Friday, April 29, 2016

Tengkorak Zaman Pra Hindu Ditemukan di Buleleng, Bali

blog-sejarah.blogspot.com
foto: nusabali.com
Lihatlah foto di atas. Inilah tengkorak yang ditemukan sudah membatu di Dusun/Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Kamis (14/4). Sebagaimana beritakan nusabali.com, dipastikan pihak Badan Arkeologi Denpasar, tengkorak ini berasal dari manusia zaman perundagian atau zaman pra Hindu.

Dari penelitiannya sejak beberapa hari, Badan Arkelogi Denpasar menemukan sejumlah ciri-ciri dari tengkorak yang sudah membatu dan hancur tersebut. Antara lain, usia ratusan tahun, diperkirakan sudah ada sejak tahun 200 sebelum masehi. “Dari ciri-ciri bentuk dan struktur tengkorak, kuat indikasinya bahwa itu adalah tengkorak manusia zaman perundagian,” ujar Kepala Badan Arkeologi Denpasar, Gusti Made Suarbawa, Senin (18/4).

Kata dia, karakter tengkorak di pinggir Pantai Desa Banyupoh ini, hampir sama dengan penemuan tengkorak di sekitar Pura Pabean, sekitar tahun 2000. Hal sama juga pada temuan tengkorak di sekitar Banjar Asem, Seririt dan Gimimanuk. Menurutnya,  penemuan situs sejarah di pantai utara Pulau Bali, memiliki satu ikatan dari zaman yang sama. 

Apalagi menurut catatan sejarah, pada zaman dahulu pesisir utara Bali sebagai jalur pelayaran. Jadi tidak sedikit manusia pada peradaban tersebut tinggal di pesiisr pantai. Dengan temuan tersebut, pihaknya mengaku akan melakukan koordinasi dengan pihak desa dan desa pakraman setempat. Karena temuan tersebut  berada di sekitar areal suci, kawasan Pura Pulaki. “Kami masih berkoordinasi dengan masyarakat, bagaimana solusinya,” imbuhnya. 

Pihaknya menginginkan agar persepsi keilmuan tentang temuan purbakala ini bisa bersinergi dengan adat setempat. Untuk sementara penemuan tersebut masih di lokasi dan akan dipindahkan ketika keputusan bersama sudah ditetapkan.

Perbekel Desa Banyupoh Made Sukarata mengaku, masih menunggu kesepatakan dari aparat desa, termasuk desa adat. “Kami juga akan rembuk dulu, bagaimana sepatutnya. Baik dari segi adat dan budaya di sini, apakah nanti dikubur atau diserahkan ke Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala,” katanya. 

KIsah Nak Barak dan Pasukan Macan Gading dari Gianyar, Bali

blog-sejarah.blogspot.com
sumber: nusabali.com
Pulau Bali penuh kisah unik yang bersangkut-paut dengan legenda. Kali ini kisah tentang Nak Barak dan Pasukan Macan Gading. Apa itu? Harian Nusa Bali menuturkannya dengan apik pada tanggal 27 April 2016. 

Desa Pakraman Perean, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar merupakan desa hulu (paling utara) di wilayah Gumi Seni. Kepercayaan Desa tua yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangli (Desa Sekaan, Kecamatan Kintamani) ini meyakini, 10 krama Desa Pakraman Perean jadi Pasukan Macan Gading.

Krama adat di Desa Pakraman Perean mencapai 416 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 1.515 jiwa. Mereka tinggal di satu banjar adat dan satu banjar dinas, yakni Banjar Perean. Dari 1.515 jiwa krama Desa Pakraman Perean itu, sebanyak 10 orang di antaranya menjadi Pasukan Macan Gading, Kenapa?

Sepuluh (10) krama yang disebut jadi Pasukan Macan Gading ini sejak lahir hingga kakek-nenek berkulit dan berbulu kemerah-merahan. Bahkan, giginya juga kemerahan. Oleh warga setempat, 10 krama mirip albino ini disebut sebagai Nak Barak (manusia merah).

Nak Barak yang ada di Desa Pakraman Perean saat ini paling kecil berusia 9 tahun dan tertua usia 95 tahun. Dari jumlah itu, 4 di antaranya perempuan, selebihnya laki-laki). Mereka masing-masing I Wayan Yudiana, 9 (pria/masih duduk di Kelas III SD), Ni Kadek Puspita Dewi, 12 (wanita/duduk di Kelas VI SD), Ni Made Sadri, 40 (wanita/daha lingsir alias perawan tua), I Made Siram, 42 (pria), I Made Gading, 42 (pria), I Made Sudana, 45 (pria), I Wayan Rauh, 45 (pria), Ni Wayan Jingga, 60 (wanita), Ni Made Raji, 90 (wanita), dan I Wayan Raja, 95 (pria). 

Ciri-ciri lain Nak Barak itu, khususnya yang laki-laki, memiliki karakter kepribadian polos-polos, taat adat, sopan, tak pernah buat onar, dan rata-rata disegani orang lain. Secara umum, mereka dikenal bertubuh kuat, dalam arti lebih tahan terhadap serangan penyakit. Rumah krama Nak Mareh ini berjauhan antara yang satu dengan lainnya. 

Ke-10 krama Nak Barak di Desa Pakraman Perean juga tidak memiliki hubungan keluarga satu sama lain. Namun, di antara 10 krama Nak Barak ini, ada 4 orang di antaranya bersaudara kandung alias kakak-adik asal keluarga berbeda, yakni I Wayan Raja (usia 95 tahun) dan Ni Made Raji (usia 90 tahun) serta I Wayan Rauh (usia 45 tahun) dan I Made Siram (usia 42 tahun).

“Kami di sini juga tidak tahu jelas, apa penyebabnya kok ada saja warga kami lahir sebagai Nak Barak,’’ ungkap Kelian Dinas Banjar Perean, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, I Wayan Arus, saat ditemui NusaBali di kediamannya, Minggu (24/4) lalu.

Paparan senada juga disampaikan tokoh Desa Pakraman Perean, Jero Bahu Penanggapan Ketut Sudiasa, 34. Menurut Jero Bahu Sudiasa, berdasarkan penuturan para tetua yang diwarisi secara turun temurun, keberadaan Nak Barak di Desa Pakraman Perean tidak terlepas dari kisah peperangan Kerajaan Gianyar vs Kerajaan Bangli saat memperebutkan wilayah di sekitar Desa Pupuan pada masa silam. Saat itu, sudah muncul sejumlah warga dengan warna tubuh merah. Mereka diketahui kuat-kuat dan kebal serangan musuh. 

Karena kekuatan fisiknya, Nak Barak kemudian dijatikan pepatih oleh Raja Gianyar. Nak Barak pun diutus Raja Gianyar untuk mengamankan batas utara wilayah Gumi Seni. “Para pepatih bertubuh merah itu kemudian dikenal dengan sebutan Pasukan Macan Ggading (Harimau merah, Red),” jelas Jero Bahu Sudiasa.

Jero Bahu Sudiasa menyebutkan, Nak Barak tersebut adalah utusan dari Kerajaan Gianyar untuk mengamankan wilayah utara dari serangan musuh. Saat pasukan Kerajaan Bangli menyerang wilayah utara Gianyar hingga membakar rumah-rumah warga di sekitar Banjar Perean, ratusan krama setempat lari menyebar untuk menyelamatkan diri. 

Ada yang lari ke Banjar Mantring, Desa Petak (Kecamatan Gianyar), ada yang ke Desa Tampaksiring (/Kecamatan Tampaksiring, Gianyar), ada pula ke Banjar Kulub, Desa Tampaksiring (Kecamatan Tampaksiring, Gianyar), bahka ada yang sampai lari ke Banjar Antugan, Desa Jehem (Kecamatan Tembuku, Bangli). Para pelarian ini kemudian diberi nama warga Babanuan. 

Namun, setelah wilayah utara Gianyar aman dan terbebas dari serangan musuh, sejumlah warga Babanuan itu kembali ke Desa Pakraman Perean dan tinggal menetap hingga sekarang. “Warga Babanuan dari pelbagai banjar di Gianyar dan Bangli itu pasti tangkil ke pura-pura di Desa Pakraman Perean setiapkali ada piodalan dan karya. Ini pertanda lingsir-lingsir (tetua) kami dulunya satu rumpun di Desa Pakraman Perean,’’ jelas Jero Bahu Sudiasa.

Jero Bahu Sudiasa juga mendapatkan cerita dari tetuanya bahwa Desa Pakraman Perean kini tidak lagi memiliki purana (sejenis catatan tentang asal-usul desa). Masalahnya, purana itu sudah terbakar di Banjar Mantring, Desa Petak saat rumah warga Babanuan dari Desa Pakraman Perean dibakar oleh pasukan Kerajaan Bangli ketika mengamankan diri di sana. 

Wednesday, April 27, 2016

Sejarah Jam Pasir

blog-sejarah.blogspot.com
sumber foto: rumah cempluk

Orang dulu menandai waktu dengan melihat matahari atau bulan. Hanya saja keakuratannya kemungkinan terkendala cuaca sehingga mereka menciptakan alat seperti jam air dan jam pasir. 

Menurut Wikipedia, asal-usul atau sejarah jam pasir masih kabur. Sebelum jam pasir sudah terdapat clepsydra atau jam air yang kemungkinan sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. 

Berdasarkan American Institute of New York, clepsammia alias jam pasir ditemukan di Alexandria sekitar 150 tahun sebelum masehi. Berdasarkan Journal of the British Archaeological Association jam pasir dipakai sebelum era St. Jerome (tahun 335 M), Gambarnya ditemukan di peninggalan kuno sarcophagus berangka tahun 350 M, (perkawinan Peleus and Thetis), ditemukan Di Roma abad ke-18, dan dipelajari Wincklelmann abad ke-19. 

Jam pasir pernah dipakai di Wesmister sebagai alat pengukur waktu untuk membunyikan bel guna memanggil aggota majelis pada pemungutan suara. 

Wednesday, March 05, 2014

Sejarah Ritual adat Pesta Kacang (werung lolong) di Lembata, NTT



Foto: Yogi Making
Ritual adat tahunan di Nusa Tenggara Timur antara lain adalah Pesta Kacang alias werung lolong (bahasa Lewohala-Red) . Pesta ini boleh dikata sebagai ucapan rasa syukur atas melimpahnya rezeki yang diberikan Tuhan selama satu tahun. Uniknya, Pesta Kacang adalah pemersatu suku-suku yang tersebar di 7 kampung di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Bagaimana kisahnya? 

Tujuh kampung yang memiliki 77 suku yang mengikuti ritual adat ini adalah Riang Bao,Ohe, Woipuke, Muruone, Kimakama, Woi Waru, Baopuke. Suku-suku ini berkumpul di Kampung Adat Lewohala, yang berada sekira 3 kilometer dari puncak Gunung Ile Lewotolok. Masing-masing suku menempati satu rumah adat.

Puncak upacara Werung Lolong ditandai dengan acara U’te Taha Lango Bele atau Sora U’te Lango  Bele (makan kacang di rumah besar), di mana semua suku dari strata tertinggi (Wung Bele-Lamaholot, Red) berkumpul di Lango Bele (rumah besar) untuk makan bersama.

Menuju uta taha lango bele, sebelumnya pada setiap suku di rumah adat masing-masing wajib melewati dua porses ritual, yakni ritual yang digelar khusus untuk rumah adat atau upacara Pau Lango (upacara memberi makan rumah adat suku, dan proses pembersihan diri setiap anak suku. Dua upacara ini dipimpin oleh Kwina (suami dari saudari dalam suku).

Ritual Pau Lango
Upacara memberi makan rumah adat adalah bentuk dari rasa syukur kepada rumah adat sebagai tumpangan para lelehur suku, yang dipercaya selalu melindungi dan memberi rezki kepada setiap anak suku. Upacara ini diawali dengan “Hodi Ama Opo” (jemput arwah leluhur), dalam upacara ini, pemimpin suku memanggil semua arwah anak suku yang sudah meninggal. Penjemputan arwah leluhur dilakukan di depan pintu rumah adat, lalu dibawah masuk rumah, kemudian disemayamkan di tiang kanan rumah adat.
Proses kemudian dilanjutkan dengan “Teke Lau” atau “Pau Lango” dalam upacara ini, kwina bersama salah satu anak suku memberi sesajian berupa Tuak dan tumbukan beras dicampur ekor ikan kerapu putih. Setiap sudut rumah dan pasak pada bagian utama rumah di beri sesajian dan diperciki tuak. Pau lango dikahiri dengan, memerciki darah ayam jantan pada bagian rumah yang sudah di beri sesajian.

Ritual Pembersihan Diri
Werung lolong, merupakan momen untuk memanggil pulang semua anak Lewohala baik yang ada di kampung halaman Ile Ape, juga yang sedang merantau di luar Pulau Lembata. Werung lolong juga merupakan momen untuk mempertemukan putra Lewohala dengan para leluhurnya.

Oleh karenanya, orang Lewohala yakin kalau pertemuan dengan leluhur suku dan leluhur Lewohala bisa terjadi bila semuanya datang dengan sebuah ketulusan. Bila ada silang sengketa di antara anak suku, proses ritual adat di lango suku (rumah suku) tidak bisa berjalan normal.
Pembuktian ketulusan hati setiap anak suku terhadap panggilan kampung halaman dan leluhur ini, dilakukan dengan proses “Ha’pe Manu” (gantung anak ayam). Ritual hape manu diawali dengan semua anak suku yang hadiri dipanggil satu persatu untuk memegang anak ayam sambil mengucap janji, dan menyampaikan niat.

Apabila semua niat anak suku tulus, maka anak ayam yang akan digantung sampai mati ini, kedua kakinya terbuka lurus, sebagai tanda lapangnya jalan. Namun sebaliknya, bila kedua kaki anak ayam menyilang, berarti masih ada persoalan yang menyelimuti suku. Upacara ha’pe manu ini dipimpin oleh seorang dukun kampung (molan lewu) didampingi ata kwina dan ketua suku.

Upacara selanjutnya adalah “Ge’he Kenehe” (membuat api menggesekan dua bilah bambu). Upacara ini berkaitan dengan Ha’pe Manu. Ketulusan semua anak suku yang datang ke rumah suku mulai diukur. Ata Kwina (suami dari saudari dalam suku) mengambil peran menggesek bilah bambu.

Bila semua anak suku hadir dengan ketulusan maka proses pembuatan api berjalan lancar. Namun jika terdapat masalah, api tidak akan muncul, walau asap ngepul menyelimuti bilah bambu.

Di sini, peran sang molan lewu untuk mencari tahu persoalan. Satu persatu masalah di dalam suku disebut, sambil kwina terus menggesek bilah bambu, hingga akar masalah ditemukan.

Api dari hasil gesekan bambu itu, kemudian dibawa kwina untuk diserahkan kepada istrinya yang sedang menunggu di tungku utama rumah adat. Api ditungku utama yang dihidupkan oleh istri dari kwina (saudari dalam suku) akan dimanfaatkan untuk memasak minyak kelapa. Minyak kelapa dimaksud, dimanfaatkan untuk mengurapi semua anak suku.

Pengurapan (Haru Dula-Lewohala, Red) kepada anak suku ini dilakukan oleh kwina. Satu persatu anak suku diurapi kwina dan diasapi dengan dupa. Upacara ini dimaksud untuk mendoakan agar sang anak suku selalu mendapat berkat dan diberi rezki selama setahun,selain membuat janji untuk tidak lagi mengulang kesalahan yang pernah di buat.Pengurapan dan pengasapan ini, juga dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit tertentu.

Setelah dua rangkaian acara ini dilakukan, acara selanjutnya adalah makan bersama. Pisang dan ayam bawaan setiap anak suku dibakar, kemudian dibagikan kepada semua anak suku yang hadir. Tidak lupa, acara makan bersama ini pun menghadirkan juga semua suku kle (suku kaka adik) untuk hadir di acara ini. Upacara ini disebut dengan “Tunu Muku Manu” (Bakar pisang dan ayam).
Sebagai gambaran, rangkaian ritual adat pada setiap suku ini dilakukan pada malam sebelum U’te Taha Lango Bele.

U’te Taha Lango Bele Atau Sora U’te Lango Bele
Upacara ini, merupakan acara yang sangat ditunggu warga Lewohala. Betapa tidak, semua anak suku Wung Belen berkumpul pada sebuah rumah besar (lango bele) untuk makan bersama. Kegembiraan tampak pada wajah semua anak Lewohala yang hadir disini.

Semua pria masing-masing suku, hadir ke lango bele dan sang istri membawakan makan berupa nasi dari beras yang dimasak campur dengan kacang nasih, dengan lauk ikan kerapu putih. Acara makan bersama ini boleh dibilang sangat meriah, karena dihadiri oleh ribuananak Lewohala.

Sama seperti proses yang dilakukan semua rumah adat masing-masing suku. Sebelum makan bersama dimulai, suku yang menjadi tuan rumah (Laba Making) yang menempati Lango be’le terlebih dahulu menggelar ritual Haru Dula (pengurapan), khusus untuk suku yang menempati Lango be’le ini, ritual haru dula di saksikan oleh semua anak Lewohala.

Segera setelah upacara Haru Dula selesai, dan proses memberi makan leluhur di tiang kanan rumah adat, makan yang dibawah para perempuan suku, dibagikan kepada semua anak suku yang hadir. makan bersama pun di mulai.

Upacara ini, selain untuk mewujudnyatakan ucapan syukur bersama sebagai orang Lewohala yang sudah menerima berkah selama satu tahun berjalan, pun merupakan moment untuk mengikat eratkan semua anak lewohala yang dalam kesehariannya saling berjauhan, untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup.
Ritual makan bersama di lango bele ditutup dengan diskusi umum semua anak Lewohala. Banyak hal yang dibicarakan dalam diskusi ini, termasuk mencari solusi bersama untuk mengatasi persoalan antar suku. Pada intinya, diskusi dimaksud bertujuan untuk membahas persoalan kampung, dan mecari jalan keluar terbaik.

Tahapan Menuju Werung Lolong
Ritual “Werung Lolong” merupakan ritual adat tahunan yang digelar secara rutin oleh anak keturununan Kampung Lewohala. Upacara ini dilaksanakan pada minggu ketiga atau minggu keempat bulan September atau pada minggu kedua dan ketiga bulan Oktober, setiap tahunnya. Pesta kacang ditetapkan berdasarkan kalender musim orang Lewohala, dan dihitung pada saat bulan kabisat, atau orang Lewohala menyebutnya dengan ‘Wulan Lei Tou’

Untuk menuju upacara Werung Lolong masyarakat adat Lewohala terlebih dahulu melewati beberapa  tahapan. Porsesi ini diawali dengan pemberitahuan dari Bele Raya (Penguasa Adat Lewohala). Bele Raya Lewohala terdiri dari 4 suku, yakni Hali Making, Soro Making, Duli Making dan Do Making.
Prosesi diawali dengan upacara “Sewe Nuku” atau mengantung daun lontar pada sebua tongkat kayu di tengah “Namang Lewohala” (Pusat Kampung Lewohala), upacara ini dilakukan oleh Suku Purek Lolon. Sewe Nuku biasanya dilaksanakan minggu pertama bulan dalam bulan pesta kacang dilaksanakan.

Tahap kedua dalam upacara ini, “tuka kiwan lua watan,” yakni perjalanan dari gunung menuju pantai, oleh suku Purek Lolon dan Lamawalang. Ketika di pantai, mereka melempar sebungkus kecil daun lontar yang didalamnya berisi wua malu dan bako (siri pinang dan tembakau). Lemparan dilakukan oleh warga suku Lamawalang harus melewati pohon bakau disertai pukulan gong dan gendang, menandai pesta kacang akan berlangsung.

“Dora Dope” adalah berburu ayam dan Klope (ikan kecil yang biasa menempel di batang pohon bakau) perburuan ayam dilakukan didalam kampung, ayam yang diburu adalah ayam milik warga. Hasil tangkapan berupa ayam dan klope, akan digunakan untuk makan bersama saat pesta kacang.
Tahap keempat, “Pelu Belai” (makan nasi tumpeng adat).Makanan ini terbuat dari kacang panjang dan nasi dari beras merah yang dilaksanakan serentak anak-anak gadis dari suku Wungu Belumer yang dilaksanakan menjelang fajar menyingsing.

Tahap kelima, hodi elu (kesepakatan atau janji pesta).Membuat kesepakatan melaksanakan puncak pesta kacang.

Sora U’te Lango Bele atau Ut’e Taha Lango Bele merupakan tahapan ke enam, sebagai tahapan inti, dimana semua suku Wung Bele menggelar upacara makan bersama di Lango Bele (Rumah Besar).
Puncak pesta kacang sendiri terjadi pada tahap ke tujuh yang dilaksanakan serempak oleh suku Wungu Belen. Rangkaian selanjutnya adalah penu “koke Lera Tena,” sebagai acara pamungkas dari semua acara werung lolong.

Penu koke lera tena, dilaksanakan di korke, secara bersamaan oleh suku-suku wung bele dan suku wung belumer.

Di samping upacara sermonial adat, masyarakat adat Lewohala juga menggelar acara tari-tarian sebagaian ungkapan kegembiraan semua anak suku atas keberhasilan dan kegagalan yang diperoleh selama satu tahun.
Acara tari-tarian ini, digelar selama dua hari. Yakni hari pertama dilakukan sore hari setelah makan bersama di Lango Bele, atau disebut dengan “Neba Uel” dan hari kedua disebut dengan “Neba Bele”. acara ini terpusat di Namang (pusat kampung), dengan melibatkan semua anak suku.
 
sumber: floresbangkit.com