Showing posts with label sejarah bali kuno. Show all posts
Showing posts with label sejarah bali kuno. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Sejarah Agama Hindu di Bali

Sejarah agama Hindu di Bali masuk dalam periode ke-2 sejarah Bali. Periode sebelumnya atau periode pertama adalah Masa Pra Sejarah Bali. Sedangkan Periode 3 sejarah Bali yakni Masuknya Gajahmada ke Bali sampai zaman Kerajaan Klungkung (1343-1846) dan periode 4 yakni Bali di Zaman Belanda sampai Kemerdekaan. Semuanya saya upload di blog ini. Anda tinggal klik periode sejarah Bali yang mana yang diperlukan.

Sejarah dan perkembangan agama Hindu di Bali tidak terlepas dengan perkembangan agama Hindu di Jawa dan India, dan dalam sejarahnya mengalami sinkretisme dengan Buddha. Itu sebabnya agama Hindu di Bali dalam praktek tidak sama dengan Hindu India. Baiklah, akan saya uploadkan sejarah agama HIndu Bali lewat bukti-bukti sejarah berupa prasasti dan temuan-temuan lain. 

Bukti Prasasti di desa Pejeng, Gianyar
Sejarah dan perkembangan agama Hindu di Bali diduga dipengaruhi Jawa Tangah dan Jawa Timur. Diperkirakan Hindu masuk ke Bali sebelum abad ke-8 Masehi dengan bukti prasasti di desa Pejeng, Gianyar berbahasa Sanskerta. Ditinjau dari bentuk hurufnya diduga berasal dari zaman sama dengan meterai tanah liat yang memuat mantra Budha yang dikenal dengan "Ye te mantra", dan diperkirakan berasal dari tahun 778 Masehi. Baris pertama prasasti yang hampir pudar itu bertuliskan kata "Sivas.......ddh.......".  Ahli bernama Dr. R. Goris menduga kata itu kemungkinan : "Siva Siddhanta". Dengan demikian abad ke-8, Paksa (Sampradaya atau Sekta) Siwa Siddhanta sudah berkembang di Bali. Berkembangnya ajaran agama yang dianut oleh raja dan rakyat tentunya melalui proses yang cukup panjang, sehingga dapat dikatakan Hindu Sekte Siwa Siddhanta sudah masuk secara perlahan-lahan sebelum abad ke-2 hingga ke-8 Masehi. 

Bukti Arca Siwa di Pura Putra Bhatara Desa di Bedahulu, Gianyar
Bukti lainnya adalah arca Siwa di Pura Putra Bhatara Desa di Bedahulu, Gianyar, yang setipe dengan arca-arca Siwa di Candi Dieng yang berasal sekitar abad ke-8. Stutterheim menyebut berasal pada periode seni arca Hindu Bali. 

Bukti Prasasti Sukawana di Bangli
Prasasti yang memuat angka 882 Masehi ini menyebutkan tiga tokoh agama yaitu Bhiksu Sivaprajna, Bhiksu Siwa Nirmala dan Bhiksu Sivakangsita yang membangun pertapaan di Cintamani (di Kintamani), 
Itu artinya sudah ada sinkretisme antara Siwa dan Budha di Bali. Terjadinya sinkretisme antara penganut Siwa dan Buddhisme di Bali, semakin mencolok pada memerintahan Dharma Udayana Warmadeva yang mengakui dua agama tersebut. 


Pengaruh India: Maharesi Markendya
Secara tradisional disebutkan bahwa agama Hindu dikembangkan Maharsi Markandeya yang datang ke Bali dengan para pengikutnya membuka lahan pertanian. Daerah yang dituju awalnya di kaki Gunung Agung, kemudian pindah menuju arah Barat dan tiba di desa Taro, Gianyar. Beliau menanam Panca Datu (lima jenis logam) di Pura Agung Besakih, yang menurut Narendra Pandit Shastri (tahun 1957), Maharsi Markandeya mengajarkan agama Siwa di Bali dan mendirikan Pura Wasuki (Besukihan) yang merupakan cikal bakal perkembangan Pura Besakih sekarang ini. 

Pengaruh Buddha Mahayana 
Bersamaan dengan datangnya agama Hindu di Bali pada abad ke-8, ditemukan pula peninggalan yang menunjukkan masuknya agama Buddha Mahayana. Bukti masuknya agama Buddha Mahayana diketahui dari stupika-stupika tanah liat yang tersebar di daerah Pejeng Selatan, Tatiapi dan Blahbatuh, Gianyar. 

Sekitar abad ke-13 Masehi, berkembang pula sekte Bhairava dengan peninggalan berupa arca-arca Bhairava di Pura Kebo Edan desa Pejeng. Sekte ini kemungkinan berkembang sebagai akibat hubungan politis dengan kerajaan Singosari di Jawa Timur, pada masa pemerintahan raja Kertanegara. Berdasarkan data tersebut, ternyata awal kedatangan agama Hindu (Sivaisme) dengan Buddha (Mahayana) hampir bersamaan, yang kemudian agama Buddha Mahayana ini akhirnya melebur ke dalam agama Hindu yang saat ini diwarisi oleh masyarakat di Bali. 

Masa Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali.

Masa Bali Kuno merupakan masa tumbuh dan berkembangnya agama Hindu yang mencapai kejayaan pada abad ke-10, yang ditandai dengan berkuasanya raja suami istri yaitu Dharma Udayana Warmadewa dan Gunapriyadharmapatni. Pada masa ini terjadi proses Jawanisasi di Bali, yakni prasasti-prasasti berbahasa Bali Kuno digantikan dengan bahasa Jawa Kuno dan kesusastraan Hindu berbahasa Jawa Kuno dibawa dari Jawa dan dikembangkan di Bali. 


Masa Bali Kuno ini berakhir pada masa pemerintahan raja Astasura-ratnabhumibanten yang ditundukkan oleh ekspansi kerajaan Majapahit dibawah pimpinan mahapatih Gajah Mada. Pada masa Bali Kuno ini pertumbuhan agama Hindu demikian pesat. Pada masa pemerintahan raja Dharma Udayana, seorang pandita Hindu bernama Mpu Rajakerta menjabat Senapati i Kuturan (semacam perdana mentri) yang menata kehidupan keagamaan dengan baik dan terwarisi hingga sekarang. Saat itu sekte-sekte yang berkembang, yang menurut penelitian Dr. R.Goris (1926) jumlahnya ada 9 sekte, antara lain Siva Siddhanta, Pasupata, Bhairava, Vaisnava, Bodha (Soghata), Brahmana, Rsi, Sora (Surya) dan Ganapatya. Sedangkan pada beberapa lontar di Bali disebutkan 6 sekta yang disebutSad Agama, yang terdiri dari Sambhu, Brahma, Indra, Bayu, Wisnu dan Kala. 

Di antara keseluruhan, rupanya yang sangat dominan dan mewarnai kehidupan agama Hindu di Bali adalah Siva Siddhanta dengan peninggalan beberapa buah lontar (teks) antara lain: Bhuvanakosa, Vrhaspatitattva, Tattvajnana, Sang Hyang Mahajnana, Catur Yuga, Vidhisastra dan lain-lain. Mudradan Kutamantra yang dilaksanakan oleh para pandita Hindu di Bali dalam aktivitas ritual pelaksanaan Pujaparikrama bersumber pada ajaran Siva Siddhanta. 


Saat Senapati i Kuturan yang dijabat oleh Mpu Rajakerta, lebih dikenal dengan nama Mpu Kuturan, rupanya seluruh sekta tersebut dikristalisasikan dalam bentuk pemujaan kepada Tri Murti yang melandasi pembangunan Desa Krama (Pakraman) atau Desa Adat di Bali hingga kini. Fragmen-fragmen peninggalan sekta-sekta lainnya masih dapat ditemukan baik berupa peninggalan purbakala, karya sastra dan aktivitas ritual. 

Ketika Bali memasuki abad pertengahan (abad 14 sampai dengan 19 Masehi), di bawah hegemoni Majapahit, maka kehidupan dan tradisi Majapahit berpengaruh di Bali. Dalam kitab Negarakertagama disebutkan "Bhumi Balya i sacara lawan bhumi Jawa", yang menunjukkan bahwa pengaruh Majapahit dominan di Bali. Pada masa pemerintahan raja besar Waturenggong (Dalem Batrurenggong) di Gelgel, seorang penasehat raja bernama Danghyang Nirartha (Dwijendra) juga memegang peranan penting. Saat itu kehidupan agama diwarnai dengan perkembangan Siwaisme yang sangat dominan, di samping diakui pula eksistensi Buddhisme dengan tokohnya Danghyang Astapaka dan Vaisnava dengan tokohnya Mpu Mustika.

* Saya sarikan dari beberapa sumber, di antaranya balimediainfo.com dan wikipedia.com. 

Sejarah Bali Masa Pra Sejarah

Kali ini saya uploadkan sejarah Bali di masa Prasejarah. 

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :
  1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
  2. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
  3. Masa bercocok tanam
  4. Masa perundagian

Pada Masa berburu di tingkatan sederhana, orang-orang Bali berpindah-pindah tempat  Penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 menemukan alat-alat batu yang digolongkan kapak genggamkapak berimbasserut di Sambiran (Buleleng bagian timur), serta di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di Museum Gedong Arca di BeduluGianyarBukti-bukti yang ditemukan di Pacitan (Jawa Timur) dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan alat-alat batu dari Pacitansezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia. Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.

Masa berburu tingkat lanjut terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Gua ini terletak di pegunungan gamping di Semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah Gua Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. Dalam penggalian Gua Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.
Alat-alat semacam ini ditemukan pula di sejumlah gua Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding gua, yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya. Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga di antaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di Pulau Seram dan Papua, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.

Pada masa bercocok tanam pengumpulan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing). Temuan yang ada berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. 
Dari teori Kern dan teori Von Heine-Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. 
Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter).
Zaman perundagian, di masa neolithik manusia hidup menetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya bercocok tanam atau beternak. 
Penemuan kerangka manusia di Gilimanuk mencapai 100 buah, menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada masa ini telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Yakni mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). 
Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar.Temuan penting ialah batu berdiri (menhir) di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta, tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.
Bangunan-bangunan megalithik lain terdapat di Gelgel (Klungkung).Yakni arca menhir  di Pura Panataran Jro Agung,  dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

disarikan dari wikipedia