Showing posts with label Bali Mula. Show all posts
Showing posts with label Bali Mula. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Sejarah Bali Masa Pra Sejarah

Kali ini saya uploadkan sejarah Bali di masa Prasejarah. 

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :
  1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
  2. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
  3. Masa bercocok tanam
  4. Masa perundagian

Pada Masa berburu di tingkatan sederhana, orang-orang Bali berpindah-pindah tempat  Penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 menemukan alat-alat batu yang digolongkan kapak genggamkapak berimbasserut di Sambiran (Buleleng bagian timur), serta di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di Museum Gedong Arca di BeduluGianyarBukti-bukti yang ditemukan di Pacitan (Jawa Timur) dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan alat-alat batu dari Pacitansezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia. Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.

Masa berburu tingkat lanjut terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Gua ini terletak di pegunungan gamping di Semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah Gua Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. Dalam penggalian Gua Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.
Alat-alat semacam ini ditemukan pula di sejumlah gua Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding gua, yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya. Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga di antaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di Pulau Seram dan Papua, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.

Pada masa bercocok tanam pengumpulan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing). Temuan yang ada berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. 
Dari teori Kern dan teori Von Heine-Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. 
Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter).
Zaman perundagian, di masa neolithik manusia hidup menetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya bercocok tanam atau beternak. 
Penemuan kerangka manusia di Gilimanuk mencapai 100 buah, menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada masa ini telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Yakni mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). 
Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar.Temuan penting ialah batu berdiri (menhir) di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta, tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.
Bangunan-bangunan megalithik lain terdapat di Gelgel (Klungkung).Yakni arca menhir  di Pura Panataran Jro Agung,  dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

disarikan dari wikipedia

Thursday, February 06, 2014

Legenda / Asal-usul Desa Tenganan Bali


Desa Tenganan merupakan salah satu desa yang berpenghuni orang Bali Mula atau Bali Aga (Bali Asli) alias Bali yang bukan berasal dari keturunan Kerajaan Majapahit.  Saat Majapahit menduduki Bali, penduduk asli Bali lari ke beberapa wilayah di Bali, di antaranya ke Desa Tenganan, Bali Timur. Bagaimana hikayat Desa Tenganan?

Tersebutlah Tanah Tenganan sebagai pemberian Dewa Indra. Kisahnya bermula dari kemenangan Dewa Indra atas peperangan dengan Raja Mayadenawa yang otoriter. Dunia, karena peperangan itu, dianggap kotor, karenanya dibutuhkan upacara penyucian dengan kurban seekor kuda. Terpilihkan Oncesrawa, kuda milik Dewa Indra sebagai bakal kurbannya.


Kuda yang dianggap sakti itu memiliki bulu putih dengan ekor warna hitam yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Kuda yang diyakini muncul dari laut itu, melarikan diri ketika ia tahu bahwa dirinya akan dijadikan kurban. Dewa Indra kemudian menugaskan Wong Peneges, prajurit kerajaan Bedahulu, untuk mencari Oncesrawa
.
Orang-orang Paneges dibagi dalam dua kelompok, yaitu: Kelompok pertama mencari ke arah Barat dan kelompok kedua mencari ke arah Timur. Kelompok pertama tidak menemukan jejak kuda kurban, sedangkan kelompok kedua berhasil menemukan kuda tersebut dalam keadaan mati pada suatu tempat di lereng bukit, yang sekarang disebut bukit Kaja ‘bukit Utara’, Desa Tenganan Pegringsingan. Hal itu, segera diketahui oleh Dewa Indra. Selanjutnya, beliau bersabda untuk memberikan anugerah berupa tanah seluas bau bangkai tercium. Wong Peneges rupanya ‘cerdik’, mereka memotong-motong bangkai kuda itu dan membawanya sejauh yang mereka inginkan. Dewa Indra mengetahui hal itu, lalu turunlah Dewa 6 Indra sembari melambaikan tangan, sebagai tanda bahwa wilayah yang mereka inginkan sudah cukup. Wilayah itulah yang sekarang disebut sebagai Tenganan Pegringsingan.


Menurut cerita masyarakat setempat, Tenganan berasal dari kata ngatengahang(bergerak ke tengah). Ini berkaitan dengan cerita berpindahnya warga Tenganan dari pesisir Pantai Ujung mencari tempat lebih ke tengah.

Versi lainnya menyebut Tenganan berasal dari tengen(kanan). Ini berkaitan dengan cerita warga Tenganan berasal dari orang-orang Peneges. Peneges berarti pasti atau tangan kanan.
Kata Pegringsingan diambil dari kata gringsing yang terdiri dari kata gring dan sing. Gring berarti sakit dan sing berarti tidak . Jadi gringsing berarti tidak sakit , selain itu gringsing merupakan kain tenun ikat ganda khas Tenganan, sehingga diyakini orang yang memakai kain
Gringsing dipercaya dapat terhindar dari penyakit. Lebih kompleks lagi gringsing adalah penolak mara bahaya. Masyarakat Bali Aga percaya gringsing memiliki kekuatan magis yang melindungi mereka dari sakit dan kekuatan jahat. Tenganan adalah cerita tentang masyarakat yang terus berjuang mempertahankan identitas yang mereka banggakan sebagai orang Bali asli. Karena gringsing begitu penting dalam kehidupan masyarakat Tenganan, kain ini seperti cermin perjalanan kehidupan masyarakat setempat. Sampai sekarang masih ada yang mengira warna merah gringsing berasal dari darah. Mungkin kain gringsing merah yang digunakan paragadis dalam perang pandan menjadi penanda betapa beratnya pertarungan sang satria.

Kepercayaan mengenai kekuatan magis kain itu lalu menghasilkan mitos sendiri. Keunikan kain Gringsing inilah, antara lain, yang menjadikan Tenganan Pegringsingan memiliki nama atau dikenal di dunia pariwisata. Kemahsuran ini bertahan berkat praktik tradisionalisasi diri. Lihatlah misalnya, bagaimana Tenganan sanggup menghadirkan turis setiap harinya karena sejumlah praktik kehidupan dan berbagai benda tradisi selalu dihidupkan.
.
Berbagai upacara masuk ke dalam kalender budaya Tenganan. Sebutlah misalnya Usaba Kasa, Usaba Karo, Usaba Ketiga, Usaba Kapat, Usaba Sambah,dan seterusnya merupakan upacara tradisi yang hadir dalam wilayah ritual dan kesadaran akan industri pariwisata.

Dengan keunikan tradisi yang dimiliki itu, tak mengherankan bila desa yang terletak di kabupaten Karangasem ini sering dikunjungi turis. Mereka datang untuk menyaksikan keseharian masyarakat Tenganan dan tentunya kain tenun Pegringsingan yang sangat terkenal. Terlebih pada saat berlangsungnya Upacara 7 Usaba Sambah. Suasana Desa Tenganan pun bertambah ramai, bukan oleh wisatawan saja, tetapi juga karena banyak penduduknya yang pulang kampung. Oleh masyarakat setempat, upacara ini memang masih dianggap penting dan seluruh komponen masyarakat desa terlibat di dalamnya.

Saturday, October 16, 2010

Asal-usul Orang Terunyan di Bali

foto: tintin1868.multiply.com
Terunyan, di Bali dikenal dengan mayat-mayatnya yang tidak dikubur, namun tidak berbau. Bagaimana sejarah Orang Terunyan?

Orang Terunyan disebut orang Bali Aga, Bali Mula, atau Bali Turunan. Bali Aga artinya orang Bali Pegunungan, Bali Mula berarti Bali Asli. Nama Bali Aga diperoleh dari penduduk Bali lainnya, Bali Hindu yakni penduduk mayoritas di Pulau Bali. Bali Hindu adalah entitas kaum yang terkena pengaruh kebudayaan Jawa Majapahit.

Menurut Perbekel (Kepala Desa) Terunyan Ketut Sutapa (42),warga setempat lebih suka dengan sebutan Bali Turunan karena mereka percaya leluhur mereka ”turun” dari langit ke Bumi Terunyan.
Sebuah mitos (dongeng suci) tentang asal-usul penduduk Terunyan menguatkan kepercayaan itu.

Seperti dituturkan oleh Sutapa, leluhur perempuan mereka adalah seorang dewi yang turun ke desa itu. Rahim dewi ini dibuahi oleh Sang Surya hingga melahirkan anak kembar, salah satunya perempuan. ”Anak perempuan itu lalu kawin dengan seorang putra Raja Jawa (disebut Putra Dalem Solo). Raja itu datang ke Terunyan karena tertarik dengan bau harum yang dipancarkan sebatang pohon menyan yang tumbuh di desa ini. Dari dua insan itulah warga Terunyan berasal,” kata Sutapa.

Mitos itulah yang menerangkan asal-usul nama desa itu, sekaligus inti kepercayaan masyarakat Terunyan (Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali, Danandjaja, 1980).

Perihal keberadaan desa itu, para arkeolog memperkirakan Terunyan sudah ada sejak abad X Masehi. Dari prasasti Trunyan AI, misalnya, terekam adanya tulisan tahun 833 Saka yang menerangkan izin pembangunan satu kuil untuk Batara Da Tonta yang tidak lain adalah Ratu Sakti Pancering Jagat. Di Pura Terunyan, Ratu Sakti Pancering Jagat berupa batu raksasa setinggi sekitar 4 meter. Menurut arkeolog R Goris, batu itu adalah hasil seni patung gaya megalitik.

Danandjaja juga menyebut sejumlah alat batu paleolitik, seperti kapak perimbas, proto kapak genggam, kapak berimbas berpuncak, dan kapak berimbas pipih, dan itu semua pernah ditemukan ahli ilmu prasejarah RP Soejono sewaktu ia menjabat Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Cabang II Bedulu, Gianyar, Bali, tahun 1970-an. RP Soejono memperkirakan artefak berasal dari zaman Pleistosen Bawah (kira-kira 300.000 tahun lalu).

Dari sisi kehidupan religi, religiositas warga Terunyan dapatlah disebut sebagai sebuah versi berbeda dari Hindu pada umumnya di Bali. Dari luar memang terlihat adanya tata cara Hindu Bali, mulai dari bentuk pura. Namun, dewa yang dipuja adalah dewa-dewa asli Terunyan, terutama Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar. Warga Terunyan tak mengenal dewa-dewa yang berasal dari Hindu India, seperti Syiwa, Wishnu, dan Brahma.

Seperti diungkapkan Sutapa, ritual-ritual keagamaan di Terunyan berbeda dengan penganut Hindu di Bali. Salah satu contoh adalah ritual Nyepi. ”Pada hari Nyepi kami beraktivitas seperti biasa, memasak, bercengkerama, juga menyalakan listrik atau lampu,” kata Sutapa.

Ketika Nyepi malam hari, lampu-lampu penerangan warga Terunyan yang terletak di lembah timur Gunung Batur bak kunang-kunang yang berkedip jika dilihat dari Penelokan, sisi selatan Batur. Sebab, hampir seluruh Bali saat itu praktis tanpa penerangan.

Dari sekian pandangan, cara hidup, hingga ritual yang dilakukan warga Terunyan, cara pemakaman warga yang meninggal boleh dikatakan paling diingat orang tentang desa itu.

Warga setempat tidak mengebumikan atau membakar anggota komunitasnya yang meninggal dunia, tapi meletakkannya saja di atas tanah, di bawah udara terbuka. Adat pemakaman ini disebut mepasah. Ada tiga jenis pemakaman: sema wayah (bagi warga yang menikah dan meninggal secara wajar), sema nguda (untuk warga yang masih bujangan dan meninggal wajar), dan sema bantas (tempat pemakaman bagi mereka yang meninggal tidak wajar/salah pati). Sema bantas adalah mengubur jasad.
Cara pemakaman itu menjadi daya tarik bagi turis yang luar biasa sejak era 1970-an. Menurut salah satu pemandu wisata di Terunyan, Nengah Kama (34), desa itu pernah dikunjungi 1.000 turis dalam sehari.

Terdapat sembilan jasad yang diletakkan di sema wayah. Sebuah pohon kemenyan raksasa melingkupi pemakaman itu. Salah satu jasad masih berumur 20 hari. Mereka diletakkan dengan ditutupi kain kafan putih, ditutupi dengan tatanan irisan bambu. Tidak ada bau menyengat di area makam itu.

Danandjaja menyebut tradisi mepasah merupakan tradisi pra-Hindu, ditemukan di desa Bali Aga lain di Bali, seperti Sembiran di Kabupaten Buleleng dan Tenganan (Karangasem). Sejarawan Soekmono mencatat, tradisi itu pernah hidup di Prambanan (perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah sekarang) sebelum abad XIX.

Masyarakat Terunyan tak ingin disebut primitif, tapi lapang dada jika dibilang konservatif. Dan, tanpa lelah mereka berusaha mempertahankan entitas dan tradisi Bali Turunan.

sumber: cuplikan dari harian kompas