahun baru maka penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu.
Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi moda perayaan Tahun Baru hingga sekarang.

Di Indonesia, pada masa pemerintah orde baru sejak 1968 hingga 1999, masyarakat keturunan Tiongha dilarang melakukan perayaan tahun baru Imlek di depan umum. Hal itu berdasarkan atas Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, yang dikeluarkan oleh Presiden Soeharto, yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk di antaranya tahun baru Imlek.

Namun, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, mendapatkan kebebasan untuk merayakan tahun baru Imlek, yaitu di mulai pada tahun 2000.
Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mencabut Inpres Nomor 14/1967. Dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Selanjutnya perayaan Imlek di Indonesia mengalami perubahan pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu Hari Libur Nasional, oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003 hingga saat ini.

sumber

Tradisi Pemakaman Langit: Mayat-mayat Disantap Gagak

Namanya Tradisi Pemakaman langit. Tradisi di satu daerah di Tibet ini memberikan jenazah yang sudah dipotong-potong menjadi santapan burung pemakan bangkai.


Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Kamis (25/7), pemakaman langit adalah praktik penguburan yang dilakukan di Provinsi Qinghai, di Wilayah Tibet, dan di Mongolia Dalam, serta Mongolia.
Sebagian besar masyarakat di Tibet dan Mongolia merupakan penganut ajaran Buddha Vajrayana, yang mengajarkan adanya perpindahan roh atau reinkarnasi.
Ini berarti mereka tidak melihat tubuh manusia sebagai suatu kebutuhan untuk dipertahankan, layaknya sebuah bejana kosong, sehingga mereka menghilangkannya melalui pemakaman langit.
Dalam beberapa hari sebelum upacara pemakaman para rahib, yang dikenal sebagai lama, akan melantunkan mantra di sekitar jenazah dan membakar kemenyan. Tubuh jenazah kemudian akan dipotong-potong oleh para biksu, atau lebih umumnya para Rogyapas (pemecah tubuh).
Para pemecah tubuh melakukan tugas itu berdasarkan ajaran Buddha. Proses ini akan membuat kemudahan bagi jiwa yang meninggal terus berlanjut.
Beberapa cerita menjelaskan bagian-bagian tubuh yang tersisa akan ditaruh di Menara Keheningan selama satu tahun, di mana mayat pria dan wanita akan ditempatkan di bagian yang berbeda.
Ketika nantinya hanya tinggal tulang yang tersisa, maka tulang-tulang itu juga akan dipecah-pecahkan dengan palu dan ditumbuk sampai halus, untuk dijadikan makanan bagi burung yang lebih kecil, seperti gagak dan elang.
Fungsi pemakaman langit adalah untuk membuang sisa tubuh manusia melalui kebaikan yakni dengan cara memberikan daging manusia untuk burung pemakan bangkai. Ini lantaran akan menyelamatkan kehidupan binatang-binatang kecil yang kemungkinan akan dijadikan santapan bagi burung pemakan bangkai.

sumber

Thursday, November 07, 2013

Inilah Para Wali (lebih dari Sembilan) Penyebar Islam di Jawa




Wali Songo atau Sembilan Wali merupakan guru Sufi yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Mereka dipercaya memiliki daya batin yang lebih daripada orang kebanyakan sehingga seringkali muncul kisah atau mitos mengenai mereka. Asal-usul wali ini tidak selalu jelas dan banyak yang meyakini, wali-wali tidak hanya berjumlah sembilan. Namun penjelasan yang paling mungkin adalah, ada sebuah dewan longgar sembilan tokoh agama , dan bahwa bila anggota yang lebih tua pensiun atau meninggal , anggota baru akan menggantikannya .

Peran paras wali ini sangat besar terutama menghubungkan dinasti-dinasti yang ada di Pulau Jawa. Mereka berhubungan dengan Sultan Yogya dan Surakarta, penguasa Mataram, sampai Majapahit. Mereka sangat populer karena dalam menyebarkan Islam mampu mengadaptasi seni tua dan tradisi dengan realitas Islam yang baru .

Sunan Gunungjati atau Kalijogo adalah tokoh penting yang membantu menciptakan Java - dan Indonesia - yang kita kenal sekarang .

Sebagian besar dari Walisongo menyebarkan Islam pada akhir 1400-an sampai pertengahan 1500-an. Berikut ini sejarah singkat mereka:

Sunan Gunungjati

Sunan Gunungjati menyebarkan Islam di Demak dan Banten , dan merupakan pendiri Cirebon. Banyak cerita mengatakan bahwa Gunungjati berasal dari Pasai, Aceh , yang lain mengatakan bahwa ia dari Pajajaran di Jawa Barat . Ia menikah dengan adik Sultan Trenggono Demak , dan memimpin ekspedisi militer untuk melawan Demak Banten ( yang masih Hindu pada waktu itu ) . Sebagai " Fatahillah " ia mengalahkan Portugis ketika bangsa itu mencoba untuk mengambil Sunda Kelapa ( sekarang Jakarta ) pada tahun 1527 .

Kisah Sunan Gunung Jati telah ada sejak 1470s dan 1480s , di bawah nama " Hidayatullah ". Tahun 1520-an aktif menyebarkan Islam , dan menyebut dirinya dengan nama " Fatahillah " . Tahun 1480s dipercaya ia menjadi cucu raja Pajajaran , dalam tahun 1520- an, ia berjuang Portugis di dekat Jakarta . Beberapa cerita mengatakan bahwa dia meninggal pada tahun 1568 , saat usianya 120 tahun. Namun beberapa ahli meragukan dan berpikir mungkin ada lebih dari satu Gunungjati .

Sunan Kudus
Disebut pula Ja'far Shadiq , pendiri Kudus , dan dipercayai berasal wayang golek. Ia mendirikan masjid di Kudus konon menggunakan pintu dari istana Majapahit. Ia menggantikan ayahnya , Sunan Ngudung yang wafat tahun 1550.

Sunan Kudus juga disebut Ja'far Shadiq , Ja'far atau as-Sadiq , yang juga merupakan nama seorang tokoh agama yang terkenal di Iran. Di Kota Kudus sendiri, ada sebuah acara yang disebut Buka Luwur. Warga mengganti tirai di sekitar makam Sunan Kudus. Acara ini diadakan pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam - pada hari yang sama dimana Muslim Syiah mengingat kesyahidan Husain. Mungkin ini adalah pengingat waktu ketika wisatawan dari Iran dan India sering melakukan perjalanan ke pantai utara Jawa.

Sunan Giri
Disebut juga Raden Paku. Ia belajar di Melaka , mendirikan sekolah-sekolah Islam di Gresik , meramalkan kebangkitan Mataram , dan menyebarkan Islam sampai ke Lombok , Sulawesi , dan Maluku . Dia adalah seorang pendukung Islam ortodoks , dan menyetujui inovasi ( seperti " modernis " ulama Islam tahun 1800 dan 1900 ) . Sebuah cerita tradisional mengatakan bahwa ia anak dari seorang putri Hindu Blambangan dan Maulana Ishaq dari Melaka , yang pergi ke Blambangan untuk menyebarkan Islam . Sang putri dipaksa untuk meninggalkan dia dalam krisis dan sang putri terapung di laut dalam sebuah perahu kecil. Sang putri lantas diselamatkan oleh para pelaut . Sunan Giri kemudian menjadi murid Sunan Ampel , dan menikah dengan putri Sunan Ampel .

Sunan Giri II ( atau Sunan Delem )

Pangeran Sarif: murid Sunan Giri yang bekerja untuk menyebarkan Islam buat orang-orang Madura .

Sunan Prapen

Sunan Kalijogo
Disebut pula Raden Sahid. Ia menyebarkan Islan di Demak , murid Sunan Bonang mahasiswa , penasehat Senopati, ayah Sunan Muria . Sunan Kalijogo menghidupkan prosesi Grebeg , menambahkan perbendaharaan cerita Islam terhadap wayang kulit, dan mempromosikan penggunaan ritual tradisional dalam konteks Islam yang baru.

Tahun keterlibatan Sunan Kalijogo dalam pembangunan Masjid Demak ada beberapa versi. Ada yang menyebut tahun 1490an, ada pula yang mengatakan dia aktif pertengahan 1500-an .

Sunan Bonang

Merupakan putra Sunan Ampel. Ia menulis sebuah buku populer tentang teologi dan perilaku yang baik bagi umat Islam . Saat masih muda ia belajar dengan Sunan Giri di Melaka . Dia membantu membangun masjid besar di Demak . Sunan Bonang, menurut kisah adalah Sunan yang mengislamkan Sunan Kalijogo. Ia dimakamkan di Tuban .

Sunan Muria
Dikenal sebagai Raden Umar Said. Ia merupakan putra Kalijogo, yang kelak menjadi nama sebuah gunung. Ia menggunakan gamelan dan teater untuk membantu mempromosikan misinya . Dia lebih suka bekerja dengan orang-orang biasa di desa-desa terpencil .

Sunan Maulana Malik Ibrahim
Nama lainnya adalah Syeikh Maghribi. Dia seorang Arab yang tiba di Jawa pada 1404 dan bekerja di Gresik dan Leran sampai kematiannya pada tahun 1419 . Dia mendirikan sekolah Islam atau pesantren pertama di Jawa dan merupakan sepupu Sunan Ampel. Ia menyebarkan Islam sebelum wali songo lain sehingga dianggap pelopor di bidang penyebaran Islam di tanah Jawa .

Sunan Ampel
Disebut juga Raden Rakhmat menyebarkan Islam di Surabaya dan Jawa Timur. Sunan Ampel adalah pemimpin Walisongo . Dia keponakan Raja Majapahit , dan sepupu Raden Patah , Sultan Demak pertama . Dia sebenarnya lahir di Champa , kerajaan Islam di Vietnam. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah putranya . Sunan Giri tinggal bersamanya.

Sunan Drajad
Merupakan putra Sunan Ampel . Dia membangun masjid di Paciran ( utara Surabaya ) pada 1502 , dan dikenal lewat karya-karya sosial dan amal . Dia juga mempromosikan penggunaan gamelan .

Sunan Sendang
Bekerja di Paciran sampai 1585.

Sunan Ngudung
Dikenal sebagai pengulu Rahmatullah yang menyebarkan Islam di Matahun , dan meninggal dalam pertempuran melawan sisa-sisa Hindu Majapahit pada tahun 1513 . Ia adalah ayah dari Sunan Kudus .

Raden Hamzah ( atau Sunan Lamongan ) yang melakukan pekerjaannya di Lamongan .

Maulana Ibrahim Asmoro
Merupakan ayah dari Sunan Ampel . Ia dimakamkan di dekat Palang Tuban . Dia menikah dengan seorang putri dari Champa , yang sekarang Vietnam , dan mungkin berasal dari Asia Tengah .

Sunan Bayat
Menjalankan karya di sekitar Tembayat , dekat Yogya . Dia murid Sunan Kalijogo .

Sunan Bejagung
Menjalankan karyanya di dekat Tuban .

Syekh Sitti Jenar
Disebut juga Syekh Lemah Abang, dijatuhi hukuman mati karena keyakinan yang dianggap oleh beberapa orang sesat .

Raden Patah
Ia merupakan pendiri Demak yang kadang-kadang termasuk dalam daftar Sunan . Raden Patah adalah putra Kertanegara dengan putri Cina , dan dibesarkan oleh Aria Damar , saudara tirinya , yang telah dikirim untuk mengawasi Palembang dengan gelar Adipati. Dia berhubungan erat dengan Sunan Ampel sebelum melanjutkan ke kota dan menyusun kekuatan di Demak . Raden Patah termasuk keturunan raja-raja Jawa kuno (seperti Airlangga atau Hayam Wuruk ) , Sultan Mataram (seperti Agung ) , dan Sultan Yogya dan Susuhunan Surakarta .

Sunan Kuning
Disebut Susuhunan Mataram oleh pemberontak pada 1742 , melakukan karya di Semarang ) .


sumber
 

Tuesday, January 15, 2013

Asal-usul Sandal Jepit

Dalam perkembangan sejarah umat manusia, sandal berbarengan dengan jaman logam.
Terutama setelah diciptakannya paku, karena saat itu sering terjadi kecelakaan (kaki tertusuk paku).
Sehingga diciptakan lah sandal, sebagai pelindung kaki. Namun perkembangan sandal jepit ternyata mempunyai cerita tersendiri.

 Pertama-tama sandal jepit ini di temukan di daerah Cina Utara yang pada saat itu di pimpin oleh Kaisar Cing Cang Ke Ling. Penemuan sandal jepit tidak disengaja. Pada saat itu, kaisar sedang berburu harimau dengan busur panahnya melihat si kaki seribu melintas di ibu jari kakinya, karena merasa jijik, si kaisar latah, sambil berkata “ eh sial..gua jepit lo”.


Dari sana tersebar gosip dari mulut ke mulut, bahwa kaisar itu latah. Ini akibat ulah comel dari pengawal kaisar yang melihat kelatahan kaisar dan memberikan kabar ini pada media Cek Li Cek, media cetak gosip mingguan di Cina Utara. Untuk menjaga kewibawaan kaisar, maka para penasehat kaisar bersidang.
Dari sidang muncul keputusan, bahwa harus ada alas kaki, buat kaki kaisar agar terhindar dari serangga menjijikan, maka di buatlah alas kaki dari kayu, dengan memberikan tiang pendek pas dekat ibu jari. Hal itu sekaligus sebagai peringatan bagi para gosiper, kalau masih menggosip kaisar latah akan diinjak dan dijepit lho.

Itu kisah sandal jepit dari Cina walau pun ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. Kalau menilik dari masa keemasan Eropa, sandal jepit ini muncul saat revolusi industri di Ingris.

 Sandal jepit muncul, di mana para petani meninggalkan ladangnya dan bekerja menjadi buruh di pabrik-pabrik.Pada saat itu kaum buruh tidak memakai alas kaki ke pabrik, mereka persis seperti kebiasaan petani ladang yang cekeran.


Karena mereka sering cekeran tentu saja pabrik menjadi kotor.


Cleaning service yang bertugas membersihkan sering mengeluh karena banyak pasir yang terbawa ke ruangan. Mereka sering ngomel-ngomel : “ Sand All…sand…All…stupid bitch ”. Karena pabrik sangat bising, maka terdengarnya menjadi “Sandal jepit”.

Maka para buruh memakai sandal jepit untuk menghindari omelannya. Sejarah ini pun ini juga masih diragukan faktanya.


Kalau perkembangan di Indonesia, Sandal jepit ini sebenarnya sudah mulai ada dari Jaman Tarumanagara di Bogor, sekitar abad ke 7 .


Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan batu tulis yang didalamnya ada tulisan/prasasti dan telapak kaki Raja. Telapak kaki tersebut sebenarnya adalah cetakan,untuk membuat sandal raja. Sayang sekali tidak ada keterangan sandal apa yang dibuat. Tetapi yang jelas dari cetakan telapak kaki raja tidak ada tanda kaki raja pecah-pecah , berarti kaki raja sehat dan saya yakin raja sudah pakai sandal.

Tak seorang pun yang mengklaim sebagai penemu sandal jepit.
 Ini sangat mengherankan, walaupun tidak sebergengsi seperti penemuan listrik oleh Thomas Alva Edison, sandal jepit merupakan kebutuhan sehari-hari seperti listrik. Bahkan antara sandal jepit dengan listrik ada hubungan. Kalau anda sedang memperbaiki arus listrik (kabel), harus memakai sandal jepit, kalau tidak memakai anda bisa kesetrum.

Sumber