Showing posts with label Makam Sunan Ampel. Show all posts
Showing posts with label Makam Sunan Ampel. Show all posts

Saturday, February 13, 2010

Sejarah Walisongo: Siapa Saja Walisongo Periode II dan Periode III?

Walisongo sebenarnya bukan hanya sembilan orang sebagaimana yang kita kenal. Walisongo merupakan nama suatu dewan dakwah. Bila salah satu anggota dewan meninggal, akan dicari penggantinya. Setelah kita mengetahui siapa saja anggota Walisongo periode I, kini kita beralih ke Walisongo periode II dan III. Siapa saja mereka?

Inilah Walisongo Periode II:

1. Raden Ahmad Ali Rahmatullah, datang ke Jawa tahun 1421 menggantikan Malik Ibrahim yang wafat pada 1419. Raden Rahmat – begitu salah satu sebutannya – berasal dari Cempa (Thailand Selatan). Kelak ia dikenal sebagai Sunan Ampel.

2. Sayyid Ja’far Shoddiq, asal Palestina, tiba di Jawa tahun 1436 M. Dia tinggal di Kudus sehingga dikenal sebagai Sunan Kudus.

3. Syarif Hidayatullah (kelak disebut Sunan Gunung Jati), berasal dari Palestina. Tiba di Jawa tahun 1436 M, menggantikan Maulana Ali Akbar yang meninggal pada tahun 1435.

Sidang Walisongo kedua diadakan di Ampel Surabaya. Para wali berbagi tugas:

• Jawa Timur: Dikomandani Sunan Ampel (Raden Rahmat), Maulana Ishak, Maulana Jumadil Kubro.
• Jawa Tengah: Dikomandani Sunan Kudus, Syeh Subakir, dan Maulana Al-Maghrobi.
• Jawa Barat: Dikomandani Syarif Hidayatulloh, Maulana Hasanudin, Maulana Aliyudin.

Inilah Walisongo Periode III:

Walisongo periode III masuk pertama kali pada tahun 1463. Empat anggota Walisongo Periode III yang diputuskan dalam sidang yang berlangsung di Surabaya adalah:

  • Raden Paku alias Syeh Maulana Ainul Yaqin, yang kelak berubah nama menjadi Sunan Giri. Ia lahir di Blambangan dan merupakan Putra dari Syeh Maulana Ishak dengan Dewi Sekardadu (Putri Blambangan). Raden Paku menggantikan ayahnya yang pindah ke Pasai. Nama Sunan Giri disematkan padanya karena ia tinggal di Giri, Gresik. Makamnya juga di Gresik.
  • Raden Said (Sunan Kalijaga), lahir di Tuban, Jatim. Ia putra Adipati Wilatikta yang berkedudukan di Tuban. Ia menggantikan Syeh Subakir yang kembali ke Persia.
  • Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Ia lahir di Surabaya dan merupakan putra Sunan Ampel. Ia menggantikan Maulana Hasanuddin yang meninggal tahun 1462.
  • Raden Qasim (Sunan Drajad), kelahiran Surabaya, putra Sunan Ampel. Sunan Drajad menggantikan Maulana Aliyyuddin yang meninggal tahun 1462. *Alpha Savitri

Friday, January 22, 2010

Kisah Mbah Bolong (Mbah Sonhaji), Murid Sunan Ampel yang Tinggi Ilmu

Selain Mbah Soleh yang memiliki kisah fantastis (kisah Mbah Soleh baca di sini), murid Sunan Ampel ada juga yang memiliki kisah yang juga ajaib. Namanya Mbah Sonhaji. Namun, ia sering pula disebut Mbah Bolong. Makamnya ada di depan Masjid Agung Sunan Ampel. Kenapa Mbah Sonhaji disebut Mbah Bolong? Begini ceritanya.

Sewaktu pembangunan Masjid Sunan Ampel, Sonhaji diserahi Sunan Ampel untuk memegang peran sangat penting, yakni mengatur lokasi pengimanan. Tentu saja peranan ini butuh keakuratan. Tidak main-main, tugasnya adalah menentukan posisi arah kiblat. Jangan sampai melenceng semiliderajat pun dari Kabah.

Banyak orang meragukan kemampuannya menentukan posisi arah kiblat. Tak jarang orang minta bukti bahwa pengimaman pada masjid yang baru jadi itu benar-benar pas menghadap kiblat.

Sonhaji tidak marah meski kemampuannya diragukan. Ia melobangi dinding pengimaman dan meminta orang yang meremehkan untuk melihat ke dalam lubang. Astaga, orang yang melihat ke dalam lubang ternyata langsung melihat Kabah yang ada di Mekah.

Sejak itu Mbah Sonhaji mendapat julukan Mbah Bolong.

(Kisah terjadi pada abad ke-15: Sunan Ampel wafat tahun 1478)

KIsah Mbah Soleh, Murid Sunan Ampel yang Meninggal Sembilan Kali


Sobat, bila ke Surabaya, mampirlah di kompleks Makam dan Masjid Sunan Ampel. Tempat ini banyak menyimpan sejarah Islam di tanah Jawa. Banyak kisah menarik di sini. Di antaranya kisah tentang Mbah Soleh, Murid Sunan Ampel. Kisah Mbah Soleh erat kaitannya dengan sembilan kuburan yang ada di sebelah timur Masjid Agung Sunan Ampel.

Bila Berziarah ke Makam Sunan Ampel, sungguh, jangan lupa, ziarahi juga makam Mbah Soleh.

Mbah Soleh, semasa hidupnya punya keistimewaan yang tak dipunyai lain-lain orang. Ia tukang sapu Masjid Ampel saat Sunan Ampel hidup. Kalau menyapu, bersih sekali. Orang yang sujud di masjid ini dan tak pakai sajadah merasa nyaman karena merasa bersih tanpa debu sama sekali.

Usia manusia, siapa yang tahu. Mbah Soleh wafat. Ia dikubur di depan masjid.

Kematiannya sangat ditangisi. Ia meninggalkan warisan amat penting: kerja adalah ibadah. Bila pekerjaan dilakukan dengan iklas, hasilnya memuaskan. Begitulah Mbah Soleh. Tak ada seorang pun yang sanggup menyamai hasil kerjanya. Semakin lama, masjid yang dulunya bersih terasa semakin kumuh dan kumuh. Sunan Ampel sangat prihatin. Sunan Ampel pun berkata," Bila Mbah Soleh masih hidup, pasti masjid ini selalu bersih."

Tiba-tiba yang hadir dikejutkan sosok Mbah Soleh kembali menyapu di dekat tempat Imam biasa memimpin salat. Wow, Mbah Soleh kembali hidup. Masjid pun kembali bersih.

Tapi lagi-lagi, Allah mencabut nyawa Mbah Soleh. Lantas Mbah Soleh pun dikubur di samping kuburannya dulu.

Sepeninggal Mbah Soleh, masjid kembali kotor. Sunan Ampel pun bicara seperti dulu: "Seandainya Mbah Soleh masih ada..."

Ajaib, Mbah Soleh kembali hidup dan bersih-bersih. Masjid kembali tak ditempeli debu. Dan, Mbah Soleh, sekali lagi meninggal dan dikubur di dekat kuburan yang pernah menguburnya. Masjid kotor kembali. Sunan Ampel kembali prihatin dan berucap bila Mbah Saleh hidup. Ya ampun, Mbah Saleh hidup kembali.

Peristiwa itu berulang terus sampai delapan kali. Berarti Mbah Soleh hidup lagi kali ke-delapan. Nah, pada kehidupan Mbah Soleh yang ini, Sunan Ampel wafat. Setelah Sunan Ampel wafat, Mbah Soleh menyusulnya, dan ia dikuburkan di dekat kuburannya dulu. Jadi, total kuburan Mbah Soleh ada sembilan. Kuburan terakhir di ujung paling Timur.

(Kisah terjadi pada abad ke-15: Sunan Ampel wafat tahun 1478) 

foto: indosiar