Showing posts with label Sejarah Walisongo. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Walisongo. Show all posts

Saturday, February 13, 2010

Sejarah Walisongo: Siapa Saja Walisongo Periode IV , V?

Kita telah membahas siapa saja anggota Walisongo Periode Pertama/Awal (I), , berikut siapa saja anggota Walisongo Periode II dan III.  Kini kita masuk dalam Walisongo periode IV dan V. 

Walisongo Periode IV 

Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Al-Maghrobi meninggal. Tahun 1466, diangkat pengganti mereka, yakni:

  1. Raden Hasan atau Raden Fattah (disebut juga Raden Patah). Raden Patah merupakan putra Raja Brawijaya, Majapahit dan murid Sunan Ampel. Ia diangkat menjadi Adipati Bintoro tahun 1462 M. Membangun Masjid Demak tahun 1465 dan menjadi Sultan/Raja Demak tahun 1468.
  2. Fathullah Khan yakni Putra Sunan Gunung Jati. Ia dipilih untuk membantu ayahnya yang telah berusia lanjut.

Walisongo Periode V: 
Pada periode ini, masuklah Raden Umar Said (Sunan Muria), Putra Sunan Kalijaga, menggantikan wali yang wafat.

Syeh Siti Djenar sesungguhnya juga Walisongo. Namun karena dianggap mengajarkan ajaran sesat, ia dihukum mati. Kedudukan Syeh Siti Jenar digantikan Adipati Pandanarang (Sunan Buyat alias Sunan Tembayat). *Alpha Savitri

Sejarah Walisongo: Siapa Saja Walisongo Periode II dan Periode III?

Walisongo sebenarnya bukan hanya sembilan orang sebagaimana yang kita kenal. Walisongo merupakan nama suatu dewan dakwah. Bila salah satu anggota dewan meninggal, akan dicari penggantinya. Setelah kita mengetahui siapa saja anggota Walisongo periode I, kini kita beralih ke Walisongo periode II dan III. Siapa saja mereka?

Inilah Walisongo Periode II:

1. Raden Ahmad Ali Rahmatullah, datang ke Jawa tahun 1421 menggantikan Malik Ibrahim yang wafat pada 1419. Raden Rahmat – begitu salah satu sebutannya – berasal dari Cempa (Thailand Selatan). Kelak ia dikenal sebagai Sunan Ampel.

2. Sayyid Ja’far Shoddiq, asal Palestina, tiba di Jawa tahun 1436 M. Dia tinggal di Kudus sehingga dikenal sebagai Sunan Kudus.

3. Syarif Hidayatullah (kelak disebut Sunan Gunung Jati), berasal dari Palestina. Tiba di Jawa tahun 1436 M, menggantikan Maulana Ali Akbar yang meninggal pada tahun 1435.

Sidang Walisongo kedua diadakan di Ampel Surabaya. Para wali berbagi tugas:

• Jawa Timur: Dikomandani Sunan Ampel (Raden Rahmat), Maulana Ishak, Maulana Jumadil Kubro.
• Jawa Tengah: Dikomandani Sunan Kudus, Syeh Subakir, dan Maulana Al-Maghrobi.
• Jawa Barat: Dikomandani Syarif Hidayatulloh, Maulana Hasanudin, Maulana Aliyudin.

Inilah Walisongo Periode III:

Walisongo periode III masuk pertama kali pada tahun 1463. Empat anggota Walisongo Periode III yang diputuskan dalam sidang yang berlangsung di Surabaya adalah:

  • Raden Paku alias Syeh Maulana Ainul Yaqin, yang kelak berubah nama menjadi Sunan Giri. Ia lahir di Blambangan dan merupakan Putra dari Syeh Maulana Ishak dengan Dewi Sekardadu (Putri Blambangan). Raden Paku menggantikan ayahnya yang pindah ke Pasai. Nama Sunan Giri disematkan padanya karena ia tinggal di Giri, Gresik. Makamnya juga di Gresik.
  • Raden Said (Sunan Kalijaga), lahir di Tuban, Jatim. Ia putra Adipati Wilatikta yang berkedudukan di Tuban. Ia menggantikan Syeh Subakir yang kembali ke Persia.
  • Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Ia lahir di Surabaya dan merupakan putra Sunan Ampel. Ia menggantikan Maulana Hasanuddin yang meninggal tahun 1462.
  • Raden Qasim (Sunan Drajad), kelahiran Surabaya, putra Sunan Ampel. Sunan Drajad menggantikan Maulana Aliyyuddin yang meninggal tahun 1462. *Alpha Savitri

Sejarah Walisongo: Siapa Saja Walisongo Periode I?

Umumnya, orang mengenal nama-nama Walisongo sbb:
  1. Syeh Maulana Malik Ibrahim
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Drajad
  6. Sunan Muria
  7. Sunan Kudus
  8. Sunan Kalijaga
  9. Sunan Gunung Jati.

Walisongo bukan hanya sembilan nama di atas. Walisongo sesungguhnya merupakan nama suatu dewan dakwah. Bila salah satu anggota dewan meninggal, akan dicari penggantinya.

Kitab Kanzul Ulum Ibnul Bathuthah yang penulisannya dilanjutkan Syeh Maulana Al-Maghrobi, Walisongo melakukan sidang 3 kali:

Tahun 1404 M: Terdapat sembilan wali
Tahun 1463 M: Masuk tiga wali mengganti yang meninggal
Tahun 1463 M: Masuk empat wali mengganti yang meninggal dan pergi.

Menurut KH. Dahlan Abd. Qahar, sebagaimana dilansir Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA dalam buku Kitab Walisongo, Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa, pada 1466 M, Walisongo melakukan sidang, di antaranya membahas Syeh Siti Jenar, meninggalnya dua wali yakni Maulana Muhammad Al maghrobi dan Maulana Ahmad Jumadil Qubro, serta masuknya dua wali menjadi walisongo.

Walisongo Periode I
Sultan Muhammad I dari Kerajaan Turki mengetahui di Pulau Jawa terdapat dua kerajaan besar yakni Majapahit dan Pajajaran. Beberapa penduduknya di pesisir, yang menikah dengan pedagang Gujarat beragama Islam. Sultan mengirim surat pada penguasa Afrika Utara dan Timur Tengah untuk mengirim utusan ke Pulau Jawa. Berikut ini mereka yang dikirim ke Jawa pada 808 Hijriah atau 1404 M:

  1. Maulana Malik Ibrahim asal Turki. Keahlian: Tata Negara. Lokasi Dakwah: Jawa bagian Timur. Meninggal di Gresik tahun 1419 M.
  2. Maulana Ishak, berasal dari Samarkan, dekat Burhara, Rusia Selatan. Keahlian: Pengobatan. Dia tidak menetap di Jawa, pindah ke Singapura (Pasai) dan meninggal di sana.
  3. Maulana Ahmad Jumadil Qubra asal Mesir. Dia berdakwah keliling. Makamnya di Troloyo, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
  4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, asal dari Maghrib (Maroko). Berdakwah keliling, Meninggal  tahun 1465 M. Makamnya di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
  5. Maulana Malik Isroil asal Turki. Keahlian: Tata Negara. Meninggal tahun 1435 M, dimakamkan di Gunung Santri, Cilegon.
  6. Maulana Muhammad Ali Akbar, asal Persia (Iran). Keahlian: pengobatan. Meninggal tahun 1435, makamnya di Gunung Santri.
  7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina, berdakwah keliling. Meninggal 1462 M. Makamnya di samping Masjid Banten Lama.
  8. Maulana Aliyuddin, asal Palestina, berdakwah keliling. Meninggal 1462 M. Makamnya di samping Masjid Banten Lama.
  9. Syeh Subakir asal Persia, ahli menumbali tanah angker yang dihuni jin jahat. Jin akan menyingkir dan tanah tersebut dijadikan pesantren. Kembali ke Persian tahun 1462 M, meninggal di sana.
(Di Blitar terdapat peninggalan Syeh Subakir berupa sajadah yang terbuat dari Batu Kuno. Salah satu pengikut dan sahabat Syeh Subakir meninggal dan dimakamkan di sebelah utara Pemandian Penataran, Blitar). *Alpha Savitri


(Walisongo Periode selanjutnya, lihat posting artikel saya selanjutnya di blog ini).